TRIBUNNEWS.COM - Tidak sedikit yang menilai hasil yang dialami Arsenal di final Liga Champions atas PSG adalah cara kekalahan yang paling kejam.
Pada laga final Liga Champions yang telah berlangsung di Puskas Arena, Budapest, Minggu (31/5) dinihari WIB tersebut, Arsenal sejatinya mampu menahan gempuran dari sang juara bertahan.
Tim asuhan Mikel Arteta mencetak gol lebih dulu lewat tendangan Kai Havertz (6'), sebelum disamakan Ousmane Dembele melalui titik penalti pada menit ke-65.
Sepanjang laga, tim asuhan Unai Emery tidak henti-hentinya memegang kendali permainan. Penguasaan bola PSG jauh mengungguli Arsenal, yakni 72 persen berbanding 28 persen dari statistik UEFA.
Opta menilai bahkan lebih rendah jika diambil rata-rata keseluruhan yang hanya mencapai 24,7 persen.
Angka itu menjadi yang terendah yang pernah dicapai oleh sebuah tim dalam final Liga Champions sejak musim 2003/2004.
Tidak ada gol tambahan yang tercipta hingga waktu normal 2x45 menit berakhir, begitu juga di masa extra time 2x15 menit.
Pemenang ditentukan melalui adu penalti, dan Arsenal kalah di babak adu nasib ini.
David Raya sukses menepis bola tembakan Nuno Mendes, tetapi dua eksekutor Arsenal, Eze dan Magalhaes gagal menjalankan tugasnya. Laga berakhir dengan skor 4-3 untuk kemenangan PSG.
Hasil ini mengecewakan setelah perjalanan panjang dan berat di Liga Champions dengan pencapaian yang melelahkan hingga sampai final.
Laga final melawan PSG adalah pertandingan ke-63 Arsenal di musim 2025/2026, dan menjadi tim yang paling banyak memainkan pertandingan di antara klub lima top liga Eropa.
Adu penalti memang bukanlah pertanda baik bagi Arsenal.
Sebelumnya, The Gunner telah kalah dalam dua final Eropa melalui adu penalti, yakni Piala Winners Cup 1980 dan final Piala UEFA tahun 2001.
Kekalahan ini menjadi hattrick yang tidak menguntungkan bagi klub London Utara.
Meskipun gagal di Liga Champions, Arsenal setidaknya telah berkembang dan memberikan bukti dari proses panjang yang mereka lalui di bawah asuhan Mikel Arteta.
Perkembangan terus ditunjukkan, tiga kali runner-up Liga Inggris secara berturut-turut akhirnya menjadi juara.
Dan capaian di Eropa musim ini adalah tingkatan dari level yang sedang dijalani Arsenal.
Di bawah Arteta, Arsenal kembali ke Liga Champions setelah sekian tahun. Lalu secara bertahap mencapai babak-babak baru yang belum pernah mereka rasakan dalam periode yang lama.
Termasuk laga final setelah dua dekade, dan kali ini mereka mendapat pelajaran berharga dari PSG.
Arteta seakan mencoba menerapkan formula yang sama di Eropa.
"Ini kejam," komentar Declan Rice usai pertandingan kepada TNT Sports.
"Arteta berbicara tentang betapa dia mencintai kami sebagai sebuah tim. Bagaimana kami telah memberikan 100 persen di setiap pertandingan dengan segala tantangan yang kami hadapi."
"Ini baru permulaan bagi kami. Kami berhasil lolos dari babak Liga Inggris, ini akan menjadi satu langkah lebih jauh tetapi tidak terjadi."
"Kami terus membangun. Sejak saya datang ke klub ini, kami selalu tersingkir di perempat final, kemudian semifinal, dan sekarang final. Kami terus maju dan tetap positif. Ini tidak akan mendefinisikan kami," tegasnya.
Arteta menyadari betapa sakitnya kekalahan ini.
Namun yang terpenting dari perjalanan yang mereka setapaki agar dapat memaknai segala halnya dengan baik. Kekecewaan hari ini jadi bahan bakar untuk lebih baik di masa depan.
"Pertama-tama Anda harus melewati rasa sakit itu, mencernanya, dan mengubahnya menjadi bahan bakar untuk berkembang dan mencapai level yang berbeda," bebernya.
"Kita perlu mengakui musim yang telah kita lalui. Tidak ada yang akan menghilangkan rasa sakit itu dari kita."
"Menurutku, kamu harus menjalani prosesnya. Jika kamu merasa sakit, hadapi saja rasa sakit itu. Jika kamu melakukan kesalahan, kamu harus belajar darinya," tutupnya.
(Tribunnews.com/Sina)