IRGC: Iran Menang Konfrontasi, AS Masuk Fase Kemunduran Strategis
Nuryanti May 31, 2026 01:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Brigadir Jenderal Yadollah Javani, wakil politik untuk komandan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), menyatakan Iran keluar sebagai pihak yang memenangkan konfrontasi terbaru melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Dalam pernyataannya pada Sabtu (30/5/2026), Javani mengatakan AS kini memasuki fase kemunduran dan kekalahan strategis, sementara Iran berada dalam posisi kuat dalam setiap proses negosiasi yang berlangsung.

Menurutnya, perang dipaksakan kepada bangsa Iran setelah pihak lawan meyakini dapat meraih kemenangan cepat hanya dalam hitungan hari.

Ia mengklaim tujuan utama operasi tersebut adalah menghancurkan infrastruktur nuklir Iran, melemahkan jaringan rudal dan pertahanan udara, serta membuka jalan menuju perubahan rezim di Teheran.

Namun, Javani menegaskan ketahanan rakyat Iran dan mobilisasi nasional berhasil menggagalkan seluruh perhitungan strategis lawan.

Ia juga menyoroti posisi Selat Hormuz sebagai aset geostrategis vital bagi Iran, mengutip Al Mayadeen, Minggu (31/5/2026).

Javani menyebut Teheran kini telah mengonsolidasikan kendalinya atas jalur maritim tersebut dan mengamankan hak-hak strategis rakyat Iran.

“Selat Hormuz merupakan aset geostrategis penting yang harus dijaga melalui tata kelola efektif dan kesiapan operasional berkelanjutan,” ujarnya.

Baca juga: Ben Gurion Israel Dipenuhi Pesawat Militer AS: Dampak Bandara Sipil Berubah Jadi Pangkalan Militer

Javani menambahkan Iran saat ini bernegosiasi dari posisi sebagai pihak yang lebih kuat setelah berhasil menetapkan kerangka dan syarat penyelesaian krisis.

Menurutnya, keputusan kini berada di tangan Washington untuk menentukan langkah berikutnya.

Pejabat senior IRGC itu juga menegaskan adanya visi strategis yang terpadu antara militer Iran, lembaga diplomatik, dan masyarakat dalam mempertahankan hak serta kepentingan nasional, baik melalui jalur diplomasi maupun cara lain.

Ia memperingatkan bahwa militer Iran tetap berada dalam kesiapan penuh.

Setiap tindakan bermusuhan atau kesalahan perhitungan baru dari pihak lawan, kata dia, akan dibalas dengan respons yang lebih keras dan lebih kuat dibanding sebelumnya.

AS dan Israel sebelumnya disebut melancarkan serangan militer bersama terhadap Iran pada 28 Februari.

Konfrontasi tersebut berlangsung sekitar 40 hari sebelum proses negosiasi Iran-AS dimulai di tengah tuduhan pelanggaran dan blokade maritim terhadap Iran.

(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.