Misteri Api di Rumah Warga Sleman: FTME UPN dan BPPTKG Teliti Kali Konteng di Seyegan
Joko Widiyarso June 01, 2026 02:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tim dari Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Yogyakarta dan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, terjun ke Kasuran, Seyegan, Sleman, Senin (1/6/2026). 

Mereka melakukan riset lanjutan terkait penyebab titik api yang tiba-tiba muncul di rumah Agus Yani dalam sepuluh hari terakhir.

Jelang siang, UGM juga menurunkan tim untuk melakukan riset serupa. 

Dua tim pertama yang datang terpisah tersebut meneliti kandungan gas di Kali Konteng, tepatnya di utara dan selatan Bendung Selokan Gembung Krusuk.

Gas metana yang menjalar melalui rekahan tanah menjadi hipotesis awal penyebab fenomena alam ini terjadi. 

Di hari kesepuluh peristiwa langka ini, sudah ada 71 titik api muncul di rumah Agus Yani. Terakhir pada pukul 00.11 tadi, kaus yang digantung di kamar mandi terbakar dengan jilatan api cukup besar. 

Api masih muncul

Sebelumnya, pada hari kesembilan, teror api yang melanda rumah Agus Yani, di Kasuran, Seyegan, Sleman, belum berhenti. Minggu (31/5/2026) malam, dua kali titik api menyala di bagian belakang rumah. 

Pertama, sekitar pukul 21.11 api menyala di lorong dapur. Meski tak sempat membesar, tetap saja hal ini membuat penghuni rumah siaga dan harus sigap memadamkannya sebelum menyambar benda-benda lain. 

Sejam setengah kemudian, tepatnya pukul 22.55, api kembali menyala. 

Posisinya lebih kurang dari tiga meter timur titik api sebelumnya. Kali ini, jaring ikan yang diletakkan di luar rumah menjadi korbannya. 

Api sempat cukup membesar. Jilatannya membubung sekitar satu meter ke atas, sebelum kemudian si jago merah berhasil dipadamkan menggunakan air. 

Dalam semalam ini, dua titik api yang muncul berada di sisi luar belakang. 

Untuk hari ini saja, sudah ada delapan kejadian barang terbakar. 

Dimulai pada Sabtu dini hari, di mana api membakar daster di kamar utama. Kemudian pada pukul 01.45, api menyala di kamar mandi belakang melalap kaus. 

Terjeda nyaris 12 jam, api muncul lagi pukul 13.07 di ruang depan, membakar kardus berisi buku-buku. Tiga belas menit kemudian, api membakar celana yang diletakkan di depan kamar mandi. 

Beranjak sore, api menyala lalu membakar bed cover di kamar utama pada pukul 15.25. Sepuluh menit kemudian, titik api kembali membara untuk melalap barang serupa. 

Jika ditotal sejak peristiwa langka ini terjadi pertama kali pada Sabtu (23/5/2026) dini hari, hingga kini sudah ada 70 peristiwa kebakaran beragam perabot, pakaian, alat dapur, dll. di rumah yang berada di tepi jalan utama Seyegan-Godean tersebut.

Misteri api terjawab

Misteri rumah di Sleman yang terbakar sekitar 55 kali dalam sepekan akhirnya terpecahkan. Rumah tersebut pertama kali mengalami peristiwa kebakaran pada Sabtu (23/5) lalu.

Awalnya kebakaran diduga karena kebocoran gas metana dari septic tank. Namun setelah dilakukan pengurasan dan perbaikan saluran septic tank, rumah tersebut kembali mengalami kebakaran. 

Untuk memecahkan masalah tersebut, tim dari Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta serta Universitas Gadjah Mada (UGM) terjun ke lokasi untuk melakukan investigasi dan observasi.

Penghuni rumah, Mutfiana mengaku tenang setelah kedatangan tim peneliti dari UPN "Veteran" Yogyakarta dan UGM. Pasalnya, ia mendapatkan penjelasan logis dan ilmiah penyebab kebakaran berkali-kali di rumah yang ia tempati.

"Lega, sudah ada jawaban. Pada intinya ini ada gas metana, bukan hal lain. Tadi sempet penjelasan dari UPN, UGM, dan instansi terkait, lebih tenang. Kalau waswas pastinya, tapi sudah lebih jelas," katanya, Sabtu (30/5/2026).

Ia menerangkan pada awal terjadinya kebakaran memang tidak tercium bau apa-apa. Namun setelah tim Gegana melakukan pengecekan, dan pihaknya melakukan penyedotan septic tank, ia mencium bau gas meski samar.
 
"Awalnya nggak tercium apa-apa, tetapi setelah tim Gegana ngecek dan kita melakukan sedot septic tank itu tercium bau gas, tapi samar. Terus di lokasi tersebut sudah pusing, mual, sama mata pedih," sambungnya.

Terkait dengan rekomendasi untuk mengosongkan lantai satu rumah, Fia menyebut akan mengusakan. Toh saat ini keluarganya sudah mengungsi di samping rumahnya.

"Akan kami upayakan, dan kami sudah mengungsi di rumah samping untuk pindah dari munculnya gas," imbuhnya. 

Tim UGM observasi

Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan observasi di rumah Agus Yani di Seyegan, Sleman.

Rumah tersebut yang mengalami peristiwa janggal lantaran muncul titik api misterius yang menyebabkan lebih dari 54 kebakaran selama hampir sepekan.

Dosen Departemen Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi mengatakan dugaan yang paling kuat penyebab kebakaran di rumah Agus Yani adalah gas metana.

Pihaknya juga mengukur suhu di rumah tersebut dengan kamera thermal. Hasilnya suhu tempat yang terbakar memiliki suhu relatif tinggi.

“Ya itu wajar karena ketika dia terbakar suhunya naik. Ke depan kami rencananya akan membawa alat untuk mengukur kandungan gas metana yang ada di tempat ini,” katanya usai observasi, Sabtu (30/5/2026). 

“Dan juga sampel air, karena beberapa waktu yang lalu, keluarnya gas itu juga bersamaan dengan jalur-jalur pipa air, ada sumur keluar api. Maka kami juga mengukur sampel air, apakah terkontaminasi metana atau tidak,” sambungnya.

Sarju menerangkan benda-benda terbakar di dalam rumah karena akumulasi gas. Benda yang berpori seperti pakaian, sofa, akan menyimpan gas. Ketika kadarnya mencukupi dan terkena oksigen, maka benda tersebut akan terbakar dengan sendirinya. 

“Sifat gas itu kalau jumlahnya tertentu, dia kena oksigen, O2, CH 4, itu dia akan nyala. Mungkin perantaranya air, atau dia keluar lewat lantai yang bocor. Semua yang berpori, tanah kan juga berpori, itu juga bisa bisa (meresap). Seperti air itu kan waktu di bawah tidak terbakar, tetapi ketika sudah keluar (kran) terbakar, karena kena oksigen,” terangnya.

Guna mencegah kebakaran berulang, pihaknya menyarankan penghuni rumah untuk memperbaiki sirkulasi udara. Selain itu, penghuni rumah juga bisa memasang kipas angin atau blower udara bisa keluar dan menurunkan kadar gas metana di dalam rumah.

Ia menambahkan secara prinsip gas metana bersifat mengambang, naik ke udara. Jika terbawa angin, kadarnya biasanya sangat menurun, sehingga relatif aman.

“Makanya begitu sirkulasi dibuka, kemudian ada kipas angin, keluar (udara), bercampur dengan udara (luar), kadarnya sudah sangat berkurang. Sehingga mengurangi potensi terbakar,” imbuhnya. (Hendy Kurniawan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.