55 Kali Kebakaran Misterius Terjadi Dalam Rumah, Penghuni Akhirnya Tahu Penyebabnya, Ahli Kuak Fakta
Murhan May 31, 2026 09:04 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Akhirnya penghuni rumah tahu penyebab 55 kali kebakaran misterius yang terjadi di dalam rumah.

Kebakaran misterius itu berulang kali terjadi di rumah milik Agus Yani, warga Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman.

Kini, penyebab peristiwa itu akhirnya mulai menemukan jawaban.

Ada 'harta' tersembunyi berupa gas yang terpendan di balik rumah itu.

Setelah hampir sepekan dilanda insiden kebakaran yang terjadi berkali-kali tanpa penyebab yang jelas, penghuni rumah kini mengaku lebih tenang setelah hasil kajian awal mengungkap dugaan sumber peristiwa tersebut.

Tim peneliti dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada menyimpulkan kebakaran berulang itu diduga berkaitan dengan keberadaan gas metana yang keluar dari bawah permukaan tanah di sekitar lokasi rumah.

Baca juga: Update Kebakaran di Gang Garuda Kotabaru, Sebelum Api Membesar Warga Sempat Dengar Ledakan

Selama beberapa hari terakhir, keluarga Agus Yani hidup dalam kecemasan karena api muncul secara berulang dan membakar berbagai barang di dalam rumah.

Tercatat 55 kali kejadian kebakaran terjadi sejak pertama kali muncul pada 23 Mei 2026.

Sejumlah perabot rumah tangga, pakaian, karpet, hingga furnitur dilaporkan mengalami kerusakan akibat insiden tersebut.

Mengetahui adanya hasil investigasi yang mengarah pada dugaan penyebab ilmiah, penghuni rumah merasa lega.

Selama ini mereka dihantui ketidakpastian karena tidak mengetahui faktor yang memicu kemunculan api secara tiba-tiba di berbagai titik rumah.

Bupati Sleman Harda Kiswaya bahkan turun langsung meninjau rumah Agus Yani pada Sabtu (30/5/2026).

Kebakaran pertama terjadi pada Sabtu (23/5/2026) dan terus berulang hingga Sabtu dini hari.

Berbagai barang di dalam rumah dilaporkan terbakar, mulai dari sofa, pakaian, karpet hingga perabotan lainnya.

Pemerintah Kabupaten Sleman pun menggandeng para ahli dari UPN "Veteran" Yogyakarta dan UGM untuk melakukan investigasi menyeluruh.

Harda mengatakan saat ini pemerintah daerah belum menyiapkan lokasi pengungsian bagi warga sekitar karena kebakaran masih terpusat di rumah Agus Yani.

"Kita pantau satu bulan, saran beliau (akademisi UPN "Veteran" Yogyakarta dan UGM) seperti apa. Saat ini belum (menyiapkan pengungsian), sekarang yang kelihatan di tempat Pak Agus. Langkah Pemda (Sleman) akan mengikuti saran ahli," katanya, Sabtu (30/5/2026).

Tidak Menyebar ke Rumah Tetangga

Dosen Departemen Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi, menjelaskan gas metana yang muncul di rumah Agus Yani tidak menyebar secara horizontal ke rumah warga lain karena sifatnya yang cenderung naik ke udara.

"Dia (gas metana) tidak secara lateral, secara horizontal akan bergerak ke sana (horizontal) tidak. Kecuali terbawa angin. Tapi biasanya kalau sudah di luar, dia bercampur udara luar, kadarnya sudah sangat menurun, jadi relatif aman," terangnya.

Menurut Sarju, benda-benda berpori seperti pakaian, sofa, dan tanah dapat menyerap gas metana. Ketika konsentrasinya mencukupi dan bertemu oksigen, benda-benda tersebut berpotensi terbakar.

“Sifat gas itu kalau jumlahnya tertentu, dia kena oksigen, O2, CH 4, itu dia akan nyala. Mungkin perantaranya air, atau dia keluar lewat lantai yang bocor. Semua yang berpori, tanah kan juga berpori, itu juga bisa bisa (meresap). Seperti air itu kan waktu di bawah tidak terbakar, tetapi ketika sudah keluar (kran) terbakar, karena kena oksigen,” terangnya.

Untuk mencegah kebakaran berulang, tim UGM menyarankan penghuni rumah memperbaiki sirkulasi udara serta memasang kipas angin atau blower agar kadar gas metana di dalam rumah dapat berkurang.

“Makanya begitu sirkulasi dibuka, kemudian ada kipas angin, keluar (udara), bercampur dengan udara (luar), kadarnya sudah sangat berkurang. Sehingga mengurangi potensi terbakar,” imbuhnya.

Diduga Berasal dari Bekas Rawa

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi UPN "Veteran" Yogyakarta, Basuki Rahmad, mengungkapkan hasil investigasi menemukan singkapan batuan lanau berwarna gelap sekitar 300 meter dari rumah Agus Yani.

Di lokasi tersebut juga ditemukan gelembung-gelembung yang diduga kuat merupakan gas metana. Temuan tersebut mengindikasikan kawasan itu dulunya merupakan rawa.

Untuk memastikan kondisi bawah tanah secara lebih rinci, pihaknya mendorong dilakukan rekaman geofisika guna mengetahui besarnya cadangan gas, luas sebaran, dan ketebalan lapisan tanah yang menyimpan metana.

“Kalau kemungkinan (terjadi di wilayah yang sama), itu serba kemungkinan. Cuma kita tidak tahu kapan. Jadi gas itu ters bermigrasi. Maka saran kami kalau memang harus lebih rindi dilakukan rekaman geofisika,” imbuhnya.

Penghuni Rumah Akhirnya Mendapat Jawaban

Penghuni rumah, Mutfiana, mengaku merasa lebih tenang setelah mendapat penjelasan ilmiah dari tim peneliti yang turun ke lokasi.

"Lega, sudah ada jawaban. Pada intinya ini ada gas metana, bukan hal lain. Tadi sempet penjelasan dari UPN, UGM, dan instansi terkait, lebih tenang. Kalau waswas pastinya, tapi sudah lebih jelas," katanya, Sabtu (30/5/2026).

Ia mengaku awalnya tidak mencium bau apa pun saat kebakaran berulang terjadi. Namun setelah tim Gegana melakukan pemeriksaan dan septic tank disedot, bau gas mulai tercium meski samar.

"Awalnya nggak tercium apa-apa, tetapi setelah tim Gegana ngecek dan kita melakukan sedot septic tank itu tercium bau gas, tapi samar. Terus di lokasi tersebut sudah pusing, mual, sama mata pedih," sambungnya.

Saat ini keluarga Agus Yani telah mengungsi ke rumah di samping lokasi kejadian sembari menunggu langkah penanganan lanjutan.

"Akan kami upayakan, dan kami sudah mengungsi di rumah samping untuk pindah dari munculnya gas," imbuhnya.

Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM berencana melanjutkan penelitian dengan membawa alat pengukur kandungan gas metana serta melakukan pengujian sampel air untuk memastikan apakah terdapat kontaminasi metana di sekitar lokasi. Fenomena langka ini menjadi perhatian serius karena diduga berkaitan dengan kondisi geologi kawasan yang dahulu merupakan wilayah rawa.

Aktivitas yang Menghasilkan Gas Metana

Metana (CH4) adalah salah satu gas yang menyebabkan efek rumah kaca. 

Ada berbagai aktivitas yang menghasilkan gas metana di bumi. 

Peternakan

Aktivitas yang menghasilkan gas metana adalah peternakan. Hewan peternakan seperti sapi adalah hewan ruminansia yang memakan rumput dan memiliki sistem pencernaan yang unik.

Sistem pencernaan sapi dibantu oleh keberadaan mikroba dan bakteri pemecah selulosa dalam rumput.

Dilansir dari NASA, mikroba dan bakteri memfermentasi makanan di bagian perut yang disebut sebagai rumen sembari menghasilkan gas metana.

Gas metana ini kemudian keluar dari tubuh sapi melalui sendawa atau gas buangan.

Pembusukan sampah

Aktivitas yang menghasilkan gas metana selanjutnya adalah pembusukan sampah.

Sampah organik, terutama sampah sisa makanan kerap menumpuk di tempat pembuangan sampah.

Sampah yang baru dibuang menjadi tempat berkembangnya bakteri. Bakteri kemudian melakukan dekomposisi aerobik dan menghasilkan sedikit gas metana.

Namun sebagaimana dilansir dari U.S. Environmental Protection Agency, setelah kurang dari sau tahun kondisi anaerob dapat terbentuk dan bakteri penghasil metana mulai menguraikan limbah juga menghasilkan gas metana dalam jumlah besar.

Pembakaran bakan bakar fosil

Aktivitas yang menghasilkan gas metana selanjutnya adalah pembakaran bahan bakar fosil.

Dilansir dari Chemistry LibreTexts, gas alam sebagian besar (sekitar 85 persen) terdiri dari metana.

Sehingga, ketika gas alam digunakan sebagai bahan bakar, banyak gas metana yang dilepaskan.

Selain gas alam, pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara juga menghasilkan gas metana.

Aktivitas mikroba di lahan basah

Lahan basah seperti rawa memproduksi gas metana karena aktivitas mikroba.

Lahan basah menjadi habitat bagi mikroba anerobik untuk bermetabolisme dan menghasilkan gas metana dalam jumlah yang cukup banyak.

(Banjarmasinpost.co.id/TribunJatim.com)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.