AI Bisa Dimaksimalkan untuk Jawab Tantangan Ketahanan Pangan
Choirul Arifin May 31, 2026 09:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) selama beberapa tahun terakhir kerap dikaitkan dengan otomatisasi industri, efisiensi operasional, dan transformasi model bisnis. Berbagai sektor berlomba memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing.

Namun, menurut peneliti yang juga Chief Partnership Officer Benih Baik Indonesia, Al Greeny S. Dewayanti, potensi terbesar AI justru dapat ditemukan pada sektor yang paling mendasar bagi kehidupan manusia, yakni pangan dan lingkungan.

"Selama ini AI banyak dibicarakan dalam konteks bisnis dan efisiensi. Padahal, teknologi ini memiliki potensi besar untuk membantu menjawab tantangan ketahanan pangan, memulihkan lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di situlah menurut saya teknologi bisa memberikan dampak yang paling bermakna," ujar Greeny dalam keterangannya, Minggu (31/5/2026).

Menurut Greeny, tantangan yang dihadapi sektor pangan saat ini semakin kompleks. Pertumbuhan populasi, perubahan iklim, penurunan kualitas tanah, serta keterbatasan akses teknologi bagi petani menjadi persoalan yang saling berkaitan.

Pendekatan konvensional tidak lagi cukup. Dibutuhkan inovasi yang mampu menghubungkan data, riset ilmiah, dan kebutuhan masyarakat secara nyata.

"Teknologi tidak hanya harus membuat pekerjaan menjadi lebih cepat atau lebih murah. Teknologi juga harus membantu kita menjaga sumber daya alam yang semakin terbatas dan memastikan generasi berikutnya tetap memiliki akses terhadap pangan dan lingkungan yang sehat," katanya.

Baca juga: YouTube Terapkan Deteksi AI Otomatis untuk Video yang Diunggah Kreator

Pandangan tersebut menjadi dasar pengembangan program Land Innovation for Food and Empowerment (LIFE), sebuah inisiatif pertanian regeneratif berbasis AI yang mengintegrasikan riset DNA tanah, aplikasi digital untuk petani, serta pemberdayaan komunitas lokal di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Melalui pendekatan berbasis data dan teknologi, program LIFE berupaya memulihkan kesehatan tanah untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membangun model pembangunan ekonomi desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dalam pengembangannya, LIFE melibatkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk GSI-Lab untuk riset dan analisis ilmiah serta Pastor Samuel Pangestu yang turut mendorong pemberdayaan masyarakat di wilayah Labuan Bajo dan Pulau Komodo.

Bagi Greeny, teknologi tidak boleh berhenti pada penciptaan efisiensi ekonomi semata. Teknologi harus mampu menjadi instrumen untuk menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang lebih luas.

Baca juga: Meta AI di WhatsApp Kini Bisa Membaca PDF dan Dokumen, Fitur Baru Hadir di iPhone

"Teknologi tidak hanya mengakselerasi pertumbuhan usaha, tetapi juga dapat memperkuat ketahanan pangan, menjaga lingkungan hidup, dan menciptakan dampak sosial yang lebih besar bagi masyarakat," ujarnya.

Atas konsistensinya mengembangkan pendekatan pertanian regeneratif berbasis AI, program LIFE memperoleh pendanaan dari National Geographic Society dan PepsiCo melalui program Food for Tomorrow dan membawanya menjadi bagian dari National Geographic Explorer atas kontribusinya dalam mengembangkan solusi yang menggabungkan teknologi, keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Meski dikenal memiliki latar belakang panjang di industri perbankan, telekomunikasi, media digital, dan pernah mendirikan platform streaming Genflix, Greeny mengaku perjalanan hidupnya mengalami perubahan setelah menjalani Camino de Santiago, jalur peziarahan bersejarah di Eropa yang telah beberapa kali ia tempuh.

Pengalaman tersebut membawanya pada refleksi mengenai makna keberhasilan dan dampak yang ingin ditinggalkan bagi masyarakat. Dari sana, fokusnya bergeser dari semata membangun bisnis menuju menciptakan perubahan yang lebih luas melalui pendekatan sociopreneurship.

"Kita sedang memasuki era di mana sustainability bukan lagi sekadar program CSR, melainkan bagian dari strategi bisnis dan masa depan ekonomi. Bekerja untuk keberlangsungan pangan, menjaga lingkungan hidup, dan memperkuat ekonomi masyarakat merupakan tanggung jawab bersama," kata Greeny.

Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi contoh bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menjawab tantangan global.

Dengan kekayaan sumber daya alam, keanekaragaman hayati, dan komunitas pertanian yang luas, pemanfaatan AI di sektor pangan dan lingkungan dapat menjadi fondasi pembangunan yang lebih berkelanjutan.

"Saya merasa hidup saya berarti ketika apa yang saya kerjakan memberi dampak bagi keberlangsungan kehidupan. Saya ingin meninggalkan warisan yang baik bagi lingkungan dan masyarakat, sehingga generasi mendatang tetap dapat menikmati kehidupan yang lebih baik," ujarnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.