Kisah Sahabat Menggunting Dalam Lipatan di Balik Pembunuhan di Sumsel, Selingkuh dengan Istri Pelaku
Juang Naibaho May 30, 2026 01:55 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Peribahasa "menggunting dalam lipatan" mewarnai peristiwa tragis pembunuhan di Kabupaten Empat Lawang, Sumatra Selatan (Sumsel).

Persahabatan Idham Dermawan (35) dan Agmi (35) berakhir dengan darah yang membasahi dapur rumah Idham pada Kamis (28/5/2026) dini hari sekira pukul 00.30 WIB. 

Agmi merupakan warga Desa Babatan, Kecamatan Lintang Kanan. Sedangkan Idham bersama istrinya, Pipin Desmini, tinggal di Desa Gunung Meraksa Lama, Kecamatan Pendopo.

Agmi tewas di dapur rumah Idham akibat jalinan cinta segitiga. Perselingkuhan Agmi dan Pipin terendus oleh Idham, yang membuat dirinya gelap mata.

Idham tak menyangka sahabat karibnya, Agmi, tega menggunting dalam lipatan. Menjalin hubungan gelap dengan istrinya.

Kerap Menumpang Tidur di Rumah Idham

Di mata Idham, Agmi bukanlah sekadar tetangga desa atau kenalan biasa. 

Korban dikenal sebagai sosok teman lama yang sangat dekat dengan keluarga pelaku. 

Saking eratnya hubungan tersebut, Idham kerap mempersilakan Agmi bertamu hingga larut malam. 

Bahkan, korban sering menumpang tidur dan menginap di kediaman pelaku. 

"Saya kenal, malah dekat. Dia itu teman saya dari lama, pernah menginap dan tidur di rumah saya," kenang pelaku, Idham, saat rilis kasus di Polres Empat Lawang.

Namun, kebaikan dan kepercayaan yang diberikan Idham diduga disalahgunakan.

Tingginya intensitas pertemuan di rumah tersebut justru melahirkan benih-benih cinta segitiga. 

Hubungan terlarang antara Agmi dan Pipin Desmini akhirnya terendus oleh Idham melalui aplikasi pesan singkat. 

Komunikasi Lewat Facebook Messenger

Berdasarkan keterangan Kabag Ops Polres Empat Lawang, Kompol Nusirwan, dalam konferensi pers Jumat (29/5/2026), peristiwa ini bermula dari kecurigaan Idham terhadap gelagat istrinya. 

Pelaku mencium adanya hubungan gelap setelah menduga istrinya sering bertukar pesan dengan Agmi melalui aplikasi Facebook Messenger. 

Idham sempat menyita ponsel milik istrinya untuk membaca isi percakapan tersebut. 

Namun, usaha pertamanya gagal karena aplikasi meminta proses pemulihan chat yang terlindungi oleh PIN keamanan. 

Tak kehabisan akal, Idham kemudian menyusun rencana dengan mengirimkan pesan rindu kepada korban menggunakan ponsel sang istri. 

Tak lama berselang, korban merespons dengan melakukan panggilan video (video call). 

Di bawah ancaman Idham, Pipin terpaksa mengangkat panggilan video tersebut.

Dalam percakapan itu, Agmi yang telanjur didera rasa rindu mengaku ingin datang berkunjung. 

Bagi Agmi, bertandang ke rumah Idham di tengah malam bukanlah hal yang aneh karena ia sudah terbiasa dengan lingkungan rumah sang sahabat. 

Faktor "teman akrab" inilah yang membuat kewaspadaan korban hilang sepenuhnya terhadap jebakan maut yang tengah menantinya. 

Usai komunikasi tersebut, pelaku memancing korban agar segera datang ke rumahnya. 

Begitu Agmi tiba, Idham menyuruh istrinya untuk membukakan pintu belakang bagian dapur. 

Begitu melangkah masuk, Agmi mendapat serangan brutal dari sahabatnya yang sudah gelap mata. 

"Saat korban tiba di rumah tersebut, pelaku menyuruh istrinya membukakan pintu belakang bagian dapur. Setelah istrinya berlari ke ruang tamu, korban yang baru masuk ke dapur langsung ditombak oleh pelaku,” ungkap Nusirwan. 

Korban sempat mencoba membela diri dengan mengeluarkan senjata tajam miliknya. 

Namun, Agmi kalah cepat. Pelaku menyerang secara bertubi-tubi dengan menikam tubuh korban berkali-kali menggunakan pisau hingga korban ambruk dan tewas di tempat. 

“Setelah memastikan korban tewas, pelaku melarikan diri ke arah Kota Lubuklinggau,” kata Nusirwan. 

Pelaku Menyerahkan Diri 

Pelarian Idham tidak berlangsung lama. Keesokan harinya, pelaku akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri kepada pihak kepolisian. 

Langkah ini diambil setelah aparat berhasil membujuk pihak keluarga pelaku guna menghindari aksi balas dendam dari keluarga korban. 

Keberadaan pelaku yang kini telah diamankan dibenarkan oleh Kasi Humas Polres Empat Lawang, Iptu Ariyanto. “Iya benar, pelaku sudah menyerahkan diri kepada pihak kepolisian,” ujarnya. 

Saat ini pelaku telah ditahan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. 

Di hadapan penyidik, Idham secara blak-blakan mengakui semua perbuatannya.

Meski menyadari bahwa membunuh adalah tindakan yang salah dan harus menjebloskannya ke dalam tahanan, ada rasa lega yang ia ungkapkan. 

“Puas hati karena tidak ada lagi rasa penasaran, tapi saya mengakui jika saya salah membunuh itu salah, tidak sengaja saya melakukan itu,” ucap Idham. (*/tribunmedan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.