SURYA.CO.ID - Dunia militer dan pemerintahan Indonesia tengah dirundung duka cita yang mendalam.
Salah satu putra terbaik bangsa yang dikenal sebagai prajurit tangguh, Jenderal (Purn) TNI Ryamizard Ryacudu, dilaporkan telah tutup usia pada Minggu, 31 Mei 2026.
Almarhum merupakan tokoh besar yang pernah mengemban amanah sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) dan Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia.
Sebelum berpulang, Ryamizard sempat menjalani perawatan medis secara intensif di ruang Cardiac Intensive Care Unit (CICU) RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, akibat kondisi kesehatan yang menurun.
Ryamizard Ryacudu lahir di Palembang pada 21 April 1950.
Dia tumbuh dalam lingkungan militer yang sangat kental.
Ayahnya adalah Musannif Ryacudu, seorang perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang melegenda dan merupakan salah satu orang kepercayaan Presiden pertama RI, Soekarno.
Dalam hubungan kekeluargaan, Ryamizard juga terhubung dengan tokoh-tokoh penting di negeri ini.
Ryamizard merupakan menantu dari mantan Wakil Presiden RI, Try Sutrisno, setelah menikah dengan Nora Tristyana.
Selain itu, Ryamizard juga merupakan kakak kandung dari Syamsurya Ryacudu.
Dedikasinya di jalur militer ditempa sejak muda melalui Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI).
Guna mematangkan ilmu kepemimpinannya, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Khusus Calon Perwira pada tahun 1985–1986, serta menuntaskan pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) pada tahun 1991.
Baca juga: Sosok Laksda TNI Purn Leonardi yang Minta Jokowi Bersaksi di Sidang Korupsi Satelit yang Menjeratnya
Karier militer Ryamizard dikenal sangat moncer dengan berbagai penugasan strategis.
Namanya mulai mendapat perhatian luas saat ia menjabat sebagai Panglima Kodam (Pangdam) V/Brawijaya, yang kemudian berlanjut dengan tanggung jawab sebagai Pangdam Jaya.
Saat menjabat sebagai Pangdam Jaya, ia memainkan peran krusial dalam menjaga stabilitas dan keamanan Ibu Kota di tengah situasi politik yang sangat dinamis pada era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Ketegasannya dalam mengawal keamanan negara membuatnya sangat disegani.
Kepercayaan pimpinan terhadap kemampuannya terus meningkat.
Ryamizard kemudian dipercaya memegang tongkat komando sebagai Panglima Kostrad (Pangkostrad).
Puncak kariernya di TNI Angkatan Darat tercapai ketika ia dilantik menjadi KSAD untuk periode 2002–2005.
Menariknya, di akhir masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, Ryamizard sempat dicalonkan menjadi Panglima TNI.
Namun, seiring dengan peralihan kepemimpinan nasional ke era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pencalonan tersebut tidak berlanjut dan posisi Panglima TNI akhirnya dijabat oleh Marsekal Djoko Suyanto.
Setelah purna tugas dari kedinasan militer, nama Ryamizard tetap mewarnai panggung nasional.
Meski dikenal dekat dengan Megawati Soekarnoputri, ia sempat menyatakan tidak memiliki ambisi untuk terjun langsung ke politik praktis.
Namun, karena kapabilitasnya, ia sering disebut dalam bursa calon pemimpin nasional.
Dukungan politiknya mulai terlihat secara nyata pada Pilpres 2014, di mana ia berdiri di barisan pendukung pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
Ryamizard tidak hanya memberikan dukungan simbolis, tetapi juga turut memberikan arahan dan motivasi bagi para sukarelawan selama masa kampanye.
Setelah pasangan tersebut terpilih, Presiden Joko Widodo memberikan mandat kepada Ryamizard untuk menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI dalam Kabinet Kerja periode 2014–2019. Selama lima tahun menjabat, ia dikenal sangat vokal dalam menyuarakan konsep bela negara dan kedaulatan wilayah NKRI.
Sepanjang hayatnya, Jenderal Ryamizard Ryacudu telah dianugerahi berbagai penghargaan dan tanda kehormatan tingkat tinggi, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.