TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Turunnya harga kelapa sawit yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Kotawaringin Timur (Kotim), hingga kenaikan harga BBM dinilai menjadi kondisi yang perlu terekam dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026.
Karena itu, Bupati Kotim Halikinnor, mengajak masyarakat memberikan informasi yang jujur dan sesuai kondisi saat didata oleh petugas Badan Pusat Statistik (BPS).
Hal tersebut disampaikannya usai mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila yang dirangkai dengan Apel Siaga Sensus Ekonomi 2026 serta Peresmian Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) Kabupaten Kotim di halaman Kantor Bupati Kotim, Senin (1/6/2026).
Sensus Ekonomi 2026 sendiri berlangsung sejak 1 Mei hingga 31 Agustus 2026 dan akan menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk melihat perkembangan serta tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat di berbagai daerah, termasuk Kotim.
Halikinnor mengatakan, data yang disampaikan masyarakat nantinya akan menjadi bahan pertimbangan pemerintah pusat dalam menyusun kebijakan ekonomi.
Menurutnya, berbagai persoalan yang saat ini dirasakan masyarakat, mulai dari harga sawit yang menurun hingga kenaikan BBM, harus disampaikan secara terbuka kepada petugas sensus.
"Harga sawit jatuh, kenapa jatuh? Kemudian kalau BBM naik dan berdampak terhadap ekonomi masyarakat, itu juga harus disampaikan. Dari data itulah pemerintah pusat nantinya bisa mengambil kebijakan," ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi ekonomi daerah tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor, termasuk situasi global yang turut memengaruhi harga komoditas maupun biaya energi.
Karena itu, hasil sensus diharapkan mampu memberikan gambaran yang utuh mengenai dampak yang dirasakan masyarakat hingga ke tingkat pelaku usaha kecil.
"Misalnya ada pengaruh kondisi global sehingga BBM menjadi sulit atau mahal, tentu pemerintah bisa melihat data itu dan menyiapkan skema-skema ekonomi lain untuk membantu masyarakat," katanya.
Halikinnor menambahkan, kenaikan harga BBM selalu berdampak luas terhadap berbagai sektor karena berhubungan langsung dengan biaya transportasi dan distribusi barang.
Ketika biaya angkut meningkat, harga barang kebutuhan pokok pun ikut terdorong naik dan akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat.
Baca juga: Maraknya Kasus Asusila di Pesantren Jadi Alarm, Ini Kata Bupati Kotim Halikinnor bagi Warganya
Baca juga: Jadwal Sensus Ekonomi 2026, BPS Kalteng Ingatkan Agar Siapkan Kartu Keluarga
"Begitu BBM naik, maka akan berdampak ke seluruh sektor. Transportasi naik, biaya operasional naik, kemudian harga barang juga ikut naik. Itu yang harus tergambar dalam sensus ekonomi ini," jelasnya.
Ia berharap hasil Sensus Ekonomi 2026 dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang tepat sasaran untuk mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat.
"Kita berharap pemerintah pusat bisa memotret kondisi yang sebenarnya terjadi di daerah, sehingga kebijakan yang dibuat nantinya benar-benar dapat membantu masyarakat dan mempercepat pemulihan ekonomi," pungkasnya.