Laporan wartawan TribunJatim.com, Ahsan Faradisi
TRIBUNJATIM.COM, PROBOLINGGO - Salah satu rangkaian perayaan Yadnya Kasada 1948 Saka atau tahun 2026 di kawasan Gunung Bromo yaitu dengan dikukuhkannya tiga dukun pandita.
Pengukuhan tiga Dukun Pandita akan dilaksanakan di Pura Luhur Poten, lautan pasir Gunung Bromo itu telah mengikuti serangkaian ujian dan tahapan adat sebagai syarat untuk menjadi pemimpin spiritual umat Hindu Tengger.
Pengukuhan 3 Dukun Pandita yakni dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Desa Pandansari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo dan Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan,
Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto mengatakan, jika pengukuhan Dukun Pandita merupakan salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan Yadnya Kasada.
"Rangkaian Yadnya Kasada diawali dengan berbagai tahapan ritual, termasuk ujian calon Dukun Pandita kawasan Tengger. Setelah dinyatakan memenuhi syarat," kata Bambang, Senin (1/6/2026)
"Setelah memenuhi syarat, mereka kemudian dikukuhkan untuk menjalankan tugas pelayanan keagamaan kepada umat," imbuhnya.
Baca juga: Malam Resepsi Yadnya Kasada, Ada 10 Tokoh yang Dikukuhkan sebagai Tamu Kehormatan
Keberadaan Dukun Pandita, lanjut Bambang, memiliki peran strategis dalam menjaga kelangsungan tradisi, adat istiadat, serta nilai-nilai spiritual masyarakat Tengger.
"Mereka bertugas memimpin berbagai ritual keagamaan dan menjadi pengayom umat dalam kehidupan sehari-hari," jelas Bambang.
Setelah prosesi pengukuhan, menurut Bambang. rangkaian Yadnya Kasada dilanjutkan dengan pelayanan kepada umat yang akan melaksanakan ritual labuh sesaji.
"Puncak perayaan ditandai dengan prosesi menuju kawah Gunung Bromo untuk melarung hasil bumi, ternak, dan berbagai persembahan sebagai ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widhi atas berkah yang telah diberikan dalam satu tahun," ungkapnya.
Tradisi larung sesaji, menjadi simbol pengorbanan, rasa syukur, serta penghormatan masyarakat Tengger terhadap leluhur dan alam semesta. Seluruh rangkaian kegiatan Yadnya Kasada kemudian ditutup pada keesokan harinya dengan doa bersama.
"Melalui Yadnya Kasada dan pengukuhan Dukun Pandita ini, keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam dapat terus terjaga," pungkasnya.