Review Film Dokumenter Ki AI Nir Nur: Saat Ogoh-ogoh Menjadi Cermin Relasi Manusia dan AI
Putu Kartika Viktriani June 01, 2026 08:39 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bali kembali menunjukkan bahwa tradisi tidak pernah berhenti berkembang.

Melalui film dokumenter Ki AI Nir Nur, publik diajak menyaksikan bagaimana sebuah ogoh-ogoh bukan hanya menjadi simbol ritual menjelang Nyepi, tetapi juga medium refleksi tentang masa depan manusia di tengah derasnya arus kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Film dokumenter garapan tim Gemah Indah bersama Mahatma Pictures ini resmi diperkenalkan kepada publik pada Minggu, 31 Mei 2026.

Mengangkat proses kreatif di balik ogoh-ogoh Banjar Gemeh, Denpasar saat Nyepi Saka 1947 atau tahun 2025 lalu, film ini hadir bukan sekadar sebagai dokumentasi budaya, melainkan sebuah karya kontemplatif yang relevan dengan keresahan zaman modern.

Sejak menit awal, Ki AI Nir Nur menawarkan pendekatan dokumenter yang terasa intim dan jujur.

Baca juga: Ogoh-ogoh Mini Unik di Klungkung, Terbuat dari Kulit Salak hingga Akar Tumbuhan

Kamera tidak hanya merekam proses teknis pembuatan ogoh-ogoh, tetapi juga menangkap dinamika emosional para krama dan pemuda banjar yang terlibat langsung dalam proses kreatif tersebut.

Penonton dibuat seolah ikut hadir di tengah bengkel kerja, menyaksikan diskusi, kelelahan, hingga semangat kolektif yang membangun karya monumental itu.

Kekuatan utama film ini terletak pada gagasan filosofis yang diusung.

Sosok Ki AI Nir Nur bukan hanya representasi visual semata, melainkan metafora tentang hubungan antara kecerdasan dan kesadaran manusia.

Nama “AI” yang merujuk pada Artificial Intelligence dipadukan dengan makna lokal Bali, yakni “Ai” sebagai simbol matahari, sementara “Nir Nur” berarti tanpa cahaya.

Melalui simbol tersebut, film ini menyampaikan kritik halus namun tajam tentang kemungkinan lahirnya kecerdasan tanpa nurani.

Sebuah dunia yang dipenuhi teknologi, tetapi kehilangan kesadaran kemanusiaan.

Pernyataan Marmar Herayukti sebagai pencetus film sekaligus undagi ogoh-ogoh menjadi salah satu bagian paling kuat dalam dokumenter ini.

Analogi tentang matahari tanpa cahaya berhasil menghadirkan gambaran sederhana namun mendalam mengenai ancaman teknologi yang berkembang tanpa kontrol nilai-nilai kemanusiaan.

"Kecerdasan yang dibarengi kesadaran itu saya ibaratkan seperti cahaya matahari. Matahari memungkinkan kehidupan tumbuh dan berkembang. Tetapi bayangkan jika ada matahari tanpa cahaya; dunia akan gelap, dingin, dan perlahan mati. Yang hilang di sana adalah kesadaran," ujar Marmar.

Dari sisi visual, dokumenter ini berhasil memanfaatkan atmosfer khas pengerjaan ogoh-ogoh di Bali.

Detail pahatan, permainan cahaya malam, suara alat kerja, hingga ekspresi para pemuda banjar menghadirkan nuansa yang hidup dan autentik.

Film ini tidak mencoba tampil mewah secara sinematik, namun justru kekuatan realisme dan kedekatan emosional itulah yang membuat pesannya terasa kuat.

Menariknya, isu yang direkam sejak Januari 2025 justru terasa semakin relevan ketika film rampung pada Maret 2026.

Dalam kurun waktu satu tahun, perkembangan AI di dunia memang melesat begitu cepat, membuat pesan yang dibangun dokumenter ini terasa semakin dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari masyarakat modern.

Di titik inilah Ki AI Nir Nur tampil berbeda dibanding dokumenter budaya pada umumnya.

 

Film ini berhasil menjadikan ogoh-ogoh sebagai medium kritik sosial dan refleksi universal.

Tradisi Bali tidak ditempatkan sebagai warisan statis, melainkan ruang dialog yang mampu berbicara tentang isu global.

SENIMAN - Marmar, seniman asal Bali konseptor ogoh-ogoh Banjar Gemeh, Denpasar saat diwawancara Tribun Bali, Sabtu 21 Maret 2026. (Tribun Bali/tribun)

Meski demikian, ritme dokumenter pada beberapa bagian terasa cukup lambat, terutama bagi penonton yang tidak terbiasa menikmati film dokumenter observasional.

Namun, tempo tersebut sebenarnya selaras dengan pendekatan reflektif yang ingin dibangun film ini.

Secara keseluruhan, Ki AI Nir Nur adalah dokumenter yang berhasil memadukan kekuatan budaya lokal Bali dengan kegelisahan global tentang masa depan teknologi.

Film ini bukan hanya tentang ogoh-ogoh, tetapi tentang manusia, kesadaran, dan pilihan arah peradaban di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi.

Lebih dari sekadar tontonan budaya, Ki AI Nir Nur menjadi pengingat bahwa di balik segala kecanggihan teknologi, manusia tetap membutuhkan nurani sebagai cahaya utama dalam menjalani kehidupan.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.