Refleksi Mei, Koodinator SJIK Kalsel Soroti Pendidikan, Buruh Hingga Lingkungan Hidup di Banua
Irfani Rahman May 31, 2026 09:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU -Sejumlah hari peringatan mewarnai setiap bulan Mei 2026. Berbagai peringatan di bulan Mei seperti Hari Buruh, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Hari Kebangkitan Nasional, dan Reformasi.

Koordinator Social Justice Institute Kalimantan (SJIK), Wira Surya Wibawa, SH, MH pendidikan, kesejahteraan, demokrasi, lingkungan, hingga masa depan Kalsel mejadi refeleksi pada bulan Mei.

Menurutnya, pendidikan pada hakikatnya tidak hanya mencetak tenaga kerja, tetapi juga bertujuan untuk membangun karakter, kesadaran sosial, serta kemampuan berpikir kritis.

Pada momen Hardiknas 2026, ia menyebut bahwa saat ini masih terdapat dan ditemukan kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedalaman. Serta tantangan akses dan ekonomi bagi pelajar.

“Sementara pada saat yang sama dunia sedang berubah begitu cepat akibat perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan transformasi ekonomi global yang menuntut kemampuan baru yang belum tentu seluruh lembaga pendidikan mampu menjawabnya dengan cepat, ujarnya, Minggu (31/5/2026).

Baca juga: Stasiun Charging Kendaraan Listrik bakal Dibangun di Siring 0 Km, 3 Pengisian untuk Sepeda Motor

Baca juga: Terungkap Identitas Mayat Wanita dengan Luka Pada Leher di Pengaron Banjar, Warga Lok Tunggul

Pendidikan ujarnya seharusnya tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja tetapi juga warga negara yang mampu berpikir kritis terhadap persoalan sosial.

Lanjut Wira, Hari Buruh juga mengingatkan bahwa di balik berbagai angka pertumbuhan ekonomi, terdapat jutaan pekerja yang menjadi fondasi utama roda perekonomian daerah.

“Mulai dari pekerja perkebunan sawit, pekerja tambang, buruh, pekerja sektor jasa, guru honorer, tenaga kesehatan, hingga pekerja informal yang sering kali tidak terlihat dalam statistik resmi, namun justru menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi ketidakpastian ekonomi,” ujarnya.

Wita juga menyoroti soal kekayaan alam Kalsel yang cukup besar. Namun, ia mempertanyakan mandaat yang dirasakan masyarakat secara luas.

“Sebab pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan peningkatan kualitas hidup seluruh warga, dan pembangunan tidak selalu berarti keadilan,” jelasnya.

Lebih lanjut, momentum Reformasi yang setiap tahun diperingati pada 21 Mei juga menghadirkan pertanyaan yang tidak pernah benar-benar selesai dijawab, yakni sejauh mana cita-cita reformasi telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Menurtnya, korupsi, ketimpangan sosial, dan konflik sumber daya alam masih menjadi tantangan yang perlu diselesaikan.

Selin itu, lingkungan hidup juga dibilai menjadi isu penting akibat perubahan bentang alam, banjir, pencemaran sungai, dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati.

Pembangunan ekonomi juga menurutnya harus berjalan seimbang dengan pelestarian lingkungan untuk menjamin keberlanjutan masa depan.

(Banjarmasinpost.co.id/Rizki Fadillah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.