TRIBUNGAYO.COM - Kabar gembira bagi para pecinta astrofotografi dan pengamat langit.
Sepanjang bulan Juni 2026, langit malam akan menyajikan panggung pertunjukan kosmik yang luar biasa.
Berbagai fenomena astronomi yang menakjubkan diprediksi akan bergantian menghiasi langit.
Menjadikannya momen yang sangat dinantikan baik oleh para astronom profesional, amatir, maupun masyarakat awam.
Beberapa fenomena astronomi yang diperkirakan menghiasi langit bumi antara lain hujan meteor, konjungsi planet terang, hingga fase Bulan yang unik.
Fenomena-fenomena ini tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memahami dinamika tata surya secara langsung.
Menariknya, beberapa fenomena astronomi tersebut bisa disaksikan secara langsung di Indonesia dengan mata telanjang, terutama jika kondisi langit cerah dan minim polusi cahaya.
Agar tidak terlewatkan, berikut fenomena astronomi Juni 2026 yang dikutip dari laman In The Sky.
Hujan Meteor Arietid menjadi salah satu hujan meteor paling aktif di siang hari.
Fenomena ini mencapai puncaknya pada 7 hingga 8 Juni 2026, dengan jumlah meteor yang bisa mencapai puluhan per jam.
Meskipun dikenal sebagai hujan meteor siang hari, beberapa meteor Arietid masih berpeluang terlihat menjelang fajar di ufuk timur.
Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah sebelum Matahari terbit, saat langit masih cukup gelap.
Fenomena konjungsi antara Venus dan Jupiter akan terjadi pada 8 hingga 9 Juni 2026.
Kedua planet terang ini akan tampak sangat berdekatan di langit barat setelah Matahari terbenam.
Jarak kedua planet ini hanya sekitar satu derajat atau setara dengan lebar satu jari kelingking jika dilihat dengan tangan terentang.
Fenomena ini dapat diamati tanpa alat bantu dan menjadi salah satu konjungsi paling mencolok sepanjang tahun 2026.
Peristiwa titik balik matahari atau summer solstice akan terjadi pada 21 Juni 2026. Fenomena ini menandai saat matahari berada pada posisi paling utara di langit.
Di belahan bumi utara, fenomena ini menjadi hari terpanjang dalam setahun.
Di Indonesia yang berada dekat garis khatulistiwa, perubahan durasi siang dan malam tidak terlalu signifikan namun tetap menjadi penanda penting dalam kalender astronomi.
Fenomena bulan purnama stroberi atau strawberry moon akan terjadi pada 29 Juni 2026.
Nama ini berasal dari tradisi masyarakat di Amerika Utara yang mengaitkannya dengan musim panen stroberi.
Bulan purnama kali ini juga masuk kategori micromoon, yaitu saat Bulan berada di titik terjauh dari bumi atau apogee.
Akibatnya, ukuran bulan terlihat sedikit lebih kecil dibandingkan purnama pada umumnya, meskipun tetap tampak terang dan indah di langit malam. (*)
Baca juga: Pink Moon dan Hujan Meteor Lyrid akan Menghiasi Langit Malam April 2026
Baca juga: April 2025 Terjadi Fenomena Langit Hujan Meteor Lyrid & Pink Moon, Apakah Bisa Dilihat di Indonesia?