Momentum Iduladha Tidak Hanya Ritual dan Tradisi, tapi Juga Berbagi
GH News May 29, 2026 11:09 PM
Jakarta -

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan esensi Iduladha yang tidak cuma ritual dan tradisi, tetapi juga berbagi kepada sesama.

Perayaan Idul Adha dinilai Menag tidak sekadar menjalankan ritual ibadah, melainkan momentum saling berbagi, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kebahagiaan yang sama.

"Iduladha ini sebetulnya identik dengan bulan berbagi. Kita berharap melalui momentum ini, semua orang bisa mencicipi gizi hewani, baik melalui jalur ibadah kurban maupun skema bantuan sosial seperti yang kita lakukan, salah satunya di Masjid Istiqlal ini," ujar Menag Nasaruddin Umar seperti dikutip dari Antara, Jumat (29/5/2026).

Dari semangat berbagi itu, daging hewan kurban dibagi-bagi kepada mereka yang membutuhkan. Menurut Menag, semangat berbagi tidak hanya datang dari umat Muslim, tetapi juga masyarakat non-Muslim.

Dari puluhan hewan yang diterima masjid Istiqlal, sebagian di antaranya merupakan sumbangan dari masyarakat umum dan institusi keagamaan lain, termasuk Gereja Katedral Jakarta.

"Banyak teman kita yang non-Muslim juga menyerahkan hewan kurban. Bahkan, hampir separuh dari total hewan yang ada berasal dari masyarakat umum yang mungkin niatnya tidak dimasukkan sebagai kurban secara syariat Islam. Kami sangat mengapresiasi toleransi dan kepedulian sosial ini," kata Menag.

Dalam Islam, ibadah kurban memang diwajibkan bagi umat Muslim yang mampu. Sebelum mulai menyembelih hewan kurban, seorang Muslim mesti memahami tata cara penyembelihan hewan kurban.

Banyak pondok pesantren membekali santrinya dengan pengetahuan menyembelih hewan kurban. Salah satunya Pondok Pesantren Darul Amanah Sukorejo di Kendal. Para santri di sini dibekali keterampilan praktis sekaligus pemahaman fikih yang mendalam mengenai penyembelihan hewan kurban yang sah, ihsan, dan higienis.

Para santri tidak hanya mendapatkan materi secara Teoretis (Fikih Qurban), tetapi juga praktik langsung mulai dari teknik merebahkan hewan tanpa menyakiti, mengasah bilah pisau hingga ketajaman maksimal, hingga teknik menyembelih sekali sayatan.

"Santri tidak hanya harus pandai mengaji di dalam kelas, tetapi juga harus cekatan dan tahu ilmu praktis saat diterjunkan ke masyarakat. Mengurus hewan qurban adalah salah satu khidmah (pengabdian) nyata yang pasti dihadapi santri saat pulang ke kampung halaman nanti," ujar KH. Muhammad Fatwa, pimpinan Darul Amanah.

Ada setidaknya tiga aspek penting dalam penyembelihan hewan kurban, yaitu aspek Syariat: Memastikan tiga saluran (saluran napas/tenggorokan, saluran makanan, dan dua pembuluh darah) putus dengan sempurna sekali sembelih.

Aspek Kesejahteraan Hewan (Kesrawan), yaitu memperlakukan hewan dengan lembut, tidak memamerkan pisau tajam di depan hewan, dan teknik merebahkan yang aman bagi hewan maupun petugas.

Terakhir, ada aspek kesehatan dan kehigienisan, yaitu menjaga kebersihan area penyembelihan dan alat agar daging qurban yang dihasilkan bersih dan sehat (Thayyib).

Setelah mendapat pengetahun tersebut, diharapkan para santri akan membawa manfaat bagi umat, serta mampu menjadi pelopor pelaksanaan ibadah qurban yang sesuai dengan standar syariat dan kesehatan di daerah asal mereka masing-masing.

Wahyu Setyo Widodo
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.