Smart Geprek, Upaya Warga Gandaria Utara Jaksel Sulap Sampah Jadi Cuan
Feryanto Hadi May 28, 2026 08:21 PM

 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Ramadhan L Q 


WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Di sudut permukiman padat RT 11 RW 07, Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tumpukan sampah plastik yang biasanya dianggap tak bernilai kini mulai dipandang berbeda oleh warga. 

Botol bekas, tutup plastik, hingga limbah dapur rumah tangga perlahan diubah menjadi sumber manfaat dan harapan baru bagi lingkungan sekitar.

Berbekal semangat gotong royong, warga setempat mengembangkan alat pengolahan sampah plastik berbasis teknologi sederhana bernama “Smart Geprek”. 

"Nantinya ini kan kami ubah menjadi sesuatu yang mengasyikkan ya biar orang itu buang sampah itu minimal nanti kami ubah menjadi berkah gitu, lho, menjadi cuan. Kami sudah koordinasi dengan pengusaha untuk pengepul ya sampah ya yang bisa kami produksi kembali gitu kan. Nantinya dia juga koordinasi sama kami dan juga dari LHK, lingkungan hidup, itu juga bisa ikut kolaborasi dengan kami juga," kata Ketua RT 11 RW 07, Imam Basori, Kamis (28/5/2026).

"Kami akan terapkan hal-hal yang mengasyikkan ya. Minimal masyarakat kami membuang sampah itu sesuatu yang asik dan bernilai manfaat ya ada nilai ekonomi juga. Nah di situ nanti kami membuat namanya insyaallah kami membuat namanya Smart Geprek ya," sambungnya.

Alat tersebut dirancang untuk membantu proses penghancuran sampah plastik berupa botol dan tutup botol dengan menggunakan sistem dinamo dan gearbox agar proses pengolahan menjadi lebih cepat dan efisien.

Imam mengatakan, inovasi itu lahir dari keresahan warga terhadap persoalan sampah rumah tangga yang terus meningkat setiap hari.

Pihaknya juga berencana melibatkan sekolah-sekolah sekitar melalui edukasi tentang pentingnya memilah sampah dan menjaga lingkungan sejak dini.

"Smart Geprek itu jadi kayak contoh nih ada tutup botol, botol-botol kalau seumpama manual kan kadang diginiin aja ya digeprek geprek geprek gitu kan kadang pakai tenaga manusia yang pakai alat, jadi kami nanti menggunakan sistem dinamo yang teknologinya pakai seperti itu," kata dia.

"Minimal kami nanti akan sosialisasi juga setelah kami terapkan di sini ke lingkungan dan juga nantinya kami coba menggandeng sekolahan juga yang nantinya bisa sekolahan kan penting juga ya menjaga lingkungan," lanjut Imam.

Menurut dia, pengolahan sampah dilakukan melalui kolaborasi dengan pengepul serta instansi lingkungan hidup agar hasil pengolahan dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai guna.

Tak hanya fokus pada sampah plastik, warga juga mengembangkan pengolahan limbah dapur menjadi kompos. 

Mereka menargetkan proses produksi kompos dapat berlangsung lebih singkat dibandingkan metode konvensional yang biasanya memakan waktu hingga hampir satu bulan.

"Nah terus kembali lagi kami kelola. Terus nantinya contoh sampah dapur rumah tangga ya kami buat nanti kompos juga. Jadi kami ubah nanti kalau dipakai sistem yang konvensional kan dia sampai 28 hari baru bisa panen ya untuk komposnya," tutur dia.

Bagi warga Gandaria Utara, inovasi sederhana tersebut bukan sekadar soal teknologi. 

Lebih dari itu, upaya tersebut menjadi langkah kecil untuk membangun kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari rumah sendiri.

"Untuk pilah sampah ini target utama ya karena menjadi concern pemerintahan kita ya, minimal syukur-syukur alat yang kami lakukan nanti kami hasilkan nanti bisa jadi sampling (contoh) buat yang lain termasuk sistem keamanan seperti ini ya. Alhamdulillah semua Polsek-Polsek instruksikan kemarin sudah ada instruksi dari Pak Kapolda semua Kapolres maupun Kapolsek supaya wilayah-wilayah di RT-RT yang wilayah binaan mereka bisa menerapkan sistem keamanan yang sudah kami lakukan jadi contoh dan juga amal jariyah kita buat masyarakat lain ya," katanya.

Imam berharap alat pengolahan sampah yang dikembangkan di lingkungannya dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Jakarta dalam mengatasi persoalan sampah berbasis partisipasi masyarakat.

"Insyaallah ini alatnya sudah kami beli kemarin, sudah kami buat untuk beli dinamo dan gearbox-nya. Jadi kami sudah buat ini kemarin sudah kami otak-atik ya di lapangan nanti dalam waktu cepat ini kami akan lakukan untuk pembuatan seperti itu," ujar dia.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno mendatangi RT 11/RW 07, Kelurahan Gandaria Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026).

Dalam kehadirannya tersebut, Rano apresiasi inovasi sistem keamanan berbasis teknologi yang diterapkan warga RT 11/RW 07 itu hingga jadi juara sistem keamanan lingkungan (siskamling) tingkat DKI Jakarta.

Menurutnya, sistem itu layak dicontoh wilayah lain di Jakarta guna meningkatkan keamanan lingkungan, khususnya di kawasan permukiman.

“Kalau sistem ini bisa diterapkan di setiap gang saja, minimal wilayah itu aman,” ujar Rano saat mengunjungi lokasi, dalam sambutannya, Rabu (27/5/2026).

Rano menegaskan, keamanan Jakarta tak hanya bergantung oleh aparat, tapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. 

Ia menilai keberhasilan sistem keamanan di wilayah tersebut lahir dari kekompakan dan kemauan warga untuk menjaga lingkungannya.

“Kami bersyukur selama satu tahun di Jakarta ini, ternyata yang menjaga Jakarta itu adalah masyarakatnya. Enggak ada gunanya tentara, polisi, tapi kalau masyarakat Jakartanya enggak care,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan Pemprov DKI Jakarta siap membantu mencarikan dukungan corporate social responsibility (CSR) guna mendukung pengembangan fasilitas keamanan di wilayah tersebut.

“Mudah-mudahan ini kalau bisa dicontoh, artinya Mas siap dong untuk memberikan pelatihan? Kita undang beberapa kampung, kita terapkan sistem ini," katanya.

Dalam kunjungannya itu, ia juga mengaku teringat masa awal produksi serial “Si Doel Anak Sekolahan”.
 
“Waktu saya bikin pertama ‘Si Doel’, saya enggak punya uang. Punya uang tapi enggak mungkin cukup untuk membuat enam episode. Sementara pemain saya pemain mahal. Yang murah cuma Mandra aja,” ucapnya, sembari berkelakar.

“Makanya pertama kali waktu saya ketemu Benyamin, saya enggak ngomong honor. Saya tanya, ‘Be, tolongin saya’,” sambungnya.

Hal tersebut dikaitkannya dengan Ketua RT 11/RW 07, Imam Basori atau akrab disapa Ibas.

"Saya yakin Mas Imam ini pertama kali ketemu tokoh masyarakat di sini, enggak minta sumbangan, tapi ‘tolong bantu saya’,” katanya.

“Kalau sumbangan tapi enggak punya jiwa di sini, enggak jadi apa-apa,” lanjut Rano.

Menurut dia, keberhasilan membangun sistem keamanan kampung bukan semata soal dana, melainkan rasa memiliki dan kemauan bersama dari warga.

“Mudah-mudahan ini kalau bisa dicontoh. Artinya mas siap dong untuk memberikan pelatihan?” tambah Rano.

Diketahui, RT 11/RW 07 Gandaria Utara mengembangkan sistem “Si Jaga Warga” yang mencakup pengeras suara malam di enam titik, panic button, QR patroli, hingga akses CCTV yang dapat dipantau warga melalui telepon seluler. 

Sistem itu digagas Ketua RT setempat, Imam Basori atau Ibas. (m31)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.