Serangan Rudal Hizbullah Gempur Israel, PM Netanyahu Kumpulkan Kabinet Perang: Situasi Mengerikan
SERAMBINEWS.COM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menggelar pertemuan keamanan darurat menyusul meningkatnya serangan roket dan drone yang dilancarkan Hizbullah dari Lebanon ke wilayah utara Israel.
Media Israel Channel 13 melaporkan, Netanyahu mengumpulkan Menteri Pertahanan Israel Katz, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Eyal Zamir, serta para komandan militer yang bertanggung jawab atas wilayah utara untuk mengevaluasi situasi keamanan yang semakin memburuk.
Pertemuan tersebut digelar setelah Hizbullah meningkatkan intensitas serangan sebagai respons atas perluasan operasi militer darat Israel di Lebanon selatan.
Menurut laporan tersebut, militer Israel terkejut dengan skala serangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Hizbullah disebut mengubah taktik militernya dengan mengombinasikan serangan roket dan pesawat tanpa awak (drone) untuk menekan pertahanan Israel.
Pada Sabtu (30/5/2026), puluhan roket dilaporkan diluncurkan dari wilayah Lebanon menuju Israel utara.
Serangan itu menjadi yang pertama sejak gencatan senjata berlaku pada 17 April lalu yang berhasil menjangkau kota Safed dan Nahariya.
Channel 13 bahkan menggambarkan kondisi di wilayah utara Israel sebagai "kekacauan total" dan "di luar kendali".
Media tersebut juga mengkritik pemerintah Israel yang dinilai belum memberikan perhatian memadai terhadap eskalasi yang terjadi.
Sementara itu, Radio Angkatan Darat Israel melaporkan sirene serangan udara telah berbunyi sebanyak 1.099 kali di wilayah utara sejak gencatan senjata mulai diberlakukan.
Di sisi lain, Hizbullah mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah serangan drone yang menargetkan pasukan Israel di dekat permukiman Natua serta pangkalan militer Hutan Galilea.
Ancaman drone kini menjadi salah satu kekhawatiran terbesar bagi Israel.
Dalam beberapa kesempatan, Netanyahu menyebut pesawat tanpa awak milik Hizbullah sebagai “ancaman serius” dan “situasi mengerikan” karena sulit dideteksi dan dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Eskalasi terbaru ini terjadi di tengah rapuhnya perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah.
Meski masa gencatan senjata diperpanjang selama 45 hari mulai 17 Mei melalui negosiasi tidak langsung yang dimediasi Amerika Serikat, pertempuran di lapangan belum benar-benar berhenti.
Israel masih terus melancarkan serangan udara dan operasi militer di sejumlah wilayah Lebanon.
Sementara itu, Hizbullah tetap melakukan serangan balasan ke wilayah Israel utara.
Menurut data Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, sejak 2 Maret lalu serangan Israel telah menyebabkan lebih dari 3.371 orang tewas di Lebanon.
Meningkatnya intensitas serangan dari kedua pihak memunculkan kekhawatiran bahwa konflik di perbatasan Israel-Lebanon dapat berkembang menjadi perang yang lebih luas,
sekaligus mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah yang hingga kini masih dibayangi konflik di Gaza dan Laut Merah.
(Serambinews.com/Agus Ramadhan)