Dugaan Penyebab Satu Keluarga Tewas Dalam Tenda Di Wisata Posong Temanggung: Keracunan Barbeque
Dedi Qurniawan May 30, 2026 01:36 AM

POSBELITUNG.CO  - Aparat kepolisian akhirnya mengungkap sejumlah temuan mengejutkan terkait kasus kematian tragis satu keluarga saat berkemah di kawasan wisata alam Posong, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Satu keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri beserta dua anak laki-lakinya itu ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa di dalam tenda mereka pada Rabu (26/5/2026).

Keempat korban yang teridentifikasi dalam insiden memilukan ini adalah Ali Munawar (52), Magfirah (43), Bagas Amar Hakiki (21), dan Alfino Evan Hakiki (16).

Kronologi Penemuan Jasad Korban di Area Camping

Rombongan keluarga tersebut diketahui tiba di lokasi wisata menggunakan mobil Honda Jazz RS pada Selasa (25/5/2026) sekitar pukul 22.00 WIB untuk bermalam.

Keesokan harinya, tepat pada Rabu siang sekitar pukul 11.45 WIB, petugas wisata berniat meminta para pengunjung melakukan proses checkout karena area tenda akan dibersihkan.

"Petugas wisata memberi tahu korban untuk segera check out karena ingin membersihkan tenda, tapi tidak ada jawaban," ungkap pihak kepolisian menceritakan awal mula kecurigaan petugas.

Karena tidak kunjung mendapat respons, beberapa jam kemudian petugas wisata kembali mendatangi tenda tersebut dan langsung membuka resleting pintunya.

"Setelah dibuka pintu terlihatlah keempat korban sudah kaku di lokasi kejadian," kata Kasat Reskrim Polres Temanggung Iptu I Komang Mahendra Putra, Kamis (27/5/2026).

Indikasi Kuat Keracunan Makanan Barbeque

Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara, pihak kepolisian menduga kuat satu keluarga ini mengembuskan napas terakhir akibat keracunan makanan.

Dugaan medis tersebut menguat setelah petugas di lapangan menemukan kondisi mulut keempat korban dalam keadaan mengeluarkan busa.

Di samping itu, penyidik juga mengamankan sejumlah sampel makanan sisa pesta barbeque milik korban yang tertinggal di area sekitar perkemahan.

"Indikasi awal kemungkinan (keracunan), kemungkinan dari makanan barbeque yang dibawa sendiri oleh korban," imbuh Iptu Komang.

Seluruh sampel makanan barbeque yang ditemukan kini telah disita dan sedang diperiksa secara intensif di laboratorium forensik Polda Jateng.

Kondisi Tenda Rapi dan Tangan Jenazah Menggenggam

Polisi memastikan bahwa tidak ditemukan adanya tanda-tanda bekas kekerasan fisik atau penganiayaan pada sekujur tubuh keempat korban.

Meski demikian, aparat kepolisian menegaskan tetap menunggu hasil uji laboratorium forensik keluar secara resmi untuk memastikan penyebab utama kematian.

Hal unik yang ditemukan petugas saat mengevakuasi korban adalah kondisi bagian dalam tenda yang masih tampak sangat rapi.

Iptu Komang menyampaikan, saat pertama kali ditemukan oleh petugas, posisi jari-jemari tangan dari keempat jenazah tersebut dalam keadaan menggenggam.

"Hasil pemeriksaan unit inafis dan tim medis dari Puskesmas Kledung, kondisi camping atau tenda rapi, keempat jenazah tidak terdapat tanda-tanda kekerasan, kondisi keempat tangan jenazah menggenggam," ujarnya.

Duka Mendalam Kampus UGM dan Sosok Korban yang Dermawan
Salah satu korban, Bagas Amar Hakiki, diketahui merupakan mahasiswa berprestasi Program Studi Bahasa dan Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta angkatan 2022.

Seorang kerabat dekat korban bernama Asadi menuturkan bahwa almarhum Bagas sebenarnya ditargetkan akan melaksanakan prosesi wisuda pada Agustus 2026 mendatang.

"Skripsinya hampir selesai, tapi Allah berkehendak lain dengan musibah ini, sementara Alfino Evan Hakiki aktif dalam olahraga taekwondo," ungkap Asadi dengan nada sedih.

Pihak akademika UGM juga langsung merilis ucapan duka cita mendalam atas kepergian mendadak salah satu mahasiswa terbaik mereka di media sosial.

"Telah berpulang kepada Sang Pencipta Bagas Amar Hakiki pada hari Rabu, 27 Mei 2026, segenap Keluarga Besar Bahasa dan Sastra Prancis, Fakultas ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada mengucapkan turut berduka cita atas bepulangnya almarhum kehadapan-Nya, atas kembalinya beliau, semoga almarhum dapat menerima rida di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta pihak keluarga dapat mengikhlaskannya," tulis akun Instagram resmi @Prancis.ugm.

Di sisi lain, sosok sang ayah, Ali Munawar yang berprofesi sebagai pedagang, dikenal luas oleh tetangga sekitar sebagai pribadi yang sangat dermawan.

Bahkan sebelum berangkat berkemah, Ali sempat menyerahkan satu ekor kambing kurban untuk disembelih pada Hari Raya Idul Adha di wilayahnya.

Seorang kerabat lain bernama Faeruddin membenarkan kebaikan Ali Munawar yang kerap menyerahkan hewan kurban ke musala Dusun Bendosari.

"Meski hanya seminggu sekali datang ke Bendosari, tapi almarhum terkenal kebaikannya, ramah, dan jiwanya yang guyub rukun," ujarnya memberikan kesaksian, Kamis (27/5/2026) siang.

Faeruddin menambahkan bahwa Ali biasanya datang ke Bendosari hanya untuk menengok kebun buah alpukat dan anggur miliknya.

"Tidak hanya mas Ali, satu keluarga itu orangnya ramah-ramah, anak-anaknya juga baik," ungkapnya mengenang kehangatan keluarga tersebut.

Meskipun memiliki aset lahan di Bendosari, dalam kehidupan sehari-hari keluarga Ali Munawar sebenarnya berdomisili di Temenggungan, Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Tim DVI Polda Jateng Lakukan Autopsi Menyeluruh

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, menjelaskan bahwa Tim DVI Polda Jateng diturunkan langsung untuk melakukan autopsi jenazah guna memastikan penyebab klinis kematian.

Proses medis tersebut kini tengah berjalan di RSUD Temanggung dan hasilnya akan menjadi rujukan utama dalam proses penyelidikan lanjutan.

Pada waktu yang bersamaan, Tim Bidang Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng juga masih menyisir area sekitar lokasi perkemahan.

“Proses autopsi sedang berproses di RSUD Temanggung untuk menentukan penyebab kematian dari peristiwa tersebut, hari ini pula sedang dilakukan olah TKP oleh tim Bid Labfor Polda Jateng, hasilnya kami masih lakukan analisis sebagai bagian dari penyelidikan,” kata Kombes Artanto.

Pihak kepolisian menegaskan tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan akhir sebelum seluruh hasil uji forensik dan autopsi dirilis secara resmi ke publik. (Tribun Jateng/ Tribun Medan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.