Dipuji Bappenas, Desa Sepit Jadi Role Model Desa Inklusif Lewat Sekolah Perempuan
Laelatunniam May 31, 2026 05:20 PM

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Keberadaan sekolah bagi perempuan dinilai turut memberikan sumbangan yang berarti terhadap kemajuan desa.

Contohnya adalah Sekolah Perempuan yang ada di Desa Sepit, Kecamatan Keruak. Perempuan-perempuan di desa tersebut telah berperan aktif dalam memajukan desa, baik dalam proses perencanaan maupun pelibatan kelompok yang rentan.

"Melalui Program INKLUSI, Sekolah Perempuan berhasil mendorong sejumlah praktik positif, seperti pendataan partisipatif yang memperhatikan aspek gender dan disabilitas, pengarusutamaan kesetaraan gender, serta pendekatan inklusi sosial. Hal ini kini dijadikan acuan oleh pemerintah desa dalam merancang berbagai program," ungkap Direktur PPSDM NTB, Ririn Hayudiani pada Minggu (31/5/2026).

Ia juga menyebutkan berbagai inisiatif yang muncul dari kelompok perempuan, seperti berdirinya pos pencegahan pernikahan usia anak serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dikelola oleh perempuan.

Dengan demikian, kehadiran Program INKLUSI di Desa Sepit telah memberikan nuansa baru dalam proses pembangunan desa.

"Kami mengucapkan terima kasih dan sangat menghargai kunjungan Ketua Pokja IV beserta rombongan. Kehadiran INKLUSI benar-benar memberi warna tersendiri bagi pembangunan di Desa Sepit," jelas Ririn.

Secara terpisah, Kepala Desa Sepit, M. Hasmawadi, mengungkapkan bahwa Sekolah Perempuan telah membantu desanya dalam berbagai aspek pembangunan, termasuk dalam hal pendampingan terhadap masyarakat. Meskipun terjadi efisiensi anggaran dana desa, ia berharap kegiatan ini tetap berjalan dengan baik karena manfaatnya langsung dirasakan oleh warga.

"Kami berterima kasih atas kunjungan dari Bappenas dan juga atas dukungan yang terus diberikan kepada desa melalui program Sekolah Perempuan," ujarnya.

Hasmawadi menekankan pentingnya kebersamaan dalam membangun desa. Meskipun tanpa imbalan materi, setidaknya setiap pihak dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat, karena masyarakat merupakan tanggung jawab bersama.

"Meskipun tanpa imbalan, setidaknya dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat," kata Hasmawadi.

Sementara itu, Direktur PDAT Bappenas, Mohammad Roudo, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat langsung perubahan yang terjadi di desa binaan Program INKLUSI. Ia menilai Desa Sepit sebagai salah satu desa yang memiliki inovasi nyata dan layak dijadikan contoh pembelajaran.

“Tidak semua desa memiliki kegiatan dan inovasi konkret seperti yang ada di Desa Sepit. Produk UMKM dan kerajinan yang kami saksikan sangat baik. Kami ingin mempelajari praktik baik ini sekaligus mengidentifikasi isu-isu yang dapat kami tindak lanjuti bersama pemerintah pusat,” paparnya.

Ia juga menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mendorong terwujudnya desa yang inklusif. Pihaknya ingin memastikan masyarakat memperoleh kesetaraan dan peluang yang sama melalui model desa inklusif.

Ia menyebut sejak tahun 2025, sejumlah pencapaian penting telah diraih oleh Desa Sepit melalui Program INKLUSI, antara lain: pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang inklusif dengan melibatkan perempuan dan penyandang disabilitas; sebanyak 151 warga mendapatkan layanan dokumen kependudukan; adanya Bantuan Langsung Tunai (BLT) khusus bagi penyandang disabilitas berdasarkan data PRA tahun 2025-2026, serta terbentuknya usaha bersama dan kelompok ekonomi perempuan.

"Terjadi penurunan angka perkawinan anak; sebanyak 41 alat bantu bagi penyandang disabilitas diterima dari Kementerian Sosial; desa ini masuk dalam nominasi Desa Cantik (Cinta Statistik), serta perempuan dan penyandang disabilitas terlibat secara aktif dalam berbagai kegiatan pembangunan desa," tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.