TRIBUNNEWSMAKER.COM - Mimpi Arsenal untuk mengangkat trofi Liga Champions kembali harus kandas, sementara Paris Saint-Germain (PSG) justru menorehkan sejarah dengan cara yang begitu dramatis pada Minggu (31/5/2026) dinihari di Puskas Arena, Budapest, Hungaria..
Dalam laga final yang berlangsung penuh tensi dan emosi di Puskas Arena, Budapest, Hungaria, PSG sukses mengalahkan Arsenal dan berhasil mempertahankan gelar juara setelah melewati pertandingan sengit yang membuat jutaan pasang mata terpaku hingga peluit akhir berbunyi.
Kemenangan ini sekaligus memperpanjang kutukan Arsenal yang belum mampu meraih mahkota tertinggi sepak bola Eropa meski tampil impresif sepanjang musim.
The Gunners julukan klub Arsenal kembali dipaksa menelan pil pahit ketika harapan besar para pendukung runtuh di momen paling menentukan.
Di sisi lain, PSG menunjukkan mental juara dengan bangkit menghadapi tekanan dan situasi sulit sepanjang pertandingan.
Gol-gol krusial, drama menegangkan, hingga aksi heroik para pemain menjadi warna dalam keberhasilan klub asal Prancis tersebut.
Keberhasilan ini menegaskan dominasi PSG di panggung Eropa sekaligus mengukuhkan status mereka sebagai kekuatan baru Liga Champions.
Sementara itu, Arsenal harus kembali menunggu dan berharap kutukan yang membayangi mereka suatu hari dapat berakhir.
Baca juga: Sosok Bart Ramselaar, Disebut Calon Pemain Persib Bandung, Pesepakbola Gacor Jebolan PSV dan Utrecht
Seperti diketahui, hasil final Liga Champions, PSG berhasil mengalahkan Arsenal melalui adu penalti pada Minggu (31/5/2026) dinihari di Puskas Arena, Budapest, Hungaria.
Sejarah belum berpihak kepada Arsenal untuk merengkuh trofi Liga Champions pertama mereka.
Dua penendang penalti The Gunners, Eze dan Gabriel Magalhaes gagal menjalankan tugasnya. Tendangan Eze melebar, sementara Gabriel melambung ke atas mistar gawang.
Dengan kemenangan ini, PSG di bawah asuhan Luis Enrique mengikuti jejak Real Madrid dengan meraih gelar Liga Champions secara beruntun.
Ini adalah trofi kedua bagi PSG setelah memenangkannya musim lalu.
Arsenal memulai pertandingan. Laga belum satu menit, lini pertahanan PSG mendapat cobaan dari situasi bola mati Arsenal menyusul pelanggaran Hakimi terhadap Trossard.
Tapi bola sundulan Gabriel hanya menghasilkan tendangan gawang.
PSG kemudian mendominasi permainan dengan melakukan umpan-umpan pendek di lini pertahanan mereka untuk memancing para pemain Arsenal melakukan presing.
Pada menit keenam, pencetak gol di final Liga Champions tahun 2021, Kai Havertz mencatatkan namanya di papan skor pertandingan.
Berawal dari clearence Marquinhos yang membentur Trossard, bola berbalik arah ke area pertahanan PSG dan kemudian didapatkan oleh Havertz.
Mantan pemain Chelsea itu kemudian menggiring bola ka kotak penalti dan melepaskan tembakan keras dari jarak dekat yang gagal diantisipasi Safonov.
Skor 1-0 untuk keunggulan Arsenal.
Untuk diketahui, Kai Havertz menjadi pemain ketiga yang mencetak gol di dua final Liga Champions untuk dua klub berbeda, Chelsea dan Arsenal setelah Cristiano Ronaldo (Man United dan Real Madrid), dan Mario Mandzukic (Munchen dan Juventus).
PSG yang tertinggal satu gol menguasai permainan di antar lini dan posisi. Tim asuhan Luis Enrique mengalirkan bola dengan cepat dari antarpemainnya.
Pada menit ke-11, Gabriel melakukan clearence gemilang dengan menggagalkan peluang Kvaratskhelia di kotak penalti.
Dua menit berselang, PSG kembali melakukan percobaan.
Umpan terobosan Nuno Mendes mengarah ke Fabian Ruiz yang berlari menerobos antar lini pertahanan Arsenal.
Ia kemudian melepaskan umpan mendatar, namun gagal dikonversikan menjadi gol karena tidak ada pemain PSG di kotak 16 pass.
Hingga menit ke-15 Arsenal unggul 1-0 atas PSG.
Tak ada peluang yang tercipta setelah itu sampai interval babak pertama pada menit ke-23.
PSG semakin menguasai pertandingan, mendominasi penguasaan bola dalam tempo yang lama, namun mereka belum berhasil menciptakan peluang emas pertama di laag ini.
Lini pertahanan Arsenal di berbagai sisi bermain dengan stabil dan solid sejauh ini.
Pada menit ke-25, laga sempat terhenti karena insiden yang dialami kiper PSG, Safonov.
Berawal dari umpan silang Saka dari sisi kanan, Trossard melakukan tekanan kepada Marquinhos di sisi tengah kotak penalti.
Marquinhos yang hendak menghalau bola di saat bersamaan berbenturan dengan kepala Safonov yang keluar dari areanya.
Safonov mendapatkan tindakan medis dan laga terhenti untuk beberapa menit sebelum akhirnya dilanjutkan kembali.
Pada menit ke-36, Dembele coba melepaskan tembakan percobaan dari sudut kotak penalti di sisi kanan.
Tendangan kaki kiri mantan pemain Barcelona itu dapat diblok oleh Gabriel Magalhaes.
Arsenal tak banyak melakukan upaya di sepertiga akhir lapangan karena ketika mendapat momentum jumlah pemain mereka tak lebih banyak daripada pemain PSG.
Opsi pemain dan ruang minim sehingga berhasil dikuasai oleh pemain PSG.
Tim asuhan Mikel Arteta lebih bertahan.
Sementara di sisi peamin PSG yang berada dalam tekanan bermain dengan kontak fisik. Nuno Mendes melakukan pelanggaran terhadap Saka, dan Hakimi terhadap Havertz.
Jelang jeda turun minum, PSG memiliki peluang dari sundulan Fabian Ruiz dari jarak dekat di kotak penalti. Namun sayang, bola sundulannya masih melambung di atas mistar gawang Raya.
Di masa injury time, Havertz memiliki peluang untuk menggandakan keunggulan Arsenal. Dia terlepas dari adangan pemain PSG untuk masuk ke kotak penalti.
Tapi sayang, tembakan jarak dekatnya dapat diblok oleh Marquinhos.
Enam menit tambahan waktu berakhir, Arsenal mampu mempertahankan keunggulan satu gol atas PSG.
Di babak kedua, tidak banyak perubahan yang terjadi. PSG masih menguasai pertandingan. Jumlah operan sukses tim asuhan Enrique mencapai 365 operan, sedangkan Arsenal hanya 84.
Penguasaan bola PSG pun jauh mengungguli Arsenal.
Menariknya, Arsenal hanya kalah satu kali dari 117 pertandingan terakhir di semua kompetisi ketika mereka unggul di babak pertama.
Tim asuhan Arteta memenangkan 101 pertandingan, dan meraih 15 hasil imbang menurut statistik Opta.
Sedangkan PSG belum memenangkan satu pun pertandingan dari delapan pertandingan musim ini ketika mereka tertinggal di babak pertama. Catatannya imbang 3 kali dan 5 kali kalah. Tanda kepanikan?
Tapi, dalam 10 menit awal babak kedua, anak asuh Arteta, telah mendapat dua kartu kuning, yakni Mosquera dan Saka. Hal ini akan menimbulkan kekhawatiran dan kehati-hatian jika tidak ingin bermain dengan pemain yang lebih sedikit daripada PSG.
PSG mendapat situasi bola mati dari jarak ideal di depan kotak penalti Arsenal menyusul pelanggaran Saka terhadap Doue.
Tendangan set-piece Hakimi langsung mengarah ke gawang namun dapat ditangkap oleh Raya.
Pada menit ke-62, PSG mendapat hadiah penalti dari wasit, Daniel Sibert menyusul pelanggaran Mosquera terhadap Kvaratskhelia.
Daniel sempat menunggu konfirmasi wasit VAR sebelum memastikan keputusannya menunjuk titik putih penalti.
Dembele yang maju sebagai eksekutor penalti PSG sukses menjalankan tugasnya.
Tendangan mendatarnya ke sisi kiri gagal dibaca Raya yang bergerak ke sisi kanan.
Skor 1-1 untuk kedua tim (65').
Tekanan kini beralih ke sisi Arsenal. Mau tidak mau, anak asuh Arteta harus berani bermain dan keluar dari penguasaan bola para pemain PSG.
Setelah gol tersebut, Artetalangsung melakukan pergantian pemain dengan menarik Mosquera dan memainkan Jurrien Timber.
Viktor Gyokers juga masuk untuk menggantikan Odegaard.
Tiga menit setelah interval kedua, PSG mencari peruntungan dari tendangan jarak jauh Vitinha.
Tembakan yang tepat sasaran itu hanya melambung tipis di atas mistar gawang Raya.
Pada menit ke-77, PSG menciptakan peluang dari skema serangan balik. Kvaratskhelia berhasil melewati adangan Saliba dan masuk ke kotak penalti.
Namun sayang, tembakan Kvaratskhelia yang mengenai kaki Lewis-Skelly masih membentur mistar gawang.
Empat menit berselang, Arteta kembali melakukan pergantian pemain. Madueke dan Martinelli masuk menggantikan Saka dan Trossard.
Luis Enrique juga melakukan pergantian, Kvaratskhelia keluar dengan memainkan Barcola.
Barcola langsung mendapat peluang dari skema serangan balik. Ia mampu melewati Timber di sisi kiri.
Namun karena kontrol bola yang terlalu cepat, Raya dapat memblok peluang tersebut ketika keluar dari area permainannya.
Jelang waktu normal berakhir, Vitinha kembali memberi ancaman ke gawang Raya. Tendangan plesingnya melambung tipis di atas gawang Arsenal.
Di masa injury time babak kedua, Dembele keluar dan digantikan dengan Goncalo Ramos.
Laga imbang 1-1 sampai tambahan 6 menit babak kedua berakhir. Pertandingan berlanjut ke tambahan waktu 2x15 menit.
Arteta melakukan pergantian di babak tambahan waktu pertama, Zubimendi dan Eze masuk menggantikan Lewis-Skely dan Kai Havertz.
Pada fase ini, permainan kedua tim lebih berimbang. PSG tak cukup kuat melakukan serangan tanpa Dembele dan Kvaratskhelia yang menjadi andalan selama ini.
Sementara Arsenal bermain lebih percaya diri dengan masuknya para pemain utama.
Declan Rice dan Mikel Arteta mendapat kartu kuning dari wasit setelah melakukan protes berlebihan.
Hal itu menyusul insiden Nuno Mendes yang menjatuhkan Madueke di kotak penalti. Namun wasit Daniel Siebert tidak melakukan tinjauan melalui tayangan VAR.
Laga kemudian berlanjut ke perpanjangan waktu kedua karena tidak ada gol yang tercipta.
Di awal babak, Vitinha tertatih-tatih keluar lapangan. Ia digantikan dengan Beraldo, dan Zabarnyi menggantikan Marquinhos.
Arsenal masih kesulitan menembus pertahanan PSG yang lebih mendominasi penguasaan bola.
Tak banyak peluang Arsenal dalam babak ini, dan pertandingan berlanjut ke adu penalti.
Di adu penalti, Arsenal kalah 3-2 dari PSG.
PSG
Safonov, Hakimi, Marquinhos, Pacho, Nuno Mendes, Joao Neves, Vitinha, Fabian Ruiz, Doucore Doure, Dembele, Kvaratskhelia.
Pelatih: Luis Enrique
Arsenal
Raya, Hincapie, Gabriel Magalhaes, Saliba, Mosquera, Lewis-Skelly, Declan Rice, Saka, Odegaard, Trossard, Kai Havertz.
Pelatih: Mikel Arteta
(TribunNewsmaker.com/Tribunnews.com/Sina)