Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo
POS-KUPANG.COM, ENDE - Sebuah fakta menarik terungkap dari keberadaan patung Bung Karno di Taman Renungan Bung Karno, Kota Ende, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Posisi kaki patung sang proklamator yang selama ini menjadi salah satu ikon wisata sejarah di Kota Ende disebut tidak sesuai dengan kebiasaan asli Bung Karno saat duduk menyilangkan kaki.
Pada patung yang berada di kawasan Taman Renungan Bung Karno tersebut, Bung Karno digambarkan menyilangkan kaki kiri dan menumpangkannya di atas kaki kanan.
Namun menurut sejumlah penjaga sejarah dan saksi keluarga yang mengetahui kehidupan Bung Karno selama masa pengasingannya di Ende, kebiasaan asli Bung Karno justru sebaliknya.
Baca juga: Sebelum ke Ende, Ternyata Bung Karno Hendak Diasingkan di Mataloko Ngada
Saat duduk, Bung Karno disebut selalu menyilangkan kaki kanan dan menumpangkannya di atas kaki kiri, dengan kedua tangan terkatup atau dijepit di atas lutut.
Fakta tersebut tidak hanya disampaikan oleh ahli waris keluarga yang memiliki kedekatan dengan sejarah pengasingan Bung Karno di Ende, tetapi juga diperkuat oleh pengamatan terhadap sejumlah foto dokumentasi Bung Karno selama berada di Kota Ende.
Foto-foto hasil jepretan para fotografer pada masa pengasingan itu memperlihatkan Bung Karno saat bersama keluarga maupun sahabat-sahabatnya di Ende. Dalam beberapa foto tersebut terlihat posisi duduk Bung Karno yang berbeda dengan penggambaran pada patung di taman renungan.
Selain posisi kaki yang dianggap tidak sesuai, letak dan gaya duduk patung Bung Karno di taman tersebut juga disebut tidak menggambarkan kondisi sebenarnya saat Bung Karno melakukan perenungan.
Hal itu diungkapkan Syamsul Bahri, anak dari Ruslan Uttu, salah seorang sahabat dekat Bung Karno sekaligus rekan bermain tonil selama masa pengasingan di Ende.
Menurut Syamsul Bahri, ketika merenungkan nilai-nilai yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila, Bung Karno tidak pernah duduk di kursi sebagaimana digambarkan pada patung saat ini.
“Beliau duduk itu tidak pernah di kursi kalau di Taman Renungan. Beliau selalu duduk bersila seperti orang mau yoga tepat di bawah pohon sukun memang. Itu kan mereka pindahkan,” ungkap Syamsul Bahri, Minggu (31/5/2026).
Syamsul yang merupakan anak ke-12 dari 14 bersaudara pasangan Ruslan Uttu dan Sania Haji Hallim itu menjelaskan, pohon sukun yang ada saat ini juga bukan lagi pohon asli yang pernah menjadi tempat Bung Karno merenung.
Menurutnya, pohon sukun yang sekarang merupakan hasil penanaman ulang setelah pohon sukun asli yang pernah menjadi saksi sejarah tersebut mati.
Ia menambahkan, persoalan posisi duduk dan letak patung Bung Karno sebenarnya pernah disampaikan kepada pemerintah daerah pada masa kepemimpinan Bupati Don Wangge.
Bahkan, ia mengaku pernah menyampaikan langsung hal tersebut kepada Taufik Kiemas saat peresmian Patung Bung Karno di Taman Renungan yang dilakukan oleh Wakil Presiden Boediono pada tahun 2013.
“Saya pernah langsung sampaikan ke Taufik Kiemas waktu Pak Boediono datang. Saat mau gunting pita, saya sudah bilang kalau posisi duduk itu salah. Tapi tanggapannya tidak ada masalah. Dia bilang ini kan proyek. Saya bilang proyek, tapi kenapa posisi kakinya salah,” ujar Syamsul.
Sorotan serupa juga disampaikan Syafrudin, penjaga Rumah Pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Kota Ende.
Menurut Syafrudin, setelah membandingkan posisi patung dengan foto-foto Bung Karno yang terpajang di Rumah Pengasingan Bung Karno, terlihat adanya perbedaan yang cukup jelas.
“Setelah saya perhatikan di Taman Renungan dan juga foto-foto yang terpampang di rumah pengasingan, posisi duduk itu kaki kanan yang ditumpangkan ke kaki kiri dan tangan dijepit,” ujarnya.
Ia berharap ke depan pemerintah dapat melakukan penyesuaian terhadap posisi duduk maupun penempatan patung agar lebih sesuai dengan fakta sejarah dan kondisi asli yang pernah terjadi pada masa pengasingan Bung Karno di Ende.
Keberadaan Taman Renungan Bung Karno sendiri memiliki nilai historis yang sangat penting.
Tempat ini diyakini sebagai lokasi Bung Karno merenungkan berbagai gagasan kebangsaan selama masa pengasingannya di Ende pada tahun 1934–1938, yang kemudian menjadi salah satu inspirasi lahirnya nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. (bet)