TRIBUNJATIMTIMUR.COM, JEMBER - Liburan keluarga yang didambakan Barokatul Hidayat berakhir menimbulkan kesedihan dan kekhawatiran bagi keluarga kecilnya.
Hingga Minggu (31/5/2026) sore, tubuh Barok, demikian panggilan akrab pria itu, masih belum ditemukan, begitu juga tubuh sang adik, Rifki.
Kakak beradik ini merupakan korban terseret ombak Pantai Payangan Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember.
Keduanya adalah warga Desa Suci, Kecamatan Panti, Jember, sebuah desa di lereng Gunung Argopuro yang berjarak sekitar 48 kilometer dari Pantai Seruni, yang berada di pesisir selatan Jember.
Baca juga: Hari Kedua Pencarian, Kakak Adik Terseret Ombak Pantai Seruni Payangan Jember Belum Ketemu
Belum ditemukannya tubuh kakak beradik itu menyebabkan rasa sedih mendalam dan kekhawatiran di keluarga itu, terutama bagi Musrihatul Hasanah (23), istri Barok.
Barok dan Rifki, sehari-harinya bekerja di Bali. Barok, meninggalkan istri dan anak perempuan yang berusia 6 tahun di Desa Suci.
Sebulan sekali, atau maksimal tiga bulan sekali, Barok pulang kampung.
Seperti yang dilakukan menjelang Lebaran Idul Adha kemarin. Rabu (20/5/2026) malam, Barok dan Rifki tiba di kampung halamannya.
Setelah 10 hari berada di rumah, Barok berkeinginan untuk bermain ke pantai.
"Memang keinginan dari lama, kepingin main ke pantai kalau liburan. Kemarin ini malah maksa sekali. Padahal saya sudah tidak mau, saya bilang bahaya main di laut. Saya ngajaknya ke tempat lain yang bukan laut, tetapi suami nggak mau," ujar Musrihatul.
Ibu muda itu tak kuasa menahan tangis dan lemas tubuhnya saat berbincang dengan saudara, dan menceritakan peristiwa memilukan yang terjadi Sabtu (30/5/2026) siang.
Menurutnya, yang pertama kali terseret ombak adalah Rifki.
Barok lantas memeluk sang adik, dan berusaha menyelamatkannya.
Namun gelombang yang berarus kencang menyeret mereka, sampai ke arah karang di sisi selatan Pantai.
Melihat tubuh suami dan adiknya terseret ombak, Mus nyaris ikut melompat.
Dia bahkan nekat menyeberang tepian pantai menginjak karang demi berusaha menyelamatkan sang suami.
Namun tubuh suami dan adiknya tidak terlihat, terbawa arus laut.
Beruntung warga memegang tubuh Mus sehingga tidak ikut nyemplung ke laut.
Setidaknya empat orang memegang tubuh Mus, dan menyadarkan perempuan itu dari rasa syoknya.
Sementara, sang anak dan ayah mertuanya tetap berada di tepian Pantai.
Keluarga kecil itu berwisata Lima orang, yakni Barok, Rifki, Musrihatul, sang anak, dan ayahnya Barok bernama Imam Syafii.
Kecuali Mus, semuanya memang mandi di laut. Mus memilih menemani sang anak mandi di tepian.
Sementara itu, Barok dan Rifki memilih agak ke tengah, di kedalaman sekitar perut orang dewasa.
"Biasanya main ke pantai hanya ke Puger. Baru pertama Kali ini main ke Pantai Payangan, belum pernah sama sekali," tutur Mus.
Menurut Mus, Barok memang ingin berwisata ke pantai itu jika libur kerja dan pulang ke Jember.
Di sisi lain, dia juga ingin mengajak keluarga kecilnya menikmati Hari libur.
Karenanya, setelah anaknya pulang dari sekolah TK, keluarga tersebut beriringan naik dua sepeda motor melaju ke Pantai selatan Jember.
Baca juga: Kronologi Kakak Adik Terseret Ombak di Jember, Istri Korban Sempat Ingin Ikut Lompat
Barok merupakan tulang punggung keluarga.
Enam tahun terakhir, dia merantau ke Bali untuk memperbaiki perekonomian keluarga.
Sebelum sang anak sekolah, dia mengajak anak dan istrinya juga merantau ke Bali, di daerah Sukawati.
Namun setahun terakhir, setelah sang anak masuk TK, dia merelakan istri dan anaknya hidup di Jember.
"Dia orang baik, segalanya bagi kami. Dia melakukan apa saja untuk keluarga," tegas Mus.
Sementara itu, Rifki baru lima tahun terakhir ikut bekerja di Bali. Dia menyusul sang kakak yang sudah bekerja di Bali.
Baca juga: Nahasnya Nasib Kakak Adik di Jember, Terseret Ombak saat Baru 10 Hari Pulang Kampung
(Sri Wahyuni/TribunJatimTimur.com)