Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha
TRIBUNNEWS.COM, SOLO - Tahun 1997 menjadi titik balik dalam kehidupan Laksmini. Saat itu, pabrik garmen tempat perempuan yang akrab disapa Laksmi tersebut bekerja tutup dan membuatnya kehilangan mata pencaharian.
Di usia yang masih produktif, ia harus mencari cara lain untuk menyambung hidup. Pilihannya kemudian jatuh pada satu kemampuan yang selama ini hanya menjadi kegemaran di rumah: memasak.
"Saat itu, saya teringat hobi memasak yang saya miliki," kata Laksmi saat ditemui di warungnya di shelter kuliner sisi barat Stadion Manahan Solo, Sabtu (16/5/2026).
Dari modal sederhana, ia mulai berjualan nasi liwet dan nasi gudeg di kawasan selatan Stadion Manahan. Lapaknya hanya berupa meja dan tenda yang dipasang menempel di pagar stadion.
Pembeli datang silih berganti. Ada yang sengaja mencari nasi liwet, ada pula yang sekadar mampir seusai berolahraga atau beraktivitas di sekitar Manahan.
Perlahan usaha tersebut berkembang. "Dulu saya hanya jual di depan area stadion, sekarang sudah jauh berkembang," ujarnya.
Hampir tiga dekade berlalu sejak pertama kali membuka lapak kaki lima. Kini Laksmi memiliki tiga warung yang tersebar di Manahan, Mangkubumen, dan Gonilan.
Perubahan besar berikutnya datang ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020.
Pembatasan aktivitas masyarakat membuat jumlah pelanggan yang datang langsung ke warung menurun. Situasi tersebut mendorong Laksmi mencari cara agar usahanya tetap berjalan.
Saat itulah ia mulai mempelajari layanan pemesanan makanan berbasis aplikasi.
Baca juga: Sepiring Tahu Kupat dan Kisah Pedagang Kecil Bertahan di Manahan
"Saya tidak mau kudet alias kurang update. Jadi saya belajar dan menyesuaikan diri ikuti perkembangan teknologi," tuturnya sambil tersenyum.
Bagi Laksmi yang saat itu sudah berusia tidak muda lagi, menggunakan aplikasi bukan perkara mudah. Ia mengaku sempat kebingungan memahami berbagai fitur yang tersedia.
Beruntung, sang anak membantu mengenalkan cara menerima pesanan, memproses transaksi, hingga menyiapkan makanan yang akan diambil pengemudi ojek online.
Sedikit demi sedikit ia mulai terbiasa.
Karena memiliki tiga warung, pengetahuan yang diperolehnya kemudian diteruskan kepada para pegawai.
"Karena memiliki tiga warung, saya juga mengajarkan semua pegawai saya tentang aplikasi ini," jelasnya.
Saat ini, pesanan yang masuk tidak hanya berasal dari pelanggan yang datang langsung ke warung, tetapi juga dari berbagai platform pemesanan makanan.
Selain memanfaatkan aplikasi pemesanan makanan, Laksmi juga mulai terbiasa menggunakan layanan perbankan digital untuk mengelola usaha.
Ia memiliki dua akun pada aplikasi pemesanan makanan yang berbeda, masing-masing untuk menu nasi liwet dan gudeg ceker serta untuk ayam geprek.
Pendapatan dari ketiga warung kemudian dikelola melalui satu rekening usaha.
"BRImo sangat membantu saya dalam mengelola keuangan. Semua pendapatan masuk ke BRImo, dan saya juga menggunakannya untuk top up saldo aplikasi makanan," ujarnya.
Di sisi pembayaran, penggunaan QRIS juga semakin sering ditemui. Menurut Laksmi, banyak pelanggan kini memilih memindai kode QR dibanding membayar tunai.
"Dengan QRIS, saya jadi tidak repot memberikan uang kembalian, jadi hemat receh-receh," ucap dia.
Penggunaan QRIS tidak hanya dirasakan Laksmi. Ketua Paguyuban Pedagang Shelter Manahan, Koko Kuncoro, mengatakan sebagian besar pedagang di kawasan tersebut telah memanfaatkan sistem pembayaran nontunai.
Pedagang soto ayam itu melihat perubahan kebiasaan pelanggan dalam beberapa tahun terakhir.
Tak hanya kalangan muda, pelanggan berusia lanjut juga mulai terbiasa menggunakan pembayaran berbasis QRIS.
"Dan 120 pedagang di shelter Manahan ini mayoritas sudah pakai QRIS," kata Koko.
Menurutnya, sistem pembayaran tersebut memudahkan kedua belah pihak karena transaksi dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus menyediakan uang pas atau uang kembalian.
"Baik pembeli dan pedagang kan inginnya mudah, cepat dan aman. Ya pakai QRIS," tegasnya.
Founder Creative Space Solo, Joko Purwono, menilai penggunaan teknologi dalam aktivitas perdagangan di Solo terus meningkat.
Meski demikian, masih ada kelompok pedagang yang membutuhkan pendampingan, terutama mereka yang berusia lanjut.
Menurutnya, sosialisasi saja belum cukup apabila tidak diikuti pendampingan secara langsung.
"Di shelter, di pasar-pasar memang sudah banyak pakai QRIS, tapi masih ditemukan yang belum bahkan enggan pakai QRIS. Kan ada juga yang sepuh lalu sudah lanjut usia tak tahu caranya, jadi kita harap ada pendampingan lanjut," ujarnya.
(*)