WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, mengenai kemungkinan Indonesia menghadapi tekanan geopolitik seperti yang dialami Venezuela memicu perdebatan luas di kalangan akademisi, pengamat keamanan, dan publik.
Pernyataan tersebut bukan sekadar membahas ancaman perang konvensional.
Di baliknya tersimpan kekhawatiran yang jauh lebih besar, yakni bagaimana Indonesia dapat menjadi arena perebutan pengaruh negara-negara adidaya di tengah meningkatnya persaingan global.
Yusril sebelumnya menyoroti posisi Indonesia yang sangat strategis, baik dari sisi geografis maupun kekayaan sumber daya alam.
Menurutnya, negara-negara besar memiliki kepentingan besar terhadap kawasan yang kaya energi, mineral kritis, serta jalur perdagangan internasional.
Bahkan, ia mengingatkan bahwa apabila terjadi skenario konflik besar, Indonesia dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi tekanan militer modern.
Pernyataan itu kemudian mendapat respons dari Guru Besar Hubungan Internasional ST Petersburg State University, Connie Rahakundini Bakrie, yang menilai peringatan tersebut harus dipandang sebagai alarm serius bagi para pemimpin nasional.
Connie: Ini Bukan Alarm Biasa, Melainkan Wake Up Call
Connie menegaskan bahwa dalam lanskap geopolitik dan geoekonomi dunia saat ini, kemungkinan Indonesia menghadapi tekanan seperti yang dialami Venezuela tidak bisa dianggap mustahil.
Menurutnya, perubahan tatanan global yang semakin kompetitif membuat negara-negara kaya sumber daya menjadi objek perebutan kepentingan strategis.
"Ini bukan sekadar alarm, tetapi wake up call bagi para pemimpin kita," kata Connie.
Baca juga: Setelah Iran dan Venezuela, Donald Trump akan Invasi Kuba
Ia mengingatkan bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari jumlah alutsista yang dimiliki, tetapi juga kesiapan logistik, stok amunisi, kemampuan intelijen, serta dukungan masyarakat terhadap negara.
Dalam pandangannya, faktor rakyat menjadi elemen yang sangat menentukan ketika sebuah negara menghadapi tekanan eksternal.
"Apakah TNI siap atau tidak, itu penting. Tapi yang juga penting adalah apakah rakyat Indonesia siap dan memiliki kedekatan dengan pemerintah. Itu faktor utama dalam menjaga negara," ujarnya.
Soroti Kelemahan Pertahanan dan Logistik
Connie menilai Indonesia telah melakukan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam beberapa tahun terakhir. Namun, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan.
Salah satunya adalah persoalan stok amunisi dan logistik pertahanan yang dinilai masih terbatas apabila harus menghadapi situasi darurat dalam jangka panjang.
Selain itu, sebagian alutsista masih membutuhkan perawatan berat atau heavy maintenance, sehingga berpotensi mengurangi kesiapan operasional apabila terjadi krisis.
Menurut Connie, tantangan lainnya adalah komposisi anggaran pertahanan yang masih didominasi belanja personel.
Ia menyebut sebagian besar anggaran pertahanan masih terserap untuk kebutuhan sumber daya manusia dibandingkan penguatan teknologi dan sistem pertahanan masa depan.
"Kalau kita bicara tantangan masa depan, ini menjadi persoalan yang harus diperhatikan," ujarnya.
Jalur Strategis Indonesia Jadi Rebutan Dunia
Connie juga menyoroti posisi Indonesia yang berada di jalur laut paling strategis di dunia.
Indonesia menguasai Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, II, dan III, yang menjadi bagian penting dari lalu lintas perdagangan global.
Selain itu, keberadaan Selat Malaka membuat Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam sistem perdagangan internasional.
Menurut Connie, dokumen strategis pertahanan Amerika Serikat beberapa tahun terakhir menunjukkan perhatian besar terhadap penguasaan jalur komunikasi laut global atau sea lines of communication.
Karena itu, kemampuan early warning system, pengawasan wilayah, dan integrasi intelijen nasional menjadi sangat krusial.
"Intelijen adalah mata negara. Pertanyaannya, apakah data-data yang kita miliki sudah benar-benar terintegrasi?" katanya.
Ia menilai Indonesia masih memiliki ruang yang sangat besar untuk memperkuat koordinasi antar lembaga intelijen demi menghadapi ancaman modern yang semakin kompleks.
Baca juga: Suara Tembakan Menggema di Caracas: Baku Tembak Dekat Istana Presiden Venezuela
Ancaman Terbesar Bukan Invasi, Tapi Perebutan Pengaruh
Sementara itu, pakar geopolitik dan keamanan nasional Wibawanto Nugroho memiliki pandangan yang sedikit berbeda.
Menurutnya, peringatan Yusril harus dilihat dalam kerangka realisme geopolitik, bukan sebagai prediksi bahwa Indonesia akan mengalami invasi militer langsung.
"Saya tidak melihat Indonesia akan diinvasi," ujarnya.
Namun, ia menilai Indonesia berpotensi menjadi medan perebutan pengaruh antara dua kekuatan terbesar dunia saat ini, yakni Amerika Serikat dan China.
Dalam kompetisi global yang berlangsung tanpa perang terbuka, kedua negara membutuhkan akses terhadap wilayah-wilayah strategis yang dapat memperkuat posisi mereka.
Indonesia dinilai menjadi salah satu aset paling berharga dalam persaingan tersebut.
Indonesia Adalah Prize di Indo-Pasifik
Wibawanto menjelaskan bahwa posisi geografis Indonesia menjadikannya sangat penting bagi kepentingan geopolitik dunia.
Selain memiliki jalur laut dan udara strategis, Indonesia juga kaya akan sumber daya energi dan mineral yang sangat dibutuhkan industri modern.
Di sisi lain, Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
Kondisi itu membuat Indonesia berstatus sebagai swing state, yaitu negara yang memiliki pengaruh besar terhadap keseimbangan kekuatan regional.
"Siapa yang memenangkan pengaruh di Indonesia akan memiliki peluang lebih besar memenangkan persaingan di Indo-Pasifik," katanya.
Diplomasi Seimbang Jadi Kunci
Menghadapi situasi tersebut, Wibawanto menilai Indonesia harus mempertahankan politik luar negeri yang seimbang dan tidak berpihak pada salah satu blok kekuatan.
Ia menyebut pendekatan equidistant diplomacy, omni diplomacy, atau multidirectional diplomacy sebagai strategi yang paling tepat.
Melalui pendekatan itu, Indonesia tetap menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat, China, Rusia, maupun kekuatan besar lainnya tanpa kehilangan independensi.
Namun, strategi tersebut hanya akan berhasil apabila ditopang oleh fondasi domestik yang kuat.
Menurutnya, terdapat tiga syarat utama agar Indonesia mampu menjaga kedaulatan di tengah kompetisi global.
Pertama, negara harus memiliki pemahaman yang jelas mengenai kepentingan nasional inti (core national interest).
Kedua, pemerintah harus membangun kepercayaan publik serta menjaga kekompakan nasional.
Ketiga, Indonesia harus memiliki strategic autonomy, yakni kemampuan bermanuver secara independen di panggung internasional tanpa tekanan dari pihak mana pun.
Tantangan Besar Indonesia di Tengah Persaingan Global
Peringatan yang disampaikan Yusril dan analisis para pakar menunjukkan bahwa tantangan Indonesia di masa depan tidak hanya berasal dari ancaman militer konvensional.
Persaingan ekonomi, pengaruh politik, perang informasi, keamanan siber, hingga perebutan akses terhadap sumber daya strategis diperkirakan akan menjadi medan kompetisi utama abad ke-21.
Dengan posisi geografis yang sangat strategis dan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain penting dalam tatanan dunia baru.
Namun di saat yang sama, posisi tersebut juga menempatkan Indonesia di tengah pusaran kepentingan berbagai kekuatan global yang terus berebut pengaruh di kawasan Indo-Pasifik.