Profil Ryamizard Ryacudu yang Meninggal Dunia di Usia 76 tahun
Dedy Qurniawan May 31, 2026 09:03 PM

BANGKAPOS.COM - Dunia militer Tanah Air berduka, setelah mantan Menteri Pertahanan (Menhan) periode 2014–2019, Jenderal TNI Purnawirawan Ryamizard Ryacudu, dilaporkan meninggal dunia pada Minggu (31/5/2026) siang.

Kabar duka ini menyelimuti keluarga besar TNI setelah almarhum mengembus napas terakhirnya pada pukul 14.03 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

Pria yang menutup usia di umur 76 tahun ini rencananya akan disemayamkan oleh pihak keluarga dan kerabat di rumah duka yang beralamat di Perumahan Puri Wira Bhakti 1/1b Cikeas, Bogor, Jawa Barat.

Ryamizard Ryacudu Meninggal Karena Apa dan Sakit Apa?

Berdasarkan informasi resmi dari pihak keluarga, sang jenderal purnawirawan bintang empat ini sebelumnya sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat sakit yang dideritanya.

Faktor usia yang sudah menginjak 76 tahun serta riwayat kesehatan selama menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto menjadi penyebab utama Ryamizard Ryacudu meninggal dunia.

Selama menjalani misi pertempuran yang berat di masa lalunya, tak sedikit pula luka fisik yang didapat Ryamizard yang turut memengaruhi kondisi kesehatannya di masa tua.

Kisah Ryamizard Ryacudu Muda di Medan Pertempuran

Menengok kembali masa mudanya, Ryamizard Ryacudu muda dikenal sebagai sosok perwira lapangan yang sangat tegas, nasionalis, dan punya dedikasi tinggi untuk NKRI.

Lahir di Palembang pada 12 April 1950, ia merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1974 dari kecabangan Infanteri.

Sejak awal kariernya sewaktu muda dengan pangkat letnan dua hingga perwira menengah berpangkat Kolonel, Ryamizard menghabiskan banyak waktunya di medan operasi yang berbahaya.

Ryamizard muda ditugaskan dalam Operasi Gabungan bersama TDM Malaysia pada 1976-1982 dan dikirim ke pedalaman Kalimantan untuk menumpas gerakan komunis sisa-sisa PGRS/Paraku pada akhir era 1970-an.

Ia juga bertugas dalam Operasi Kala (PGRS) pada 1981 sebagai Komandan Peleton (Danton), Operasi Kemudi I dan II Malindo, hingga Operasi Seroja di Timor Timur pada tahun 1983-1984.

Ketangguhannya di masa muda membuat ia dipercaya menjadi Komandan Kontingen Garuda XII-B (1992-1993) oleh pasukan PBB untuk membantu mengatasi konflik berdarah di Kamboja.

Baca juga: Biodata Zara Adhisty yang Menikah di Usia 22 Tahun dengan Tsaqib

Rekam Jejak Karier Cemerlang dan Pengaruh di Militer

Karier militer Ryamizard di tubuh TNI AD terbilang sangat kinclong dengan menduduki sejumlah posisi strategis, mulai dari Pangdam V/Brawijaya (1999) hingga Pangdam Jaya (1999–2000).

Ia kemudian dipromosikan menjadi Pangkostrad (2000–2002) sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada periode 2002–2005 di era Presiden Megawati Soekarnoputri.

Setelah 10 tahun pensiun dari dunia militer, Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Pertahanan dalam Kabinet Kerja periode 2014-2019, di mana program Bela Negara menjadi warisan terbesarnya.

Semasa menjabat Menhan, ia pernah mendapat kehormatan luar biasa lewat sambutan 21 dentuman meriam yang setara penghormatan kepala negara saat berkunjung ke markas Pentagon di Amerika Serikat pada 29 Agustus 2018.

Di Pentagon, ia bertemu sahabat dekatnya Menhan AS James Mattis dan menyatakan, “Suatu kebahagiaan bagi kami dapat diterima secara pribadi oleh rekan saya Menhan AS Jenderal James Mattis, di mana saya memandang Jenderal Mattis adalah sahabat terdekat saya yang sangat istimewa untuk saya disandingkan rekan menhan-menhan lainnya di dunia,” ujar Ryamizard, di Pentagon, Washington DC.

Kedekatan dengan Prabowo Subianto

Hubungan emosional antara Ryamizard Ryacudu dan penggantinya, Prabowo Subianto, sudah terjalin sangat lama sejak mereka sama-sama menempuh pendidikan militer.

Saat upacara serah terima jabatan pada tahun 2019, Ryamizard mengenang masa-masa perjuangan mereka di Akabri.

"Dari awal masuk (Akabri), diplonco sampai jungkir balik, saya dan Prabowo bersama-sama. Di Kemenhan juga bersama-sama" ucapnya.

Dalam momen perpisahan tersebut, Ryamizard juga menegaskan komitmen seumur hidupnya untuk tetap mengabdi sekuat tenaga kepada tanah air.

"Saya juga setelah ini tidak diam-diam saja, tetap mengabdi pada bangsa dan negara," kata Ryamizard di Kantor Kemenhan, Kamis (24/10/2019).

Jiwa patriotisme sang jenderal lapangan ini tercermin kuat dari prinsip hidupnya yang rela menyerahkan segalanya demi tegaknya NKRI.

"Kalau orang (lain) banyak yang mewakaf tanah, wakaf masjid, tapi saya wakafkan nyawa saya untuk negara ini," katanya.

Kini, veteran perang yang telah mewakafkan seluruh hidup dan raganya demi kejayaan Indonesia tersebut telah resmi meninggalkan kita semua untuk selamanya. (Kompas.com/ Tribun Lampung)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.