Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Di tengah harga kopi yang mulai stabil di tingkat petani, pelaku usaha pengolahan kopi di Kabupaten Kepahiang masih menghadapi tantangan berupa meningkatnya biaya produksi.
Salah satunya dirasakan usaha roasting Kopi Cendikia yang berada di Desa Pagar Gunung, Kabupaten Kepahiang.
Pemilik usaha Roasting Kopi Cendikia, Ari Ando (40), mengatakan minat masyarakat untuk melakukan roasting kopi masih cukup baik dan relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Ari, jasa roasting yang dikelolanya mematok tarif Rp 10 ribu per kilogram.
Dengan biaya tersebut, pelanggan sudah menerima kopi dalam bentuk bubuk yang siap dikonsumsi.
"Biaya sekali roasting itu Rp 10.000 per kilogramnya, sudah langsung terima bubuk," ucap Ari.
Ia menjelaskan, proses roasting membutuhkan waktu sekitar satu jam hingga kopi selesai diolah dan siap digiling menjadi bubuk.
"Dalam sekali roasting estimasi waktu yang diperlukan itu satu jam sampai dengan selesai," kata Ari.
Usaha roasting yang dikelolanya beroperasi setiap hari mulai pukul 09.00 WIB hingga 17.00 WIB.
Pada hari-hari ramai, jumlah kopi yang diroasting bisa mencapai 10 hingga 15 kilogram per hari.
"Iya, kita buka setiap hari dari jam 09.00 sampai 17.00 WIB. Dalam sehari kalau lagi ramai bisa 10 sampai 15 kilogram roasting," jelas Ari.
Ari menuturkan, penggunaan mesin roasting modern menjadi salah satu keunggulan usahanya.
Mesin tersebut dinilai mampu menghasilkan tingkat kematangan kopi yang lebih merata karena suhu dapat diatur sesuai kebutuhan.
"Kita meroasting menggunakan mesin ini, kelebihannya lebih merata karena suhunya bisa diatur dan lebih higienis. Hal tersebut mempengaruhi rasa kopi," ungkap Ari.
Meski harga kopi sebagai bahan baku saat ini relatif lebih rendah dibanding beberapa waktu lalu, Ari mengaku masih menghadapi tekanan dari kenaikan biaya produksi lainnya.
Menurutnya, sejumlah kebutuhan penunjang seperti plastik kemasan dan gas mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan.
"Harga kopi sekarang memang ada pengaruhnya sedikit dengan kita dari segi bahan baku yang relatif murah, namun biaya produksinya meningkat seperti plastik untuk packing dan gas yang naik karena kita juga menerima dan menjual kopi bubuk," ujar Ari.
Ia menyebut harga plastik kemasan saat ini bahkan mengalami kenaikan hingga dua kali lipat dibanding sebelumnya.
"Plastik ini yang naiknya sudah dua kali lipat. Dulu Rp 7.000, sekarang sudah Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per kilogramnya," kata Ari.
Meski demikian, Ari tetap optimistis usaha yang dijalankannya dapat terus berkembang.
Ia berharap harga bahan-bahan produksi dapat kembali stabil sehingga pelaku usaha kopi dapat memperoleh keuntungan yang lebih baik.
"Harapan kita bahan produksi dapat kembali stabil agar usaha kita bisa lebih berkembang lagi dengan keuntungan yang lebih baik," pungkas Ari.