TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Simak cara umat Buddha di Kota Tarakan merayakan Waisak 2026, ada donor darah hingga mandi rupang.
Umat Buddha di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, memperingati puncak Hari Raya Waisak 2569 Buddhist Era (BE) dengan berbagai rangkaian kegiatan, yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
Sejak pagi dan siang tadi, Minggu (31/5/2026), Vihara Vajra Bumi Dwipa, perayaan Waisak tidak hanya diisi dengan ibadah, tetapi juga kegiatan sosial, pembinaan anak-anak hingga ritual keagamaan yang menjadi tradisi setiap tahunnya.
Guru Sekolah Minggu Vihara Vajra Bumi Dwipa, Semin, mengatakan rangkaian perayaan Waisak telah dimulai sejak minggu pertama Mei 2026, dengan kegiatan donor darah, dan pembagian sembako kepada masyarakat yang membutuhkan.
"Saya mewakili Ketua Vihara.
Di Vihara Vajra Bumi Dwipa ini rangkaian Waisak yang pertama yaitu donor darah, dan pembagian sembako untuk orang-orang yang mungkin membutuhkan, yang sudah yatim piatu dan lain-lain," ujar Semin.
Baca juga: 20 Kumpulan Pantun Hari Raya Waisak 2026, Segera Bagikan ke Media Sosial
Memasuki pekan kedua, kegiatan difokuskan kepada anak-anak sekolah minggu melalui berbagai perlombaan, yang bertujuan meningkatkan pemahaman serta kecintaan terhadap ajaran Buddha.
"Untuk minggu kedua itu kami adakan lomba-lomba untuk anak-anak sekolah minggu yaitu membaca mantra dan lain-lain.
Ada yang menyanyi, ada yang main gendang," katanya.
Sementara pada pekan ketiga, kegiatan diisi dengan berbagai permainan yang menitikberatkan pada kebersamaan dan kerja sama antaranak.
"Untuk minggu ketiga memang kami gunakan untuk bermain senang-senang.
Jadi permainan yang mungkin membangun kerja sama," jelas Semin.
Puncak rangkaian kegiatan dilaksanakan pada minggu terakhir melalui ritual mandi rupang, yang menjadi tradisi umat Buddha saat Hari Raya Waisak.
Dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, mandi rupang Buddha (Yu Fo) adalah ritual menyiramkan air wangi ke patung Buddha (khususnya bayi Siddharta) yang dilakukan umat Buddha saat perayaan Tri Suci Waisak.
Ritual mandi rupang ini simbol pembersihan diri dari kotoran batin (amarah, ketamakan, ketidaktahuan) serta mengenang kelahiran Buddha.
"Yang terakhir ini kami adakan ritual mandi rupang seperti biasa, karena dilaksanakan setiap Hari Waisak," ungkapnya.
Setelah prosesi mandi rupang, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai penampilan dari anak-anak, hingga orang tua, yang terlibat dalam perayaan tersebut.
"Setelah mandi rupang ada penampilan dari orang tua, kemudian penampilan anak-anak SMP maupun SD, lalu TK dan WNPG.
Setelah itu pembagian hadiah," katanya.
Semin menambahkan seluruh rangkaian ibadah dan perayaan Waisak di vihara tersebut ditutup pada hari ini.
"Sudah, terakhir hari ini," ujarnya.
Sementara itu, Penyuluh Agama Buddha Kantor Kementerian Agama Kota Tarakan, Rudi Pratama, menjelaskan puncak Hari Raya Waisak tahun ini jatuh pada pukul 04.50 Wita.
Menurutnya, waktu puncak Waisak setiap tahun berbeda-beda, karena mengikuti perhitungan astronomis yang telah ditetapkan.
"Kalau untuk puncak Hari Waisak detik-detiknya itu jam empat lewat 50 menit.
Setiap tahun berbeda-beda detik-detiknya, kadang malam, siang atau sore.
Ada perhitungannya tersendiri," jelasnya.
Baca juga: Jaga Keandalan Listrik di Kaltim dan Kaltara, 1.210 Personel PLN Siaga Amankan Hari Raya Waisak
Ia menerangkan tema nasional Hari Raya Waisak tahun ini yang ditetapkan Kementerian Agama adalah Dharma Menjaga Perdamaian Dunia.
Tema tersebut mengandung pesan agar umat Buddha menerapkan ajaran dharma dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari diri sendiri, sebelum diwujudkan dalam lingkungan yang lebih luas.
"Maknanya itu ketika kita melakukan atau mengikuti ajaran dharma atau ajaran Buddha, kita senantiasa menjaga perdamaian.
Dimulai dari diri sendiri kemudian dengan lingkungan yang lebih besar," kata Rudi.
Pada puncak perayaan Waisak di Tarakan, jumlah umat yang hadir diperkirakan sekitar 250 orang.
Sementara secara keseluruhan, jumlah umat Buddha di Kota Tarakan tercatat lebih dari 3.000 jiwa yang tersebar di sejumlah vihara.
"Kalau yang datang sekitar 250-an orang.
Kalau umat Buddha di Tarakan ada 3.000 lebih, dan terbagi di beberapa vihara," ujarnya.
Melalui perayaan Hari Raya Waisak tahun ini, umat Buddha di Tarakan diharapkan tidak hanya menjalankan ritual keagamaan, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari.
"Terutama dalam menjaga kerukunan, kedamaian dan keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah