TRIBUNJATENG.COM - Peringatan World No Tobacco Day (WNTD) 2026 dilakukan para mahasiswa di Kota Semarang dengan menggelar diskusi.
Perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Himpunan Mahasiswa (HIMA) dari Undip, Unnes, Unwahas, Udinus, hingga Unika berdiskusi dengan Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) Pengurus Daerah Jawa Tengah.
Dialog interaktif ini menjadi ruang diskusi bersama terkait implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di lingkungan perguruan tinggi, tantangan penerapan kebijakan di kampus, serta penguatan peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam mendukung pengendalian tembakau.
Baca juga: 1500 Porsi Makanan Gratis Dalam Rangka Waisak Dibagikan untuk Warga Pati
Baca juga: Polisi Ungkap Penyebab Tak Semua Korban Glamping Maut di Temanggung Diautopsi
Dalam diskusi tersebut, mahasiswa menyampaikan berbagai pandangan terkait kondisi implementasi KTR di kampus masing-masing, termasuk keberadaan Satuan tugas (Satgas), dukungan kebijakan kampus, media edukasi, hingga tantangan dalam pengawasan perilaku merokok di lingkungan perguruan tinggi.
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti pentingnya keterlibatan organisasi mahasiswa dalam mendorong budaya kampus sehat dan bebas asap rokok.
Melalui forum ini, peserta mendiskusikan berbagai peluang penguatan implementasi KTR di perguruan tinggi, seperti pengembangan kampanye edukasi oleh mahasiswa, penguatan kolaborasi antara Ormawa dan pihak universitas, serta pembentukan jejaring mahasiswa peduli pengendalian tembakau antar kampus di Kota Semarang.
Sekretaris Umum PPPKMI Pengda Jawa Tengah, Dr Nurjanah menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mendukung upaya pengendalian tembakau karena kampus tidak hanya menjadi tempat pembelajaran akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan budaya hidup sehat bagi generasi muda.
"Kekuatan industri rokok tidak hanya terletak pada besarnya modal yang dimiliki, tetapi juga pada kemampuan mereka dalam melakukan promosi dan sponsorship," ucap Nurjanah dalam keterangan tertulis.
Ia menyebut saat ini muncul tantangan baru berupa meningkatnya penggunaan produk nikotin alternatif, seperti vape dan produk tembakau yang dipanaskan.
"Promosi yang masif terhadap produk-produk tersebut turut memengaruhi perilaku masyarakat, termasuk perempuan yang kini semakin banyak memilih vape dibandingkan produk tembakau lainnya," imbuhnya.
Selain membahas kondisi implementasi KTR di kampus, kegiatan ini juga mendorong mahasiswa untuk terlibat lebih aktif dalam advokasi kebijakan pengendalian tembakau di daerah. Mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mampu menyuarakan pentingnya lingkungan pendidikan yang sehat, aman, dan bebas asap rokok.
Kegiatan dialog ini menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antara organisasi mahasiswa, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendukung implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Jawa Tengah.
Hasil diskusi dan masukan dari mahasiswa juga akan menjadi bagian dari penguatan strategi advokasi PPPKMI Jawa Tengah dalam mendorong implementasi kebijakan pengendalian tembakau yang lebih efektif di lingkungan pendidikan.
Momentum peringatan World No Tobacco Day 2026 diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga mampu memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan kampus yang sehat dan bebas dari paparan asap rokok. (*)