TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Bagi Dakir, seorang petani sekaligus pengrajin gula kristal asal Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, keberhasilan mengolah nira menjadi gula kristal selama ini tidak selalu ditentukan oleh alat ukur presisi atau kecanggihan teknologi semata. Ia diketahui sudah puluhan tahun menekuni pekerjaan fisik yang cukup berat sebagai penderes dan pengrajin gula semut di desanya.
Selama waktu itulah yang membuatnya lebih terbiasa mengandalkan sesuatu yang sifatnya jauh lebih sederhana, yakni feeling atau intuisi yang terasah sangat tajam dari rentetan pengalaman sehari-hari.
Namun kini, kemampuan dan cara tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut mulai bertemu dengan pendekatan ilmiah yang jauh lebih modern. Melalui sebuah Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset, jajaran akademisi dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) berinisiatif memperkenalkan teknologi tepat guna berupa alat evaporator dan kristalisator kepada para pengrajin gula semut di wilayah Kecamatan Cilongok.
Baca juga: Ulat Artona Catoxantha Serang Pohon Kelapa, Produksi Gula Nira di Purbalingga Terancam
Program strategis ini dipimpin langsung oleh Dr. Sri Rahayoe, S.T.P, M.P. dari Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Ia tidak berjalan sendiri, melainkan turun lapangan bersama tim dosen lintas bidang, yaitu Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Dr. Arifin Dwi Saputro, S.T.P. M.Sc., Dr. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc., Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., serta turut menggandeng mitra akademik internasional Prof. Ts. Dr. Rosnah Shamsudin dari Universiti Putra Malaysia.
Dakir pun menjadi salah satu peserta aktif yang langsung mengikuti pelatihan pengenalan alat tersebut.
"Tanggapannya bagus. Memang bagus karena ini cara-cara keilmuan, cara sekolah. Tapi kalau petani kan selama ini ilmunya lebih banyak feeling," ujar Dakir kepada Tribunbanyumas.com saat ditemui, Senin (1/6/2026).
Menurut kacamatanya, teknologi yang diperkenalkan oleh pihak UGM tersebut sangat potensial menjadi alternatif cerdas bagi kalangan petani dalam upaya meningkatkan kualitas produksi gula semut. Meski demikian, ia menilai bahwa keberhasilan penerapan teknologi baru ini pada akhirnya tetap sangat bergantung pada kemampuan sumber daya manusia penggunanya dalam mengoperasikan alat tersebut di lapangan.
"Pada akhirnya semuanya tergantung pemakaiannya. Teknologinya bagus, tetapi petani juga punya pengalaman yang selama ini menjadi pegangan dalam bekerja," katanya.
Bagi para petani gula semut di kawasan Cilongok, rutinitas pekerjaan mengolah nira kelapa menjadi wujud butiran gula kristal jelas bukan sebuah perkara yang mudah. Namun, Dakir mengaku bahwa kesulitan dan rasa lelah tersebut kini sudah mendarah daging menjadi bagian dari denyut rutinitas sehari-hari yang mau tidak mau harus tetap dijalani demi menghidupi keluarga.
"Kalau dibilang sulit ya sulit, tapi kalau dibilang tidak sulit juga tidak. Karena ini sudah menjadi pekerjaan sehari-hari dan sumber penghasilan kami. Mau bagaimana pun tetap harus dijalani," ujarnya.
Selama ini, kata Dakir, para petani lokal memang lebih banyak mengandalkan rekam jejak pengalaman dibandingkan presisi alat ukur dalam menentukan tingkat keberhasilan proses produksinya. Insting atau feeling tersebut mulai digunakan sejak tahapan proses pemasakan di atas tungku hingga ke tahap menentukan apakah nira yang diolah tersebut berpotensi sukses menjadi gula kristal yang bernilai jual tinggi, atau justru terpaksa harus diubah wujudnya menjadi sekadar gula cetak.
"Kalau feeling sudah mengatakan tidak jadi kristal, biasanya langsung dicetak. Jadi lebih banyak berdasarkan pengalaman, bukan mengukur dengan alat," jelasnya.
Salah satu tantangan terbesar yang sering mendera dalam rantai produksi gula semut adalah kualitas nira yang rupanya tidak selalu sama persis setiap harinya. Menurut Dakir, faktor kondisi cuaca alam sangat mendominasi dan memengaruhi standar kualitas bahan baku cair yang diperoleh para penderes di pucuk pohon.
"Kalau cuaca hujan atau berubah-ubah, kualitas niranya juga berbeda. Ada yang bagus, ada yang kurang bagus," katanya.
Menyiasati hal alamiah tersebut, para pengrajin biasanya mencampur nira dari berbagai hasil sadapan. Langkah percampuran itu sengaja diakali agar kualitas bahan baku cair menjadi lebih merata, sehingga peluang untuk bisa menghasilkan wujud gula kristal pun menjadi lebih besar.
"Kalau dipisah-pisah, ada yang tidak jadi. Karena itu biasanya dicampur jadi satu supaya hasilnya lebih bagus," ujarnya.
Sebagai seorang penderes yang masih sangat aktif, Dakir mengaku bahwa setiap harinya ia harus menguras fisik memanjat sekitar 20 hingga 21 batang pohon kelapa demi bisa mendapatkan pasokan bahan baku produksi.
Dari padatnya aktivitas fisik yang berisiko tersebut, ia dalam sehari semalam mampu mengumpulkan sekitar 40 hingga 50 liter cairan nira kelapa. Jumlah cairan melimpah itu kemudian digodok dan diolah menjadi sekitar delapan kilogram produk gula semut atau gula kristal.
"Kurang lebih dapat 40 sampai 50 liter nira sehari. Dari situ biasanya jadi sekitar delapan kilogram gula kristal," kata dia merinci hitungan kasarnya.
Hasil jerih payah produksi rumahan tersebut selanjutnya langsung dijual kepada pihak pengepul dengan besaran harga yang senantiasa mengikuti fluktuasi pasar komoditas. Saat ini, harga gula semut yang rutin diterimanya berada di kisaran Rp21.500 untuk setiap satu kilogram.
"Saya jual ke pengepul. Harganya sekarang sekitar Rp21.500 per kilogram. Petani biasanya mengikuti harga dari pembeli," tuturnya.
Meski secara terbuka dan antusias menyambut baik kehadiran teknologi bantuan dari UGM, Dakir tetap realistis dan menilai proses adaptasi pada tataran akar rumput tetap membutuhkan rentang waktu edukasi.
Menurutnya, selama ini pekerjaan membuat gula semut dapat dilakukan dengan sangat luwes oleh hampir semua anggota keluarga karena hanya mengandalkan keterampilan empiris yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Sementara itu, penggunaan mesin dan peralatan modern baru jelas memerlukan pemahaman kelistrikan maupun teknis tertentu.
"Kalau teknologi dan mesin tentu harus belajar lagi. Tapi semuanya bagus. Setiap orang punya pendapat masing-masing," katanya.
Dakir sangat menaruh harapan agar inovasi canggih yang diperkenalkan UGM ini benar-benar dapat membantu mengangkat taraf kualitas dan produktivitas gula semut khas Banyumas, tanpa sedikit pun menyingkirkan atau menghilangkan pengetahuan tradisional yang selama ini menjadi modal dan roh utama para petani.
Baginya, jam terbang pengalaman lapangan di pedesaan dan teknologi mesin modern kampus tidak harus selalu saling meniadakan atau menggantikan, melainkan dapat berjalan sangat harmonis dan berdampingan untuk bisa menghasilkan produk akhir yang lebih bermutu.
"Kalau cuacanya bagus, biasanya gula kristal juga jadi bagus. Yang penting petani tetap bisa bekerja dan hasilnya meningkat," ujarnya memungkasi perbincangan. (jti)