Pengusaha Tape Bondowoso Terpukul Harga Singkong hingga Produksi Anjlok
Dyan Rekohadi June 01, 2026 01:32 AM

 

SURYA.CO.ID, BONDOWOSO - Pengusaha tape di Bondowoso mulai 'menjerit'  terdampak harga bahan baku singkong yang melonjak.

Sebulan terakhir harga singkong naik tajam, dari Rp 2.000 menjadi Rp 4.500 per kilogram.

Kenaikan ini diperkirakan dipicu oleh semakin menyusutnya lahan pertanian singkong akibat para petani beralih menanam tebu, jagung, sengon, dan kedelai.

Sementara itu, jumlah pengusaha tape di Bondowoso justru kian menjamur.

Imbasnya, kenaikan harga dan sulitnya mencari bahan baku singkong ini berdampak langsung terhadap produksi tape di Bondowoso.

Baca juga: Kisah Inspiratif Sunarko: 30 Tahun Berjuang Membangun Usaha Tape Singkong di Blitar

 

Kurangi Volume Produksi

Para pengusaha yang berada di Sentra Industri Tape di Desa Sumbertengah, Kecamatan Binakal termasuk yang terdampak.

Koordinator Pengusaha Tape di Sentra Tape Binakal, Rahmatullah, menjelaskan bahwa dari total 138 pengusaha tape di wilayahnya, sekitar 60 persen di antaranya telah mengurangi volume produksi.

Bahkan ada yang terpaksa berhenti beroperasi.

Langkah pengurangan produksi ini juga dilakukan oleh dirinya sendiri.

Baca juga: Manis Legit Tape 77 Bondowoso, Usaha Rumahan Ini Eksis Sejak Tahun 70 an, Cocok Buat Oleh Oleh  

 

Singkong Bondowoso jadi Andalan

Rahmatullah yang biasanya memproduksi 1 ton singkong setiap dua hari sekali, kini hanya mampu mengolah 5 kuintal saja.

"Penyebab utamanya karena bahan baku kurang, akhirnya harganya naik. Sedangkan uang modal masih mandek di pelanggan. Kami tidak bisa dikirimi singkong kalau belum bayar tunai," jelasnya saat dikonfirmasi, Minggu (31/5/2026).

Ia menjelaskan, selama ini para pengusaha lokal selalu mengandalkan singkong asli Bondowoso karena kualitasnya yang jauh lebih baik saat diolah menjadi tape.

Jika menggunakan singkong dari luar kota, harganya memang lebih murah. Namun, kualitas hasil tapenya kurang bagus karena kadar airnya terlalu tinggi.

Selain itu, singkong luar kota biasanya hanya unggul di ukuran yang besar saja.

"Di Bondowoso itu biasanya kami beli di Tamanan. Di seluruh daerah Bondowoso sebetulnya singkongnya bagus, tapi memang ada kelas-kelasnya," ujarnya.

 

Produksi dan Omzet Menurun

Hal senada disampaikan oleh Masturi, pemilik usaha Tape 67 di daerah yang sama.

Ia mengaku sudah sebulan terakhir mengurangi volume produksi yang biasanya mencapai 2 ton singkong per minggu, kini menyusut drastis menjadi hanya 2 sampai 3 kuintal karena kelangkaan bahan baku.

"Sementara itu, omzet penjualan juga menurun. Mau dinaikkan dari harga Rp12 ribu per kilogram, pembelinya tidak mau," jelasnya.

Para pengusaha pun berharap pemerintah daerah dapat memberikan solusi, khususnya bantuan permodalan dan penyediaan lahan khusus untuk penanaman singkong.

"Pertama bantuan permodalan, dan kedua adalah ketersediaan lahan untuk ditanami singkong," pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.