TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Ratusan pemuda secara kompak menelusuri jejak arsitektur yang dibangun pascagempa bumi tahun 2006 silam di Padukuhan Ngibikan, Kalurahan Canden, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta pada Minggu (31/5/2026) siang.
Berdasarkan pantauan Tribunjogja.com, mereka terlihat fokus mendengarkan penjelasan salah satu personel Yayasan Eko Agus Prawoto terkait bagaimana bangunan itu berdiri dengan kuat dan masih bisa dipergunakan sampai saat ini.
Anggota Yayasan itu, Maryono (65), menceritakan bagaimana kondisi gempa terjadi pada dua dekade yang lalu. Kala itu, ia sedang berada di rumah, tiba-tiba terjadi gempa bumi dan meluluhlantahkan seluruh bangunan.
"Setelah gempa itu, saya ditelepon sama arsitek Pak Eko Prawoto. Pak Eko bilang kalau pagar rumahnya roboh dan meminta tolong untuk dibenahi. Terus saya bilang maaf, rumah dan tempat saya roboh semua. Rumah yang berdiri hanya di tempat saya," ucap dia.
Dari situ, arsitek Eko datang dan mengecek kondisi rumah warga di Padukuhan Ngibikan. Ternyata benar, bahwa kondisi rumah warga Padukuhan Ngibikan roboh dikarenakan terdampak gempa.
Beberapa waktu kemudian, arsitek Eko datang ke lokasi tersebut dan menyampaikan ada bantuan dari Dana Kemanusiaan Kompas. Selanjutnya, dihitung jumlah unit rumah yang akan dibenahi. Total ada 65 unit rumah yang terdiri atas 50 unit rumah warga Padukuhan Ngibikan dan 15 unit Padukuhan Banyu Dono yang dibenahi.
"Waktu itu dihitung satu rumah butuh dana sekitar Rp20 juta. Tapi, pihak yang membantu berdonasi enggak bisa karena merasa keberatan. Akhirnya dihitung lagi, jadi butuh Rp8 juta per rumah. Tapi, sama Pak Eko digenapi Rp10 juta per rumah karena untuk kebutuhan makan dan lainya. Dan desain rumah dibuat oleh Pak Eko," terangnya.
Dari situ, ia mengajak seluruh warga untuk bahu membahu membangun rumah. Tak disangka, selama tiga bulan berlalu, sebanyak 65 unit rumah berhasil berdiri. Rencana awal, rumah itu dimungkinkan hanya bertahan selama lima tahun. Namun ternyata sampai sekarang rumah yang dibangun tersebut masih berdiri kokoh.
Sementara itu, Rinawati Adhypranata istri mendiang arsitek Eko Prawoto, menjelaskan ada puluhan rumah yang dibangun dari tangan Eko bersama mandor Maryono. Ia merasa senang, sampai saat ini bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan dihuni oleh masyarakat.
"Memang, almarhum suami saya ini turut serta membantu membuat desain rumah. Dan dulu kami membuat rumah warga dengan memanfaatkan bahan yang ada. Bahkan, kayu yang masih bisa dipakai, ya dipakai untuk membangun rumah. Karena kami ingin meminimalkan budget bangunan, jadi bisa memaksimalkan banyaknya rumah yang bisa dibangun," tutur dia.
Selama tiga bulan tersebut, warga setempat dipaksa menjadi tukang. Padahal, profesi warga setempat cukup beragam. Selanjutnya, warga dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan bagiannya masing-masing. Dengan demikian pengerjaan rumah menjadi cepat selesai.
"Jadi, selama tiga bulan itu tidak ada warga yang bekerja mencari uang. Mereka hanya bekerja untuk membenahi rumah. Dan selama tiga bulan itu, kami buat dapur umum. Ibu-ibu warga setempat yang memasak. Suplai bahan makanan dan bangunan semuanya dari Dana Kemanusiaan Kompas," terangnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa gelaran susur Padukuhan Ngibikan pada saat ini tidak hanya sebagai refleksi gempa bumi saja, tetapi juga didedikasikan untuk mengenang kepergian Pak Eko. Apalagi, pelaksanaan susur ini berdekatan dengan waktu 1.000 hari kepergian Eko. Eko sendiri tutup usia pada tahun 2023, karena sakit.
Ketua Yayasan Eko Agus Prawoto, Krisna Tjahja, mengatakan, kegiatan susur ini tidak hanya sebagai refleksi gempa bumi, tetapi ingin mengajak masyarakat untuk merajut kembali harapan melalui arsitektur yang sepenuhnya dikonstruksi dari percakapan tulus.
"Dalam pelaksanaan ini, kami tidak hanya melakukan susur desa, tetapi ada bedah buku Pak Eko dan diskusi artitektur. Jadi, kami memang mengadakan kegiatan ini selain untuk refelksi gempa, kami ingin mengenalkan sejarah kejadian masalalu dan bagaimana penanganannya kepada artitek dan masyrakat," katanya.
Pihaknya sengaja menggandeng para generasi muda sebagai penerus bangsa untuk menjaga dan meneruskan warisan yang sudah ada. Apalagi, Padukuhan Ngibikan telah menjadi perhatian dunia dikarenakan sebagai salah satu lokasi dengan penanganan pascagempa tercepat.
Kendati begitu, warga terkadang tidak sadar bahwa desa mereka menjadi daya tarik dunia. Padahal, 80 persen dari total puluhan bangunan yang dibangun pasca gempa bumi tahun 2006 silam, masih dalam kondisi baik dan masih dihuni oleh masyarkat sampai saat ini.
"Padahal, sama Pak Eko dulu, bangunan itu hanya dibangun sebagai tempat shelter sementara. Ternyata, selama 20 tahun ini masih kokoh, masih dipakai, dan para penghuninya enggan mengubah bentuk bangunan yang ada," ucap Krisna.
Pemilik Cemeti Institute Art and Society, Nindityo Adipurnomo, terlihat hadir dalam acara tersebut. Ia mengaku tidak lagi melihat bangunan karya Eko dan Maryono sekadar dari analisis fisik, melainkan sebagai bentuk ekspresi keterampilan dan kearifan lokal dari para penghuninya.
"Yang paling penting menurut saya, bahwa ini adalah induk dari kearifan lokal. Rumah-rumah yang ada ini kan juga dibuat dari bahan lokal dan tenaga lokal atau warga asli itu sendiri. Nah ini yang menurut saya perlu diapresiasi," tandas dia.(nei)