Di Depan Macron, Prabowo Sebut Telah Minta Pembelajaran Bahasa Prancis di Indonesia Diperkuat
Febri Prasetyo May 29, 2026 01:36 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto mengatakan telah menginstruksikan peningkatan pembelajaran bahasa Prancis di sekolah-sekolah Indonesia seiring dengan meningkatnya kemitraan kedua negara.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam pernyataan pers bersama Presiden Macron di Istana Élysée, Paris, pada Kamis, (28/5/2026).

“Sekarang saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Prancis melihat perkembangan dunia ke depan,” kata Prabowo.

Kepala Negara mengatakan bahwa kerja sama Indonesia dan Prancis saat ini terus meningkat di sejumlah sektor. Termasuk yang akan dibahas dalam kunjungan kali ini mulai dari pertahanan, energi, pendidikan, hingga perdagangan.

“Kita dalam hari ini saya kira akan membahas beberapa isu-isu penting, kerjasama di bidang pertahanan, energi bersih, pendidikan, research, dan pelaksanaan perjanjian Indonesia-EUCEPA,” katanya.

Prabowo mengatakan bahwa hubungan Indonesia dengan Prancis sekarang ini berada di titik terbaik. Presiden berterima kasih kepada Macron yang ikut membantu mempercepat peningkatan kerja sama kedua negara.

“Kita ingin tingkatkan kerja sama ini, meningkatkan investasi di kedua negara,” katanya.

Gerindra: Kunjungan Prabowo ke Prancis perkuat diplomasi

Juru bicara (jubir) Partai Gerindra Sugiat Santoso menyebut bahwa penilaian perjalanan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri sebagai pemborosan anggaran merupakan bentuk cara pandang parsial dari pihak tertentu. 

Dia menjelaskan kunjungan Prabowo itu adalah strategi Kepala Negara dalam memperkuat hubungan diplomatik Indonesia dengan negara sahabat.  

Misalnya, dalam mengonversi keunggulan komoditas nikel hingga posisi geopolitik Indonesia di kancah internasional. 

Baca juga: Tiga Kali ke Prancis dalam Setahun, Prabowo: Hubungan Indonesia-Prancis Sedang di Titik Terbaik

"Indonesia tidak sekadar berkunjung. Pak Prabowo sedang mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik kita menjadi investasi nyata dan benteng keamanan sebelum jendela peluang global ini tertutup," kata Sugiat dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (28/5/2026). 

Sugiat menjelaskan paradigma politik luar negeri bebas-aktif Presiden Prabowo adalah diplomasi ofensif, yaitu sebuah strategi membangun hubungan luar negeri yang proaktif dalam memperjuangkan kepentingan nasional. 

Dia mengatakan diplomasi ofensif dijalankan dalam merespons serta mengantisipasi krisis.

Artinya, kata dia, Presiden prabowo mengambil inisiatif untuk menetapkan agenda, membangun aliansi, dan memberikan tekanan strategis agar negosiasi berjalan sesuai tujuannya. 

"Prabowo melangkah lebih awal sebelum didikte oleh negara lain. Dia mengambil posisi tegas dalam menyatakan kedaulatan, posisi politik, dan membela warga negaranya dengan terukur," katanya. 

Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI ini menuturkan ada 3 negara Eropa yang dikunjungi oleh Presiden Prabowo di Akhir Mei 2026 ini, yaitu Prancis, Austria, dan Hungaria.  

Ketiga Negara ini memiliki posisi strategis yang dibutuhkan Indonesia. 

Menurutnya, Prancis punya kekuatan militer dan teknologi terbesar di Eropa Barat yang tidak menjual sistem persenjataan canggih atau memberikan komitmen strategis hanya karena pembeli memiliki uang. 

"Kedekatan politik yang dibangun bertahap melalui kunjungan berulang adalah syarat mutlak dalam bekerja sama dengan Macron," katanya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.