Perjuangan Ibu Terjang Medan Berat Gunung Dempo, Ingin Lihat Makam Anak yang Meninggal Waktu Mendaki
Tsaniyah Faidah May 31, 2026 03:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Seorang ibu paruh baya terekam kamera berjuang keras mendaki jalur terjal Gunung Dempo di Sumatera Selatan.

Kehadirannya di gunung tersebut bukan untuk tujuan wisata ataupun sekadar hobi mendaki.

Wanita berkerudung hitam ini rela menerjang medan alam yang berat demi melihat langsung tempat peristirahatan terakhir anak yang meninggal dunia saat melakukan pendakian di sana.

Dalam tayangan video Instagram @tante.rempong.official, tampak sang ibu yang sudah cukup berumur melangkah perlahan namun pasti di tengah jalur pendakian yang tidak mudah.

Ia tidak melakukan perjalanan berat tersebut seorang diri.

Guna memastikan keselamatannya selama melewati jalur terjal, sang ibu didampingi oleh sejumlah pendaki lain yang ikut mengawal langkahnya.

Langkah kakinya yang perlahan menggambarkan beratnya medan geografis Gunung Dempo yang harus ia taklukkan demi melepas rindu kepada anaknya.

Tujuan utama pendakian ibu tersebut untuk mengenang sekaligus mendatangi lokasi meninggalnya dua anak laki-lakinya yang bernama Jumadi dan Fikri.

Kedua putranya tersebut dikabarkan mengembuskan napas terakhir saat tengah melakukan aktivitas pendakian di kawasan pegunungan tersebut beberapa tahun silam.

Tragedi masa lalu itu menyisakan duka mendalam karena jasad kedua putranya tidak dibawa turun ke permukiman.

Pihak keluarga memutuskan untuk mengebumikan jenazah kakak beradik tersebut langsung di atas kawasan Gunung Dempo.

Keberadaan tempat peristirahatan mereka ditandai dengan sebuah papan nisan sederhana yang dipasang di sekitar area pegunungan.

Baca juga: Makanan yang Dimasak Satu Keluarga Sebelum Tewas di Tenda Glamping Temanggung, Terungkap Sumbernya

Melalui papan nisan yang berada di kawasan gunung tersebut, tercatat informasi mengenai identitas dan waktu berpulangnya kedua korban.

Fikri diketahui lahir pada tanggal 14 Oktober 2000, sedangkan sang kakak yang bernama Jumadi lahir pada 9 Juni 1993.

Berdasarkan data yang tertulis di kayu penanda itu, keduanya meninggal dunia secara bersamaan pada bulan Oktober 2019.

Keputusan sang ibu untuk datang ke lokasi itu memicu beragam reaksi emosional dari para pengguna internet.

Banyak orang mengaku tidak kuasa menahan haru saat melihat kekuatan fisik dan mental wanita tersebut.

Pasalnya, di usianya yang sudah tidak lagi muda, ia harus menembus kondisi alam yang terkenal dingin dan berisiko.

Unggahan video itu langsung dibanjiri ratusan komentar dari masyarakat yang ikut merasakan.

Salah seorang pengguna media sosial menuliskan bentuk empatinya terhadap pilihan berani yang diambil oleh sang ibu.

“Saya akan melakukan hal yang sama bila jadi si ibu, kasih ibu spanjang masa,” tulis netizen dalam kolom komentar.

Komentar lain juga turut menyoroti bagaimana besarnya pengorbanan seorang figur ibu dalam menghadapi kehilangan anak kandungnya.

Rasa sakit seorang ibu dinilai tidak akan pernah hilang meski waktu telah berlalu lama.

“Ibu adalah orang paling lama sakit di saat melahirkan dan di saat anak tidak ada lagi di dunia,” tulis netizen lainnya.

Tidak sedikit pula masyarakat digital yang memberikan untaian doa serta kalimat penyemangat agar sang ibu diberikan kekuatan dalam menyelesaikan ziarahnya.

“Ya Allah ibu sedihnya sampai ke aku. Tetap semangat ya ibu,” tulis netizen lainnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.