TRIBUNKALTIM.CO, TANA PASER - Ketua Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Paser, Kalimantan Timur Kasrani Latief, mengajak masyarakat menjadikan momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah sebagai pengingat untuk meningkatkan budaya literasi, khususnya di wilayah desa dan kelurahan.
Menurutnya, semangat pengorbanan dan berbagi yang melekat pada Idul Adha dapat diperluas maknanya menjadi berbagi ilmu dan akses bacaan bagi sesama.
"Idul Adha adalah tentang berkorban untuk hal yang lebih besar. Kalau kita korbankan sedikit waktu dan rezeki untuk menyediakan buku, mendirikan pojok baca, atau mengajar anak-anak membaca, itu juga bentuk kurban sosial. Kurban untuk masa depan desa," terang Kasrani, Kamis (28/5/2026).
Menurutnya, rendahnya minat baca di beberapa desa di Bumi Daya Taka masih menjadi tantangan yang harus diatasi bersama.
"Momentum hari besar keagamaan seperti Idul Adha bisa dimanfaatkan untuk mengintegrasikan kegiatan literasi dengan kegiatan sosial keagamaan," tambahnya.
Baca juga: GOR Sadurengas Direhab Besar-besaran Sambut Paser ITTC 2026
Kasrani beranggapan, panitia kurban di desa bisa menyisipkan pembagian buku bacaan anak, dongeng, atau bahan edukasi bersamaan dengan pembagian daging kurban.
Selain itu, masjid dan musala dapat difungsikan sebagai ruang baca sederhana setelah kegiatan ibadah.
"Literasi bukan hanya tugas guru dan pustakawan. Orangtua, tokoh agama, pemuda, semua punya peran. Kalau semangat gotong royong Idul Adha kita arahkan untuk membangun taman baca desa, dampaknya akan terasa jangka panjang," imbuhnya.
Ia menilai, penguatan budaya literasi di lingkungan desa penting dilakukan untuk memperluas wawasan generasi muda sekaligus membangun kualitas sumber daya manusia di daerah.
Siapkan Program Buku Kurban Ilmu
Ketua GPMB Paser turut mengapresiasi desa-desa yang sudah menginisiasi perpustakaan desa dan rumah baca mandiri.
Baca juga: DPRD Paser Apresiasi WTP ke-13 Kali Berturut-turut, Siap Perkuat Fungsi Pengawasan Keuangan Daerah
Ia berharap setelah Idul Adha, semakin banyak komunitas dan kelompok pemuda yang bergerak menghidupkan ruang baca di lingkungan masing-masing.
Menurutnya, gerakan literasi di desa tidak hanya memperluas akses bacaan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial.
"Dengan adanya ruang baca, anak-anak dapat tumbuh dengan wawasan lebih luas, sementara orang tua dan tokoh masyarakat bisa berperan sebagai fasilitator pengetahuan," tegasnya.
Ke depannya, GPMB Paser berencana menggelar program bertajuk "Buku Kurban Ilmu" pasca-Idul Adha yang akan menjangkau wilayah pedesaan.
"Program ini akan mengumpulkan dan mendistribusikan buku layak baca ke desa-desa dampingan, sehingga manfaat Idul Adha tidak hanya dirasakan dalam bentuk daging kurban, tetapi juga dalam bentuk ilmu pengetahuan," pungkas Kasrani. (*)