Arsenal mendapat peringatan keras dari Patrice Evra bahwa Paris Saint-Germain akan “menghancurkan” mereka jika tidak mampu “bermain sepak bola yang lebih baik” di final Liga Champions. Menurut mantan bek timnas Prancis itu, raksasa Ligue 1 tersebut berpotensi mencetak lima gol dalam dua final Eropa berturut-turut. Inter Milan sudah menjadi korban pada 2025, dan kini juara baru Liga Primer Inggris tersebut bersiap menghadapi tantangan kontinental paling berat.
Arsenal menuju final Liga Champions pertama sejak 2006
The Gunners berhasil mencapai final Liga Champions pertama mereka sejak 2006 tanpa terkalahkan sepanjang perjalanan. Mikel Arteta kini berharap bisa membawa timnya mencatat sejarah di Budapest dengan merebut trofi klub paling bergengsi di tanah Hungaria.
Namun, PSG bertekad merusak pesta itu. Klub asal Paris tersebut berambisi meniru pencapaian Real Madrid era Zinedine Zidane antara 2015 hingga 2018, menjadi tim kedua di era modern yang mampu mempertahankan gelar Liga Champions secara beruntun.
PSG memiliki lini serang menakutkan
Raksasa Ligue 1 tersebut memiliki daya gedor luar biasa dengan trio penyerang Ousmane Dembele, Desire Doue, dan Khvicha Kvaratskhelia. Arsenal yang hanya kebobolan 27 gol selama musim Liga Primer 2025-26, harus memastikan pertahanan mereka tetap solid jika ingin menjaga peluang meraih gelar ganda bersejarah.
Patrice Evra, yang pernah membawa Manchester United tampil di tiga final Liga Champions dalam empat tahun antara 2008 hingga 2011 — memenangkan satu dan kalah dua kali — memahami betapa sulitnya melewati garis akhir untuk menjadi juara Eropa, setelah beberapa kali menghadapi kekuatan Lionel Messi dan Barcelona.
Apakah Arsenal cukup kuat untuk menahan PSG?
Mantan bek timnas Prancis itu khawatir tim dari negaranya akan terlalu tangguh bagi Arsenal. Dalam wawancara dengan GOAL, bekerja sama dengan Stake, saat ditanya apakah penampilan Arsenal sebaik rekor mereka, Evra menjawab: “Tidak, tidak, tidak, mungkin saya berbicara terlalu cepat, tapi kali ini bukan soal Arsenal, ini tentang PSG.”
“Saya pikir PSG sedang mendominasi dunia sepak bola, dan saya berharap Arsenal akan bermain terbuka. Karena jika mereka bertahan total seperti biasanya, PSG akan mencetak lima gol seperti yang mereka lakukan saat melawan Inter di final. Saya benar-benar terkejut, karena mereka (Inter) adalah ahli dalam Catenaccio. Di Italia, sejak lahir mereka sudah diajarkan soal Catenaccio.”
“Namun jika PSG menurunkan semua pemain terbaik mereka — jika Ousmane Dembele dan yang lainnya fit — mereka akan menghancurkan Arsenal. Tapi kita tidak pernah tahu. Sekarang mereka (Arsenal) sudah menjuarai Liga Primer. Bahkan bagi para penggemar Arsenal, jujur saja, memenangkan Liga Champions akan menjadi bonus. Saya rasa mereka tidak akan terlalu kecewa jika kalah di final ini, karena pekerjaan utama sudah selesai, yaitu memenangkan Liga Primer. Mereka menunggu selama 22 tahun. Itu pencapaian terbesar. Jika mereka menjuarai Liga Champions, itu hanya akan menjadi lapisan manis di atas kue.”
“Namun, melihat performa PSG di semifinal melawan Bayern Munich dibandingkan semifinal antara Arsenal dan Atletico Madrid, dan jangan salah, ini hanya satu pertandingan final, apa pun bisa terjadi. Tapi gaya bermain dan cara PSG mengalahkan Inter menunjukkan bahwa jika Mikel Arteta tidak punya rencana untuk membuat timnya bermain lebih baik, mereka tidak akan punya peluang. Jika mereka hanya bertahan, mereka tidak akan bisa memenangkan pertandingan.”
“Namun sekali lagi, apa pun bisa terjadi. Favorit saya untuk pertandingan ini, dengan segala rasa hormat dan cinta kepada Arsenal, tetap PSG. Tapi seperti yang saya katakan, PSG juga kalah di Piala Dunia Antarklub melawan Chelsea. Jadi dalam satu pertandingan, segalanya bisa terjadi.”
Rekor terkini Arsenal melawan PSG
Musim lalu, Arsenal tersingkir di semifinal Liga Champions setelah kalah agregat 3-1 dari PSG dalam dua leg. Namun, mereka sebelumnya berhasil mengalahkan tim asuhan Luis Enrique 2-0 di Stadion Emirates pada fase grup kompetisi tersebut.
Hasil itu menunjukkan bahwa Arteta memiliki formula untuk menundukkan tim-tim terbaik dunia. Kini, pelatih asal Spanyol itu harus menemukan rencana baru yang bisa meredam ancaman Dembele dan rekan-rekannya, sambil memberi ruang bagi pemain seperti Bukayo Saka dan Martin Odegaard untuk tampil maksimal di lini depan.