Jelang Piala Dunia 2026, Abang Parkir di Palangka Raya Tak Sabar Dukung Mbappe dan Prancis
Pangkan Banama Putra Bangel June 01, 2026 12:50 PM

 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Di sela kesibukannya mengatur parkir pelanggan di Kafe Along, Jalan Janah Jari Palangka Raya, seorang pemuda bernama Fajar (23) tampak antusias membicarakan ajang sepak bola paling bergengsi, Piala Dunia 2026, yang segera bergulir.

Mengenakan jersey tim nasional Prancis, Fajar begitu percaya diri menjagokan Kylian Mbappe CS di turnamen empat tahunan tersebut.

"Kalau saya sih dukung Perancis," ujarnya saat ditemui Tribunkalteng.com di lokasi kerjanya, Sabtu (30/5/2026).

Baca juga: Lionel Messi Kapten Argentina dan Pimpin Skuad Albiceleste, Kepercayaan Scaloni

Baca juga: Kabar Neymar Cedera Jelang Piala Dunia 2026, Fans Kalteng Sebut Messi Cs Calon Kuat Juara

Baca juga: Fans Argentina Kalteng Sebut Portugal Lawan Berat Messi CS, Cristiano Ronaldo Pimpin Skuad Selecao

Fajar mendukung Timnas Prancis sudah lama, di beberapa ajang sepak bola sebelumnya ia juga mengunggulkan pemenang Piala Dunia dua kali itu. 

Dukungan itu tergambar jelas dari jersey timnas Prancis yang dikenakannya saat bekerja.

"Ya dukung Perancis terus, makanya sampai ada bajunya ini," ujarnya.

Terlebih saat ini, lini serang Prancis bakal dipimpin Kylian Mbappé yang juga idola Fajar.

"Karena ada si kura-kura ninja, si Mbappe. Memang idola saya," kata Fajar.

Kylian Mbappe yang kerap disamakan dengan salah satu tokoh fiksi, kura-kura ninja membuat Fajar mudah mengingat sang pemain.

Menurutnya, penyerang Real Madrid itu merupakan satu di antara pemain terbaik saat ini.

"Dia itu sudah mega bintangnya zaman sekarang," ucapnya.

Timnas Prancis Jelang Piala Dunia 2026: Keluar dari Bayang-bayang Kekalahan di Final 2022

Prancis menuju Piala Dunia 2026 sebagai kandidat yang sudah dikenal, dengan struktur yang telah teruji dari Didier Deschamps, daya serang Kylian Mbappe, dan skuad yang dibangun untuk kembali melaju jauh di kompetisi ini.

Prancis tiba di Piala Dunia FIFA 2026 dengan membawa beban ekspektasi yang hanya diketahui oleh tim-tim elite.

Mereka telah mengangkat trofi dua kali, pada tahun 1998 dan 2018, dan mereka juga telah gagal di babak final pada dua kesempatan lain, pada tahun 2006 dan 2022.

Yang tak kalah penting, Les Bleus telah menjadikan konsistensi di Piala Dunia sebagai kebiasaan, tetap menjadi kehadiran yang tetap di panggung besar sepanjang era modern dan mencapai final dalam dua dari tiga edisi terakhir.

Sejarah itu penting karena Prancis tidak lagi memasuki turnamen sebagai tim underdog yang berharap akan kisah dongeng.

Mereka adalah salah satu dari sedikit tim yang dapat berbicara dengan otoritas sejati tentang sepak bola sistem gugur, tekanan turnamen, dan seni bertahan di saat-saat sulit.

Rekor mereka baru-baru ini juga memberi mereka status yang berbeda: bukan hanya tim yang berbakat, tetapi tim yang diharapkan tetap menjadi sorotan hingga minggu terakhir kompetisi.

Siklus 2026 menambahkan lapisan lain pada ekspektasi tersebut.

Ini adalah tim Prancis yang telah bertahun-tahun belajar bagaimana memenangkan pertandingan dengan berbagai cara, baik dengan mengendalikan permainan, menahan tekanan, atau menyerang tanpa ampun dalam transisi.

Didier Deschamps telah menjadi pusat evolusi tersebut, dan Piala Dunia sekali lagi akan mempertanyakan apakah perpaduan struktur dan kebebasan yang ia terapkan dapat membawa Prancis melewati babak semifinal dan mungkin hingga ke final lainnya.

Yang membuat Prancis sangat menarik adalah kemampuan mereka untuk bermain dengan santai dalam jangka waktu yang lama tanpa pernah benar-benar kehilangan kendali, ciri khas tim internasional papan atas.

Prancis telah berada dalam kondisi tersebut selama satu dekade, dan Deschamps telah membangun sistem yang sangat cocok untuk itu.

Jalan Menuju Piala Dunia

Di atas kertas, perjalanan kualifikasi Prancis tidaklah dramatis. Namun dalam praktiknya, itu hampir seperti sebuah kemenangan telak.

Mereka finis di puncak grup dengan 16 poin dari enam pertandingan, meraih lima kemenangan dan satu hasil imbang, serta mengakhiri musim dengan selisih gol +12.

Angka-angka mentahnya memang rapi, tetapi gambaran yang mendasarinya bahkan lebih meyakinkan bagi Deschamps.

Prancis kebobolan sangat sedikit peluang, dan di antara tim-tim papan atas Eropa, mereka berada di peringkat ketiga terendah dalam hal kebobolan gol, yang menunjukkan betapa andalnya lini pertahanan mereka.

Kampanye kualifikasi bisa menyesatkan ketika tim-tim besar terlibat, namun dalam kasus Prancis, dominasi mereka tidak pernah diragukan.

Mereka adalah favorit sejak awal, dan mereka bermain sesuai dengan status tersebut.

Itulah mengapa kampanye ini juga harus dinilai dalam konteks masa kepemimpinan Deschamps yang lebih panjang.

Prancis jarang terlihat ceroboh di bawah kepemimpinannya, tetapi mereka hampir selalu terlihat sulit dikalahkan.

Bahkan ketika level performa tidak spektakuler, tim cenderung tetap terorganisir dengan baik, kompak, dan stabil secara emosional, yang persis seperti yang dibutuhkan dalam turnamen internasional yang panjang.

Ini adalah kampanye yang stabil daripada yang mencolok, tetapi bagi Prancis, kestabilan itu merupakan aset utama daripada kekhawatiran.

Rencana Strategis Deschamps: Memanfaatkan Bakat Terbaiknya

Deschamps telah mengembangkan tim Prancis selama bertahun-tahun, dan evolusi itu tidak berjalan lurus.

Pada awalnya, tim-timnya sering dikaitkan dengan kehati-hatian, disiplin, dan sepak bola transisi, tetapi ia secara bertahap membentuk tim yang lebih fleksibel yang dapat bertahan di lini belakang, menekan secara agresif, atau membangun serangan melalui penguasaan bola tergantung pada lawan.

Kuncinya adalah adaptasi tanpa kehilangan identitas inti tim, yang tetap berakar pada kontrol, kemampuan atletis, dan momen-momen serangan cepat.

Model taktik yang paling jelas terlihat di Piala Dunia 2022 masih memberikan petunjuk terbaik tentang apa yang mungkin dilakukan Prancis pada tahun 2026.

Prancis bersedia bertahan dalam formasi kompak tanpa bola, tetapi begitu mereka merebutnya kembali, mereka dapat menyerang dengan cepat, dengan Kylian Mbappe diposisikan untuk segera memanfaatkan ruang kosong.

Prancis bukanlah tim yang sepenuhnya mengandalkan penguasaan bola, tetapi mereka lebih nyaman mengalirkan bola daripada di awal masa kepemimpinan Deschamps.

Tim sekarang dapat membangun serangan dengan sabar jika diperlukan, namun bahaya sebenarnya masih muncul ketika bola direbut kembali dan Mbappe, Dembele, atau pemain lain dapat menyerang ruang kosong sebelum pertahanan siap.

Rekam jejak internasional Deschamps yang gemilang memperkuat argumen bahwa Prancis patut dipercaya.

Ia telah membimbing tim ke tiga final turnamen besar dalam rentang waktu delapan tahun Euro 2016, Piala Dunia 2018, dan Piala Dunia 2022 dan manajemen turnamennya berulang kali terbukti efektif di bawah tekanan.

Prancis bukan hanya skuad yang berbakat; mereka adalah mesin turnamen, dan itu biasanya hasil dari seorang manajer yang tahu bagaimana mengendalikan ritme kompetisi musim panas.

Kylian Mbappe

Mbappe tetap menjadi pemain paling menentukan bagi Prancis karena ia mengubah perilaku lawan bahkan sebelum pertandingan dimulai.

Analisis taktik FIFA terhadap Prancis di Piala Dunia 2022 menyoroti bagaimana posisinya yang tinggi dan melebar menciptakan ancaman serangan balik yang tak terelakkan dan memaksa lawan untuk melakukan kompromi taktis.

Ia mencetak delapan gol di turnamen tersebut dan meraih Sepatu Emas, yang semakin memperkuat statusnya sebagai titik acuan serangan terpenting Prancis.

Namun, pemain berusia 28 tahun ini memikul beban turnamen besar.

Jadi, jika dia tidak dalam kondisi prima, seluruh struktur serangan akan kehilangan sebagian ancamannya, karena Prancis dibangun untuk memaksimalkan daya ledaknya daripada menggantikannya.

Ousmane Dembele

Dembele menawarkan ancaman berbeda bagi Prancis, ancaman yang lebih sulit diprediksi tetapi sama berharganya.

Kemampuannya menyerang dari sayap, membawa bola dengan cepat, dan menciptakan ruang di area sempit memberi Deschamps pemain lain yang dapat menembus pertahanan yang solid.

Dalam tim yang terkadang mengandalkan Mbappe untuk permainan langsung, Dembele memberikan ketidakseimbangan yang dapat membuat Prancis lebih sulit ditebak.

Yang menjadi perhatian adalah konsistensi.

Dembele seringkali tampil cemerlang dalam momen-momen tertentu, bukan dalam jangka waktu yang lama, dan Prancis tidak selalu membutuhkan kecemerlangan dalam sekejap, melainkan keandalan di momen-momen penting.

Dia bisa mengubah jalannya pertandingan dengan satu rangkaian permainan yang bagus, tetapi nilai keseluruhannya akan bergantung pada apakah dia mampu memberikan pengaruh tersebut tanpa tampil kurang konsisten dalam pertandingan.

William Saliba

Saliba penting karena Prancis membutuhkan otoritas pertahanan melawan serangan terbaik di babak final.

Dia membaca bahaya sejak dini, menguasai ruang dengan baik, dan memiliki profil fisik untuk menghadapi berbagai lawan di babak gugur.

Dalam turnamen di mana kesalahan kecil dihukum dengan brutal, memiliki bek yang dapat tetap tenang di bawah tekanan adalah aset utama.

Masalahnya adalah posisinya sebagai starter tidak sepenuhnya aman, yang membuatnya menjadi pilihan yang menarik tetapi sedikit rentan.

Prancis memiliki bek tengah lain yang dapat bersaing untuk mendapatkan menit bermain, dan Deschamps tidak pernah ragu untuk melakukan rotasi ketika ia merasa situasi taktis membutuhkannya.

Saliba mungkin pemain yang hebat, tetapi ia tetap harus membuktikan diri setiap kali susunan pemain dipilih.

NGolo Kante

Kante tetap menjadi salah satu nama yang paling dipercaya di sepak bola Prancis karena apa yang ia berikan di luar sekadar teknik murni.

Ia memberikan kekuatan di lini tengah, perlindungan defensif, dan rasa aman yang memungkinkan para pemain yang lebih kreatif untuk beroperasi dengan bebas.

Bahkan setelah bertahun-tahun absen dari lima liga top Eropa, pengalaman dan pemahamannya tentang permainan masih membuatnya relevan dalam sepak bola turnamen.

Kelemahannya jelas: usia dan ritme. Ia tidak lagi berada di puncak kemampuan fisiknya, dan kurangnya paparan rutin terhadap kompetisi mingguan tingkat elit membuatnya menjadi pilihan yang lebih berisiko daripada sebelumnya.

Prancis akan menghargai apa yang ia ketahui, tetapi selalu ada pertanyaan apakah ia masih mampu menampilkan performa terbaiknya dalam turnamen.

Perancis

Kiper:

Mike Maignan (AC Milan)
Robin Risser (Lens)
Brice Samba (Rennes)

Bek:

Lucas Digne (Aston Villa)
Malo Gusto (Chelsea)
Lucas Hernández (Paris Saint-Germain)
Theo Hernández (Al Hilal)
Ibrahima Konaté (Liverpool)
Jules Koundé (Barcelona)
Maxence Lacroix (Crystal Palace)
William Saliba (Arsenal)
Dayot Upamecano (Bayern Munich)

Gelandang:

N'Golo Kanté (Fenerbahçe)
Manu Koné (AS Roma)
Adrien Rabiot (AC Milan)
Aurélien Tchouaméni (Real Madrid)
Warren Zaïre-Emery (Paris Saint-Germain)

Penyerang:

Maghnes Akliouche (AS Monaco)
Bradley Barcola (Paris Saint-Germain)
Rayan Cherki (Manchester City)
Ousmane Dembélé (Paris Saint-Germain)
Désiré Doué (Paris Saint-Germain)
Jean-Philippe Mateta (Crystal Palace)
Kylian Mbappé (Real Madrid)
Michael Olise (Bayern Munich)
Marcus Thuram (Inter Milan)

Manajer: Didier Deschamps

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.