Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Aceh Tamiang kembali mengalami penurunan drastis.
Dalam waktu singkat, harga sawit yang sebelumnya sempat bertahan di kisaran Rp3.300 per kilogram, kini merosot tajam hingga menyentuh angka Rp2.120 per kilogram, di tingkat petani.
Penurunan lebih dari Rp1.000 per kilogram ini menimbulkan keresahan mendalam.
Terutama bagi masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidup dari hasil kebun sawit.
Sejumlah petani mengaku pendapatan mereka terjun bebas akibat anjloknya harga.
El Mahdi, salah seorang petani sawit menyebutkan, bahwa dengan lahan dua hektare, kini penghasilannya hanya sekitar Rp2 juta per bulan.
Baca juga: Harga TBS Sawit di Aceh Jaya Masih Stagnan, Apkasindo Tunggu Sikap PKS Jalankan Instruksi Wamentan
Kondisi ini dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi yang tetap tinggi, mulai dari harga pupuk, ongkos panen, hingga biaya angkut yang tidak ikut turun.
Berdasarkan daftar harga pembelian TBS di pabrik kelapa sawit (PKS) wilayah Aceh Tamiang yang dirilis Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan setempat pada 29 Mei 2026 menyebutkan, mayoritas perusahaan membeli sawit di bawah Rp2.700 per kilogram.
PKS Pati Sari menetapkan harga Rp2.500 per kilogram, Parasawita Rp2.520 per kg, dan Sisirau Rp2.490 per kg.
Harga tertinggi tercatat di Mora Niaga Jaya sebesar Rp2.550 per kilogram, sementara mitra perusahaan mencapai Rp2.750 per kg.
PTPN IV Pulo Tiga membeli di harga Rp2.650, sedangkan PTPN IV Tanjung Seumentoh Rp2.550 per kg.
Di sisi lain, Tri Agro Palma Tamiang hanya berani membeli Rp2.380 per kilogram.
Namun, harga di tingkat petani jauh lebih rendah, yakni Rp2.120 per kilogram, sementara di tingkat pengumpul tercatat Rp2.320 per kg.
Baca juga: Harga Sawit Anjlok, Pemkab Aceh Singkil Didesak Panggil Perusahaan PMKS
Selisih harga yang cukup besar dibanding periode sebelumnya membuat banyak petani mengeluh karena hasil panen tidak lagi menutup biaya produksi.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa keberlanjutan usaha perkebunan rakyat akan semakin terancam jika harga tidak segera membaik.
Situasi ini menjadi sorotan serius karena kelapa sawit merupakan salah satu komoditas utama penopang ekonomi masyarakat Aceh Tamiang.
Pemerintah daerah diharapkan dapat mencari solusi bersama pihak terkait agar harga sawit kembali stabil, sehingga kesejahteraan petani tidak semakin terpuruk.(*)