Tanggapi Kebakaran Misterius di Sleman, Pakar di Bidang Teknik Kimia Jelaskan Unsur Segitiga Api
Yoseph Hary W May 29, 2026 01:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Pakar di Bidang Teknik Kimia UGM, Prof. Ir. Chandra Wahyu Purnomo, M.Eng., D.Eng., IPM. menanggapi fenomena munculnya api di rumah warga di Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman.

Unsur segitiga api

Menurutnya, kebakaran dapat terjadi karena ada unsur segitiga api, yaitu bahan bakar, udara atau oksigen dengan kadar tertentu, dan sumber api.

Diketahui, sejak pertama muncul pada Jumat malam (22/5/2026) lalu, hingga kini telah tercatat lebih dari 40 kali api muncul secara acak di beberapa sudut rumah milik Agus Yani tersebut. 

Munculnya api misterius yang tidak diketahui sumber pemantiknya tersebut membuat keluarga di rumah itu tidak tenang. Pasalnya, lengah sedikit saja, api yang muncul jika tidak segera dipadamkan bisa mengakibatkan kebakaran fatal. 

Tim gegana sudah mengecek dan menduga titik api misterius itu muncul karena ada kebocoran gas metana dari septictank.

Namun setelah pembongkaran dan pembersihan septic tank, api masih muncul berkali-kali di rumah tersebut, membakar barang seperti kusen pintu, kain handuk, sofa bahkan pralon pipa air, di waktu yang berbeda-beda. 

Menanggapi peristiwa munculnya api di rumah warga Seyegan itu, Prof Chandra mengatakan tiga unsur segitiga api berupa bahan bakar, udara atau oksigen dengan kadar tertentu, dan sumber api, harus terpenuhi untuk terjadi kebakaran.

Ia menilai, kebakaran yang terjadi di rumah tersebut bisa jadi akibat adanya beberapa gas. Sebab, gas metana yang terjebak di ruangan tertutup umumnya menimbulkan ledakan.

"Dan itu ada range persenannya, sekitar 5-15 persen. Juga harus terpenuhi segitiga api, ada oksigen atau udara, ada pemicu kebakarannya juga, misal puntung rokok, kompor, atau korek, atau mungkin stop kontak," katanya, Kamis (28/5/2026).

"Kalau metan yang terkumpul di ruang tertutup, kemudian tersulut, biasanya ledakan. Tetapi kan di rumah itu ada pemotongan ayam ya, kemungkinan ada campuran-campuran gas tertentu, yang tidak hanya metan," sambungnya.

Kemungkinan ada gas selain metana

Selain metana, ada kemungkinan gas lain yang terbentuk seperti amonia, NH3, H2S. Namun, gas tersebut dapat tercium.

Selain gas-gas tertentu yang terbentuk karena septictank, perlu juga bahan-bahan kimia yang ada di sekitar rumah.

Prof Chandra menyebut ada beberapa bahan kimia yang mungkin uapnya dapat berbahaya, seperti peroksida, klorin, dan lain-lain.

Uap dari bahan kimia tersebut dapat menambah potensi kebakaran.

"Kemungkinan tidak hanya limbah domestik, tidak hanya limbah rumah tangga, jadi mungkin lebih kompleks, apalagi kalau pakai desinfektan yang kemudian mengalir ke septictank. Bisa jadi campuran-campuran itu menyebabkan slow ignition (pembakaran lambat yang menjadi pemicu kebakaran)," terangnya.

Tidak hanya dari sisi gas, jalur listrik juga perlu dicek. Ada kemungkinan kabel mengelupas atau lembab yang bisa menjadi pemicu kebakaran.

Menurut dia, teror api yang menyebabkan kebakaran berkali-kali tersebut cukup menarik untuk diteliti. 

"Menarik sih sebenarnya untuk diteliti, tetapi kalau personal dosen kan harus ada mekanisme yang perlu dilalui, termasuk pendanaannya. Mungkin pengabdian masyarakat bisa juga itu," imbuhnya. 

Teror api belum berakhir

Rentetan kemunculan api misterius di sebuah rumah warga di Dusun Mriyan X, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman belum juga berakhir hingga Kamis 28 Mei 2026.

Dilaporkan, sudah lebih dari 40 kali api muncul secara acak dan membakar pelbagai perabot di dalam rumah berlantai dua tersebut.

Api membakar barang yang ditaruh di gagang pintu kamar tengah.

Barang tersebut berupa handuk merah, yang kemudian terbakar dan jatuh ke lantai. 

Hasil cek Tim Gegana

Hasil pengecekan dari Tim Gegana Polda DIY, rentetan kebakaran ini diduga kuat dipicu oleh akumulasi kebocoran gas metana di bawah tanah yang telah menyebar luas di bawah keramik lantai rumah korban.

Kasihumas Polresta Sleman, Iptu Argo Anggoro, menyampaikan ancaman kemunculan titik api di dalam rumah ini masih berpotensi terjadi hingga beberapa pekan ke depan.

"Berdasarkan keterangan Tim Gegana yang sudah disampaikan kepada pemilik rumah, gas metana ini sementara masih berpotensi muncul dalam kurun waktu sekitar satu minggu hingga satu bulan pasca-penanganan. Karena gas sudah menyebar di bawah lantai," jelas Argo, Kamis (28/5/2026).

Terpisah, Kapolsek Seyegan, AKP Pujiono, menyampaikan fakta baru yang cukup mengejutkan terkait sifat dari fenomena ini.

Kata dia, berdasarkan analisis Tim Gegana, karakteristik gas metana yang sudah terakumulasi di dalam bangunan ini sangat sensitif.

Gas tersebut tidak memerlukan pemantik api langsung untuk terbakar, melainkan dapat menyala akibat terpicu listrik statis di sekitar lokasi. 

"Terakhir tadi malam pukul 23.00 WIB sempat muncul lagi. Namun, sejak tengah malam hingga siang ini, api dilaporkan belum muncul kembali," katanya. 

Pujiono memastikan bahwa fenomena teror api ini terlokalisasi dan rumah yang berada persis di sebelahnya dalam kondisi aman.

Sementara untuk kerugian materiil, pihak kepolisian belum melakukan pendataan mendalam karena masih fokus pada aspek keselamatan. (MAW)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.