TRIBUNMANADO.CO.ID - Kehadiran Persma Manado dan Bolsel FC di kancah sepak bola nasional tidak lepas dari komitmen dan upaya Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling (YSK), dalam memajukan olahraga di tanah Nyiur Melambai.
Hal tersebut diungkapkan oleh Staf Khusus Gubernur Sulawesi Utara di Bidang Olahraga sekaligus Manager Persma Manado, Christian Yokung, saat hadir sebagai narasumber Podcast di Kantor Tribun Manado, Jalan AA Maramis, Kairagi 1, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara, Kamis (28/5/2026).
Podcast yang dipandu oleh jurnalis Tribun Manado, Rhendi Umar ini mengangkat tema, Persma 1960 & Bolsel FC Bertarung di Liga 4 Nasional.
Tiba pada sore hari saat cuaca Kota Manado dalam kondisi suam-suam kuku, Christian Yokung tampil dengan gaya elegan.
Ia mengenakan kemeja lengan pendek putih bermotif yang dipadukan dengan celana jeans panjang warna hitam serta sepatu Nike berwarna biru putih.
Dalam podcast tersebut, Christian Yokung menyebut, keberhasilan Persma dan Bolsel FC menembus kompetisi nasional adalah buah dari kepemimpinan Gubernur YSK yang memiliki visi besar terhadap dunia olahraga.
"Lolosnya Persma dan Bolsel FC ke kancah Sepak Bola Nasional merupakan mimpi yang tertunda setelah 10 Tahun. Dan ini memang berkat tangan dingin seorang Gubernur Sulut Yulius Selvanus Komaling," terang Christian Yokung.
Menurutnya, Yulius Selvanus Komaling adalah sosok Gubernur yang bukan hanya sekadar hobi olahraga, namun juga memiliki keinginan yang kuat untuk memajukan olahraga di Bumi Nyiur Melambai.
Dirinya menilai atmosfer dan antusiasme masyarakat dalam menyambut kebangkitan sepak bola Sulut saat ini persis sama dengan kondisi 10 tahun yang lalu.
Hanya saja, pada satu dekade silam, dukungan dari pemerintah daerah tidak sebesar sekarang.
Mengingat pengalamannya yang juga pernah dipercayakan sebagai manajer klub sepak bola 10 tahun lalu, ia mengakui bahwa saat itu euforia masyarakat memang tinggi, namun klub harus berdikari dan berjuang sendiri tanpa dukungan dari pemerintah.
Perubahan besar baru dirasakan pada tahun 2026 ini melalui perhatian penuh dari Gubernur YSK.
"Kenapa? Karena memang industri sepak bola itu kalau hanya kita berjuang sendiri, itu agak susah. Baik dari cabang olahraganya, pengurus organisasi hingga ke bawah. Tapi jika ini bisa berkolaborasi dengan pemerintahan nah ini yang akan lebih cepat. Dan itu terbukti. Beliau (YSK) memberikan perhatian lebih, bahkan hak prerogatifnya dipakai sampai tingkat nasional supaya kompetisi ini bisa diadakan," papar Yokung.
Keberhasilan kompetisi Piala Gubernur Sulut kemarin terbukti mendapat antusias yang besar oleh masyarakat Sulawesi Utara.
"Durasi kegiatan yang panjang dan konsistensi penonton yang selalu memadati stadion, bahkan di hari biasa maupun saat berbenturan dengan perayaan besar seperti Paskah, adalah bukti," terang dia.
Selain itu, menurutnya, turnamen Liga 4 ini juga berhasil memunculkan talenta-talenta lokal serta menarik minat pemain dari luar daerah seperti Maluku dan Gorontalo untuk datang bertanding di Sulawesi Utara.
Yokung juga menegaskan bahwa seluruh kompetisi berjalan objektif sesuai standar PSSI. Dalam hal ini, dirinya menepis anggapan adanya pengaturan juara.
"Jadi tidak ada setingan bahwa Persma dan Bolsel FC sengaja diloloskan untuk jadi juara. Bolsel FC bahkan tidak diperkirakan bisa lolos," ujar dia.
Lebih jauh ia menjelaskan, sebagai Staf Gubernur Sulut dirinya tahu betul rencana Gubernur YSK.
"Kita ketahui bersama banyak klub yang mati suri di Sulawesi Utara, sepak bola itu betul-betul meredup, itu kita bisa melihatnya dari sisi prestasi. PON juga yang kemarin kita enggak ada, enggak lolos."
"Saya pikir ini jadi konsentrasi beliau saat beliau menganalisa persepakbolaan Sulawesi Utara, dengan begitu beliau (YSK) langsung melakukan beberapa strategis termasuk salah satunya menghidupkan kembali Persma yang sudah mati suri. Nah sebenarnya Persma ini dihadirkan sebagai pemantik supaya klub-klub lain di Sulawesi Utara juga bisa hidup kembali," terang dia.
Liga 4 Indonesia, adalah kompetisi kasta keempat dalam sistem liga sepak bola Indonesia.
Kompetisi ini diselenggarakan oleh Asosiasi Provinsi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Asprov PSSI) dan musim pertamanya dimulai pada tahun 2024.
Fase Kabupaten atau Kota
Setiap kabupaten atau kota menyelenggarakan liga yang diselenggarakan oleh asosiasi PSSI kabupaten atau kota masing-masing. Liga ini diikuti oleh klub-klub amatir tanpa batasan peserta, dengan format kompetisi yang berbeda-beda, tergantung pada jumlah klub di setiap kabupaten atau kota.
Tim yang lolos dari fase ini akan melaju ke fase provinsi.
Fase Provinsi
Setiap provinsi menyelenggarakan liga provinsi yang diselenggarakan oleh asosiasi PSSI provinsi masing-masing.
Pesertanya terdiri dari asosiasi PSSI provinsi serta tim-tim yang lolos dari fase kabupaten dan kota. Tim-tim yang lolos dari fase provinsi akan melaju ke fase nasional.
Fase Nasional
Tahap pertama: 64 tim dibagi menjadi enam belas grup yang masing-masing beranggotakan 4 tim.
Setiap grup dimainkan dalam turnamen kandang. Pemenang dan runner-up setiap grup melaju ke babak kedua.
Tahap kedua: 32 tim yang merupakan pemenang dan runner-up dari setiap grup tahap pertama. Mereka dibagi menjadi delapan grup yang masing-masing terdiri dari 4 tim dan setiap pemenang dan runner-up melaju ke babak ketiga.
Tahap ketiga: 16 tim dibagi menjadi empat grup. Setiap grup dimainkan dalam format turnamen kandang. Sama seperti tahap sebelumnya, pemenang dan runner-up setiap grup melaju ke babak keempat.
Tahap keempat: 8 tim dibagi menjadi dua grup. Pemenang dari setiap grup melaju ke final dan promosi ke Liga Nusantara. Peringkat kedua dan ketiga setiap grup juga promosi ke Liga Nusantara.
Final: 2 pemenang grup dari babak keempat bertanding di pertandingan final. Final dimainkan sebagai satu pertandingan.
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini