Kisah Dejavu PSG & Arsenal di Final Liga Champions, hingga Rekening Gol Mbappe yang Tak Berbekas
Yurika NendriNovianingsih May 31, 2026 04:45 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Serba-serbi menarik mewarnai turnamen Liga Champions musim 2025/2026 yang telah berakhir pada Minggu (31/5/2026) dinihari tadi.

PSG akhirnya kembali menisbatkan diri sebagai juara Liga Champions setelah mengalahkan Arsenal di final.

Bertanding di Puskas Arena, PSG menang dramatis atas Arsenal lewat drama adu penalti.

Kegagalan Gabriel Magalhaes mengeksekusi penalti di momen penentu, mengunci kemenangan PSG di final edisi kali ini.

Arsenal sebenarnya mampu unggul terlebih dahulu berkat gol Kai Havertz pada menit keenam.

Sayangnya, keunggulan itu mampu disamakan PSG setelah Ousmane Dembele mencetak gol penyeimbang lewat penalti menit ke-64.

Hasil imbang 1-1 di waktu normal, membuat laga harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu, hingga akhirnya adu penalti.

Keberuntungan memihak kepada PSG saat mereka mampu memenangkan drama adu penalti atas Arsenal dengan skor 4-3.

Baca juga: Sejarah Belum Berpihak ke Arsenal, PSG Kembali Juara Liga Champions

Kemenangan atas Arsenal pun membuat PSG berhasil mempertahankan gelar Liga Champions yang telah diraihnya musim lalu.

PSG mengikuti jejak Real Madrid sebagai tim kedua yang bisa meraih gelar Liga Champions dalam dua musim berturut-turut.

Sementara bagi Arsenal, kekalahan ini terasa pilu, karena menyisakan situasi dejavu bagi tim asal London Utara tersebut.

Setelah kegagalan di final Liga Champions 2006 silam, kekalahan ini membuat Arsenal kembali merasakan hal sama, 20 tahun berselang.

Harapan Arsenal untuk membawa pulang trofi perdana Liga Champions ke London Colney pun sirna, akibat kekalahan ini.

Impian Mikel Arteta untuk mengawinkan gelar juara Liga Inggris dan Liga Champions musim ini pun seketika juga ambyar.

Situasi dejavu yang berbeda pun akhirnya dirasakan PSG dan Arsenal sebagai dua tim terbaik yang mampu melaju ke final musim ini.

PSG mengalami situasi dejavu yang mereka inginkan, yakni menjadi juara Liga Champions, seperti yang telah mereka lakukan musim lalu.

Lalu, Arsenal juga merasakan situasi dejavu, namun dalam tone yang negatif, yakni mengulangi kekalahan 20 tahun silam di final Liga Champions 2006.

Rekening Gol Kylian Mbappe Tak Bermakna

Dikala PSG mampu mendeklarasikan diri sebagai penguasa Eropa dalam dua musim berturut-turut, nasib apes justru dirasakan Kylian Mbappe.

Mbappe yang diketahui pernah menjadi superstar di klub raksasa Prancis tersebut, harus menerima kenyataan pahit sejak pergi dari PSG.

Sejak memutuskan pindah dari PSG untuk bergabung dengan Real Madrid pada musim panas 2024 lalu.

Mbappe justru mengalami nasib yang berkebalikan dengan PSG, tim yang ia tinggalkan pada dua tahun silam.

Meskipun rekening gol Kylian Mbappe bersama Real Madrid tergolong tinggi, hal itu seakan tidak bermakna bagi timnya.

Bagaimana tidak, di balik ketajaman Mbappe mencetak gol, nyatanya hal itu tidak memberikan jaminan kesuksesan bagi Real Madrid.

SELEBRASI MBAPPE - Pemain Real Madrid, Kylian Mbappe, merayakan gol yang dicatatkan ke gawang Kairat Almaty pada matchday kedua Phase League di Ortalyq stadıon, Selasa (30/9/2025) malam WIB. (Website Madrid - 1/10/2025)
SELEBRASI MBAPPE - Pemain Real Madrid, Kylian Mbappe, merayakan gol yang dicatatkan ke gawang Kairat Almaty pada matchday kedua Phase League di Ortalyq stadıon, Selasa (30/9/2025) malam WIB. (Website Madrid - 1/10/2025) (Realmadrid.com)

Contohnya pada musim ini, khususnya lagi di panggung Liga Champions.

Sekalipun namanya telah dinobatkan sebagai top skor Liga Champions musim ini dengan catatan 15 gol.

Hal itu tidak cukup bagi Mbappe untuk membawa Real Madrid meraih kesuksesan di Liga Champions edisi kali ini.

Alih-alih meraih kesuksesan, langkah Real Madrid justru berakhir pilu seperti pada musim lalu.

Sempat mampu menyingkirkan Manchester City di babak 16 besar, laju Real Madrid langsung terhenti di babak perempat final.

Bayern Munchen menjadi biang kerok yang menghentikan perjalanan Real Madrid dalam mengarungi kompetisi Liga Champions musim ini.

Kekalahan dengan agregat skor 6-4 menyudahi harapan Real Madrid untuk bisa kembali berjaya di kompetisi Eropa.

Kegagalan Real Madrid di babak 8 besar tersebut, seakan membuat rekening gol Mbappe berakhir sia-sia.

Mbappe jelas menjadi sosok yang paling apes nasibnya, sejak pergi dari PSG lalu bergabung dengan Real Madrid.

Ketika PSG yang merupakan mantan klubnya berjaya dua musim beruntun dengan menjuarai Liga Prancis dan Liga Champions.

Mbappe justru harus menderita, lantaran Real Madrid sebagai tim yang ia bela saat ini, harus puasa gelar dalam dua musim berturut-turut.

Selengkapnya inilah rangkuman fakta menarik yang mewarnai turnamen Liga Champions musim ini yang dihimpun Tribunews dari berbagai sumber:

  1. PSG menjadi tim kedua dalam sejarah yang mampu mempertahankan gelar Liga Champions dalam dua musim berturut-turut setelah Real Madrid melakukan hal tersebut (2016-2018).
  2. PSG juga berhak menyandang predikat sebagai tim ketiga dalam sejarah yang mampu mengawinkan gelar Liga Domestik dengan Liga Champions secara berturut-turut, mengikuti jejak Real Madrid (1957-1958) dan Ajax (1972-1973).
  3. Luis Enrique kian mempertegas statusnya sebagai pelatih dengan rasio kemenangan terbaik dengan jumlah 50+ laga di Liga Champions (63,3 persen).
  4. Luis Enrique juga menjadi pelatih tersukses kedua dalam sejarah Liga Champions dengan koleksi 3 gelar, sejajar dengan Pep Guardiola, Bob Paisley dan Zinedine Zidane.
  5. Arsenal masih menjadi tim dengan penampilan terbanyak di kompetisi Eropa, yang belum pernah mampu memenangkan gelar (226 laga)
  6. Kylian Mbappe dinisbatkan sebagai pemenang sepatu emas alias top skor Liga Champions musim ini dengan catatan 15 gol.
  7. Kai Havertz menjadi pemain pertama yang mencetak dua gol di final Liga Champions, bersama dua tim berbeda asal London.
  8. Vitinha menyamai rekor Xavi Hernandez dalam hal jumlah operan di final Liga Champions yakni berjumlah 141.

(Tribunnews.com/Dwi Setiawan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.