Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG – Memasuki musim kemarau, jumlah titik panas (hotspot) di Sumatera Selatan mengalami peningkatan signifikan.
Setelah sebelumnya tercatat 81 titik, kini hotspot harian melonjak menjadi 117 titik, menandakan meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
BPBD Sumsel pun mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat langkah-langkah pencegahan sejak dini.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan peningkatan jumlah hotspot tersebut menjadi sinyal eskalasi ancaman karhutla di berbagai wilayah Sumsel, terutama di daerah yang selama ini dikenal rawan kebakaran.
"Terjadi peningkatan signifikan angka hotspot pada beberapa hari di akhir Mei ini. Hal ini seiring dengan masuknya musim kemarau di seluruh wilayah Sumsel," kata Sudirman, Minggu (31/5/2026).
Menurutnya, lonjakan hotspot terjadi di tengah kondisi cuaca panas dan mulai berkurangnya curah hujan di sejumlah daerah.
Kondisi tersebut dinilai dapat memicu meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan apabila tidak diantisipasi sejak dini.
BPBD Sumsel mencatat hingga 30 Mei 2026 terdapat 542 titik panas yang terpantau sepanjang bulan Mei.
Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Pada Januari 2026, hotspot tercatat sebanyak 75 titik, Februari 54 titik, Maret 107 titik, dan April 150 titik. Sementara sepanjang tahun 2026, total hotspot yang terpantau telah mencapai 928 titik.
"Lahat menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi sebanyak 209 titik, disusul Muara Enim 179 titik dan Musi Banyuasin 110 titik," ungkapnya.
Baca juga: Sepanjang 2025, BPBD Catat 665 Hotspot di Muara Enim, Terbaru Lahan Seluas 7 Hektare Terbakar
Baca juga: Sepanjang Agustus 2025, Ada 42 Hotspot Terpantau di Sumsel, Wilayah Muba Paling Banyak
Berdasarkan data BPBD Sumsel per 31 Mei 2026, terdapat 28 hotspot yang terpantau pada pukul 05.30 WIB.
Sebarannya berada di Muara Enim sebanyak 12 titik, Lahat 8 titik, Muratara 5 titik, Musi Banyuasin 2 titik, dan Ogan Ilir 1 titik.
Selain itu, patroli udara yang dilakukan Subsatgas Udara pada 30 Mei 2026 menemukan enam kejadian karhutla, masing-masing di Muara Enim dan PALI sebanyak dua lokasi, serta Banyuasin dan Musi Banyuasin masing-masing satu lokasi.
Menghadapi kondisi tersebut, Sudirman meminta pemerintah daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla segera menetapkan status siaga agar upaya pencegahan dan penanganan dapat dilakukan lebih optimal.
"Status siaga penting agar pemerintah daerah lebih siap dalam melakukan pencegahan dan penanganan, karena di beberapa wilayah sudah terjadi karhutla," katanya.
BPBD Sumsel juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Warga diminta segera melapor kepada aparat setempat apabila menemukan asap maupun titik api di kawasan hutan, perkebunan, atau lahan kosong di sekitar tempat tinggal mereka.
Menurut BPBD, hampir seluruh wilayah Sumsel saat ini memiliki potensi kemudahan terjadinya kebakaran karena lapisan atas permukaan tanah, termasuk lahan gambut dan semak belukar, mulai mengering akibat musim kemarau.
Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com