TRIBUNNEWS.COM – Dandhy Dwi Laksono, sutradara film kontroversial Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026), mengaku tidak dibayar dalam pembuatan film itu.
“Saya urunan dalam bentuk sutradara. Enggak dibayar,” kata Dandhy dalam siniar Hendri Satrio di YouTube, Jumat, (29/5/2026).
“Kalau diuangkan, bayaran saya untuk film ini mungkin ratusan juta.”
Ketika ditanya tentang jumlah dana yang dihabiskan untuk pembuatan Pesta Babi, Dandhy mengatakan hal itu tidak bisa dihitung.
Menurut dia, semua pekerjaan dalam pembuatan film itu memerlukan waktu dan tenaga profesional sehingga ada yang urunan atau menyumbang alat, waktu, dan keterampilan. Dandhy adalah salah satu yang menyumbang keahliannya dalam mengarahkan film.
“Tapi karena saya enggak narik bayaran untuk film ini, enggak bisa diuangkan gitu,” ujarnya.
Dandhy berkata bahwa bagi sutradara atau fotografer yang baru akan bergerak karena ada uang, pembuatan Pesta babi mungkin terdengar tidak masuk akal.
Pesta Babi menceritakan dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap kehidupan masyarakat adat di Papua. Banyak acara nonton bareng (nobar) film itu, tetapi sebagian dibubarkan oleh aparat
Adapun saat ini Pesta Babi sudah bisa resmi ditonton di enam kanal YouTube, yaitu Watchdoc Documentary, Greenpeace Indonesia, Indonesia Baru, Jubi TV, dan Bentala Rakyat. Sebelumnya, film itu hanya bisa ditonton lewat acara nobar.
Pendanaan Pesta Babi dipertanyakan oleh sejumlah pihak, termasuk oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak beberapa waktu lalu.
“Duitnya dari mana? Coba pikir aja. Ya, kan? Sampai datang ke sana (Papua), bikin video, terbang sini, terbang sana. Orang berduitlah,” kata Maruli di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, (19/5/2026).
Sementara itu, Dandhy menyebut sumber dana pembuatan Pesta Babi bisa dicari atau dilihat sendiri sendiri pada logo poster film.
“Yang jelas, yang biayain ada di logo posternya, ada di akhir film. Semua logonya,” kata Dandhy.
Baca juga: Banyak Nobar Dibubarkan, Dandhy Laksono Sebut Film Pesta Babi Justru Disambut Baik Warga Papua
Dandhy membantah anggapan sejumlah orang bahwa Pesta Babi adalah film yang provokatif.
“Saya juga bingung provokatifnya di mana. Judulnya juga enggak clickbait. Jadi, kalau nonton beneran, ya ada upacara adat bernama pesta babi,” katanya.
Kepada orang yang menganggap Pesta Babi provokatif, dia menyarankan orang itu untuk menonton langsung filmnya.
“Mudah-mudahan dengan menonton nanti, terbuktilah apakah provokatif atau enggak,” ujarnya.
Menurut Dandhy, jika Pesta Babi dianggap provokatif, hal itu berarti meremehkan ribuah orang yang menggelar nobar) film. Para penonton film itu pasti akan menulis ulasan di media sosial.
“Jadi, kalau film ini dianggap provokatif, kayaknya kok nganggap orang-orang yang datang itu bodoh gitu. Jadi, melecehkan kecerdasan penonton film.
Dandhy mengungkap pihak yang melindungi dia dalam pembuatan film-film dokumenter yang memicu perdebatan.
“Di dunia yang orang baru berpikir atau bertindak ketika ada beking, memang seolah-olah semua kelihatan ada beking,” ujar Dandhy dalam siniar di kanal YouTube Hendri, Jumat, (22/5/2026).
“Kalau gua jawab enggak ada juga, orang yang percaya akan percaya, yang enggak percaya akan enggak percaya.”
Baca juga: Sosok Mama Yasinta Pesta Babi Turut Gugat PSN, Pernah Gelar Ritual depan MK
Menurut Dandhy, dalam kerja jurnalistiknya, yang membekingi dia ada dua hal. Pertama, kredibilitas informasinya. Kedua, independensinya.
Dandhy mengakui konten yang sudah benar dan akurat pun punya risiko yang tinggi, apalagi yang keliru atau “melintir”.
“Bikin seakurat mungkin aja tetap dihantam kekuasaan, apalagi enggak akurat. Jadi, kami ketat banget,” katanya.
“Jadi, kalau dari pertanyaan bekingnya siapa, dari film ke film kami selalu percaya kalau publik akan jadi beking.”
(Tribunnews/Febri)