Pemenang & Pecundang Musim Eropa 2025-26: Dari PSG Pertahankan Gelar Liga Champions, Trio Maut Bayern Munich, hingga Derita Arne Slot dan Kekacauan Real Madrid
Budi Santoso June 01, 2026 03:21 AM

Musim klub-klub Eropa berakhir dengan dramatis pada Sabtu malam, ketika Paris Saint-Germain menaklukkan Arsenal lewat adu penalti untuk mempertahankan gelar Liga Champions mereka. Tidak ada tim yang berhasil mempertahankan trofi tersebut sejak Real Madrid hampir satu dekade lalu, menjadikan malam itu benar-benar bersejarah bagi pasukan Luis Enrique. Namun kekalahan itu tidak menghapus pencapaian luar biasa Arsenal, yang menjuarai Premier League untuk pertama kalinya dalam 22 tahun.

Di tempat lain, Bayern Munich memecahkan banyak rekor dalam perjalanan mereka meraih gelar Bundesliga lainnya, sementara Barcelona juga memastikan diri menjadi juara domestik untuk musim kedua berturut-turut, meninggalkan Real Madrid yang tengah dilanda krisis di La Liga.

Di Italia, Antonio Conte berpisah dengan Napoli hanya setahun setelah memenangkan Scudetto, yang musim ini direbut dengan mudah oleh Inter. Baik Juventus maupun AC Milan gagal lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah kompetisi tersebut.

Lalu siapa saja yang menjadi pemenang dan pecundang terbesar di musim sepak bola Eropa 2025-26? Berikut ulasan lengkapnya...

PEMENANG: Mikel Arteta

Mikel Arteta mengaku perasaannya di akhir final Liga Champions adalah “sakit hati” — hal yang sepenuhnya dapat dimengerti. Arsenal hanya tinggal satu adu penalti lagi untuk menggulingkan PSG dari takhta Eropa, dan sang pelatih asal Spanyol mengakui bahwa butuh waktu untuk melupakan kekalahan di Budapest itu.

Namun rasa sakit itu akan segera berganti menjadi kebanggaan — bukan hanya terhadap para pemainnya, tetapi juga atas kerja kerasnya sendiri selama sembilan bulan terakhir. Musim ini menjadi momen penentu bagi Arteta, yang akhirnya membawa Arsenal meraih trofi Premier League pertama sejak 2004.

Memang gaya bermain Arsenal jauh dari indah; mereka sering mengandalkan permainan pragmatis, buang-buang waktu, dan gol dari bola mati. Kemenangan 1-0 atas Burnley yang memastikan gelar menggambarkan hal tersebut, dengan David Raya dan Leandro Trossard berpura-pura cedera di menit-menit akhir.

Namun, seperti yang dikatakan Thierry Henry, meski gaya Arteta tidak memikat, hasil akhirnya yang penting — dan puasa gelar panjang Arsenal akhirnya terhenti.

PEMENANG: Cesc Fabregas

Ketika Cesc Fabregas berbicara kepada para pemain Como setelah kemenangan mereka 4-1 atas Cremonese di Stadio Giovanni Zini, ia berkata, “Kalian akan dikenang selamanya.” Dengan kemenangan itu, Como lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.

Fabregas menegaskan semua keberhasilan itu adalah hasil kerja pemainnya, namun tidak diragukan lagi bahwa mantan gelandang Spanyol itu adalah sosok utama di balik kebangkitan luar biasa ini. Empat tahun lalu, Como masih di Serie B tanpa fasilitas memadai. Kini, mereka menjadi tim termuda di Serie A dan lolos ke kompetisi elit Eropa.

Fabregas pantas mendapat pujian besar atas pencapaian ini, dan kini tantangan berikutnya bagi Como adalah mempertahankan sang pelatih, yang bahkan disebut direktur olahraga Carlalberto Ludi sebagai “pelatih yang lebih hebat daripada pemainnya dulu.”

PECUNDANG: AC Milan

Menjelang akhir musim Serie A, pemilik AC Milan Gerry Cardinale mengkritik Inter dalam wawancara dengan media Italia. Namun, kenyataannya justru Milan yang terpuruk. Mereka gagal lolos ke Liga Champions dua musim berturut-turut, meskipun mengeluarkan dana besar di bursa transfer.

Milan kehilangan enam dari sepuluh laga terakhirnya dan menutup musim dengan kekalahan memalukan dari Cagliari. Cardinale menanggapi “kegagalan total” itu dengan memecat pelatih Massimiliano Allegri, CEO Giorgio Furlani, direktur olahraga Igli Tare, dan direktur teknik Geoffrey Moncada.

Namun, para penggemar sudah kehilangan kesabaran. Spanduk bertuliskan “Cardinale, pulang! MALU!” terpampang di luar hotel tempatnya menginap, mencerminkan betapa marahnya para pendukung Rossoneri.

PEMENANG: Barcelona

Menjelang El Clasico terakhir musim ini, tim media sosial Barcelona mengunggah foto skuad dengan tulisan “Satu keluarga besar”, menyindir Real Madrid yang tengah dilanda kekacauan internal. Di bawah asuhan Hansi Flick, Barca menunjukkan kebersamaan yang luar biasa dan berhasil meraih gelar La Liga kedua secara beruntun.

Meskipun tersingkir dari Liga Champions oleh Atletico Madrid, tim muda yang dipimpin Lamine Yamal ini terus berkembang. Dengan rekrutmen seperti Anthony Gordon dan target Julian Alvarez, serta kondisi keuangan yang mulai stabil, masa depan Barcelona tampak cerah. Seperti kata direktur olahraga Deco, ini awal dari “era baru kesuksesan di Camp Nou.”

PECUNDANG: Florentino Perez

Pada 15 Mei, Barcelona memastikan gelar La Liga lewat kemenangan di El Clasico, membuat Real Madrid menutup musim tanpa trofi besar untuk kedua kalinya berturut-turut. Presiden klub Florentino Perez menghadapi tekanan besar setelah keputusan fatal memecat Xabi Alonso dan menunjuk Alvaro Arbeloa sebagai pengganti.

Madrid kacau di dalam dan luar lapangan, dengan insiden pertengkaran antar pemain hingga kekalahan memalukan 2-0 di Camp Nou. Dalam konferensi pers kontroversial, Perez menolak mundur dan malah menyerang media serta menuduh La Liga dan Barcelona korup.

Untuk pertama kalinya sejak 2009, masa kepemimpinannya akan dipertarungkan dalam pemilu klub, dengan pengusaha energi terbarukan Enrique Riquelme menjadi pesaing utama.

PEMENANG: Bodo/Glimt

Klub asal Norwegia, Bodo/Glimt, menciptakan dongeng sepak bola modern dengan menyingkirkan Inter di Liga Champions. Di bawah asuhan Kjetil Knutsen, mereka mengalahkan Manchester City dan Atletico Madrid sebelum menumbangkan Inter di San Siro.

Dari tim kecil yang baru promosi ke liga utama pada 2018, Bodo kini menjadi contoh klub yang dikelola dengan baik. Mereka bahkan tengah membangun stadion baru untuk melanjutkan kisah inspiratif ini.

PECUNDANG: Wolfsburg

Setelah hampir tiga dekade di Bundesliga, Wolfsburg akhirnya terdegradasi. Kekalahan play-off dari Paderborn membuat ruang ganti dipenuhi air mata dan kemarahan. Kini, pelatih Dieter Hecking dan beberapa pemain bintang seperti Christian Eriksen diperkirakan akan hengkang, sementara masa depan kerja sama dengan Volkswagen juga diragukan.

PEMENANG: Christian Chivu

Christian Chivu membawa Inter meraih Scudetto dan Coppa Italia musim ini, menjadi pelatih pertama setelah Jose Mourinho yang memenangkan keduanya dalam satu musim. Meski sempat diragukan, Chivu berhasil membangkitkan tim setelah kekalahan telak 5-0 dari PSG di final Liga Champions tahun lalu.

PECUNDANG: Erik ten Hag

Erik ten Hag kembali ke FC Twente sebagai direktur teknik setelah dipecat hanya dua pertandingan oleh Bayer Leverkusen — rekor terpendek dalam sejarah Bundesliga. Konflik internal dan hasil buruk membuatnya kehilangan jabatan, meski ia merasa keputusan itu “tidak adil.”

PEMENANG: Unai Emery

Unai Emery mengubah Aston Villa dari tim yang hampir terdegradasi menjadi juara Liga Europa dan finis di empat besar Premier League. Dengan skuad yang hampir sama, pelatih asal Spanyol itu membuktikan kejeniusan taktisnya, mengembalikan Villa ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam tiga dekade.

PEMENANG: Pierre Sage

Pierre Sage membawa Lens dari kandidat degradasi menjadi juara Coupe de France dan finis kedua di Ligue 1, memastikan tiket ke Liga Champions. Prestasi ini membuat banyak klub besar tertarik merekrutnya musim depan.

PECUNDANG: Kepemilikan Multi-Klub

Fenway Sports Group membatalkan rencana membeli klub lain setelah konsep multi-club ownership terbukti gagal. Girona, milik City Football Group, terdegradasi dari La Liga, sementara Nice, yang dimiliki Jim Ratcliffe, juga terpuruk dan terancam degradasi. Di sisi lain, protes fans Chelsea dan Strasbourg terhadap BlueCo memperlihatkan meningkatnya perlawanan terhadap model kepemilikan ini.

PEMENANG: Trio Penyerang Bayern Munich

Vincent Kompany menikmati musim gemilang bersama Bayern Munich, berkat trio maut Harry Kane, Luis Diaz, dan Michael Olise yang mencetak total 109 gol di semua kompetisi. Mereka memecahkan rekor Bundesliga dengan 104 kontribusi gol dan dianggap sebagai kombinasi serangan paling efektif sejak era Messi-Suarez-Neymar. Lothar Matthaus menyebut trio ini “seperti jam tangan Swiss yang sempurna.”

PECUNDANG: Marseille

Musim Marseille penuh kekacauan. Setelah kalah dari Rennes di laga pembuka, terjadi perkelahian di ruang ganti yang membuat Adrien Rabiot dan Jonathan Rowe diusir. Kekalahan telak 5-0 dari PSG membuat Roberto De Zerbi mengundurkan diri, dan penggantinya Habib Beye juga akan pergi setelah konflik internal kembali memanas.

PEMENANG: Donyell Malen

Donyell Malen menjadi rekrutan terbaik Roma musim ini setelah dipinjam dari Aston Villa. Ia mencetak 14 gol dalam 18 laga Serie A, memecahkan rekor Mario Balotelli untuk pemain yang didatangkan di bursa Januari. Roma kini wajib membeli Malen seharga €25 juta — harga yang tampak seperti tawar-menawar luar biasa.

PECUNDANG: Arne Slot

Setelah membawa Liverpool juara Premier League di musim pertamanya, Arne Slot dipecat pada akhir musim keduanya. Cedera pemain dan konflik dengan Mohamed Salah memperburuk situasi, dan performa tim yang menurun drastis membuat Slot kehilangan dukungan dari fans dan pemain. Dunia sepak bola memang kejam.

PEMENANG: Oliver Glasner

Oliver Glasner mengakhiri masa tugasnya di Crystal Palace dengan gemilang, membawa klub itu menjuarai Conference League setahun setelah menaklukkan Manchester City di final Piala FA. Prestasi luar biasa ini menjadikannya inspirasi bagi klub-klub kecil di seluruh Eropa.

PECUNDANG: Manchester City

19 Mei 2026 menjadi hari kelam bagi Manchester City. Pep Guardiola memastikan hengkang pada akhir musim, sementara City gagal merebut gelar Premier League setelah kalah dari Bournemouth. Kepergian Guardiola, Bernardo Silva, dan kemungkinan Rodri atau Haaland meninggalkan klub membuat masa depan City penuh ketidakpastian.

PEMENANG: FC Thun

Sepuluh tahun setelah kisah ajaib Leicester City, FC Thun menulis dongeng baru di Swiss. Klub kecil dari kota berpenduduk 45.000 itu, yang tujuh tahun lalu hampir bangkrut, kini menjuarai liga untuk pertama kalinya dalam 128 tahun. “Inilah alasan kita mencintai sepak bola,” ujar Christian Fassnacht. “Kisah seperti ini membuat dunia tersenyum.”

PEMENANG: Paris Saint-Germain

Setelah mengantarkan PSG meraih dua gelar Liga Champions beruntun, Luis Enrique memastikan akan tetap bertahan. Presiden klub Nasser Al-Khelaifi menyebutnya “pelatih terbaik di dunia” dan yakin proyek jangka panjang PSG berada di tangan yang tepat. Dengan skuad muda penuh talenta dan tambahan pemain baru musim panas nanti, PSG tampak siap menulis sejarah dengan tiga gelar Eropa berturut-turut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.