Pancasila Mengajarkan Kita untuk Tidak Serakah
Ilham Mulyawan June 01, 2026 08:47 PM

 

Oleh: Furqan Mawardi, Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju 

TRIBUN-SULBAR.COM - Setiap kali Pancasila diperingati, kita seringnya hanya tersibukkan menghafal setiap butirnya, akan tetapi seribu sayang terkadang kita luput merenungi setiap pesan yang terkadung di dalamnya.

Padahal Pancasila bukan sekadar teks yang dibacakan saat upacara hingga dihafal, bukan juga hiasan yang hanya dipasang di dinding sekolah dan kantor pemerintahan. 

Namun sejatinya pancasila adalah cermin tentang bagaimana manusia Indonesia seharusnya hidup berkehidupan. 

Baca juga: 3 Pemuda Curi Kelapa Milik Staf SMAN 1 Tapalang Mamuju Tak Jadi Diproses Hukum Usai Dimaafkan

Baca juga: Polisi Sebut Eks Ketua DPRD Mamuju Palsukan Laporan Makan Minum Catut Warung dan Toko Kelontong

Dan jika direnungkan lebih dalam, ada satu pesan besar yang mengalir dari sila pertama sampai sila kelima yang penting kita untuk mengambil pelajaran, yakni : Jangan Menjadi Manusia yang Serakah. 

Saya termasuk meyakini bahwa bangsa kita ini tidak kekurangan orang pintar. Negeri kita ini juga tidak miskin sumber daya. 

Tetapi kita terlalu sering dipertontonkan kerakusan. 

Ada yang serakah terhadap jabatan, serakah terhadap uang, serakah terhadap kekuasaan, bahkan serakah terhadap pujian dan penghormatan.

Ironisnya, kerakusan itu kadang dilakukan oleh orang-orang yang setiap hari berbicara tentang moral, agama, dan kebangsaan. 

Di sinilah Pancasila sebenarnya sedang memberikan pesan dan pelajaran kepada kita semua terkait setiap butirnya, yakni: 
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sesungguhnya memberikan pelajaran bahwa manusia bukan pusat alam semesta. Ada Tuhan yang mengawasi hidup ini. 

Orang yang benar-benar bertuhan seharusnya tahu batas antara kebutuhan dan ketamakan. Sebab keserakahan sering lahir ketika manusia merasa dirinya paling berkuasa dan lupa bahwa hidup hanyalah titipan sementara. 

Al-Qur’an mengingatkan: 
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1) 

Betapa banyak manusia yang akhirnya kehilangan nurani karena terlalu sibuk menumpuk dunia. 

Jabatan dijadikan alat memperkaya diri. Amanah berubah menjadi kesempatan mengambil keuntungan. 

Padahal agama tidak pernah mengajarkan kerakusan. Islam justru mengajarkan qana’ah, kesederhanaan, dan keberkahan hidup. 

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri. 

Keserakahan selalu membuat manusia kehilangan empati. 

Orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri biasanya sulit merasakan penderitaan orang lain. 

Hari ini kita melihat ironi di mana-mana. Ada orang hidup bermewah-mewahan di tengah rakyat yang kesulitan makan. 

Ada yang sibuk memperkaya diri ketika banyak anak putus sekolah. Bahkan ada yang tega mengambil hak rakyat kecil demi kepentingannya sendiri. 

Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda: 
“Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim) 
Hadis ini sederhana, tetapi sangat dalam. Bahwa iman seharusnya melahirkan kepedulian sosial. 

Orang yang beradab tidak akan nyaman hidup berlebihan di tengah penderitaan orang lain. 

Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Keserakahan sering menjadi sebab retaknya persatuan. Banyak konflik lahir bukan karena perbedaan, tetapi karena ego dan kepentingan. Ada yang rela memecah belah masyarakat demi kekuasaan. 

Ada yang menjadikan agama, suku, dan identitas sebagai alat memenangkan ambisi politik. 

Padahal persatuan tidak mungkin lahir dari hati yang rakus. 

Persatuan hanya tumbuh dari keikhlasan untuk saling menjaga dan saling mengalah demi kepentingan bersama. 

Bangsa ini terlalu besar untuk dipertaruhkan demi ambisi kelompok. 

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, sesungguhnya mengandung pesan moral yang sangat kuat tentang amanah kekuasaan. 

Kekuasaan seharusnya melahirkan kebijaksanaan, bukan keserakahan. 

Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Jabatan diperebutkan mati-matian, tetapi setelah didapatkan kadang lupa bahwa di dalamnya ada tanggung jawab besar kepada rakyat. 

Politik akhirnya kehilangan hikmah karena terlalu dipenuhi kepentingan. 

Al-Qur’an mengingatkan: 
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya...” (QS. An-Nisa: 58) 

Ayat ini seperti mengetuk hati kita semua bahwa kekuasaan bukan alat memperkaya diri, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. 
Dan akhirnya sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Inilah sila yang paling keras menegur keserakahan.

Sebab keadilan tidak akan pernah lahir di tengah kerakusan. 

Selama masih ada orang yang menumpuk kekayaan tanpa peduli penderitaan masyarakat, selama masih ada korupsi yang merampas hak rakyat, selama masih ada eksploitasi alam demi keuntungan segelintir orang, maka sesungguhnya kita belum benar mengamalkan sila kelima, bahkan justru kita sering menghianatinya. 

Rasulullah SAW bersabda: 
“Bukanlah seorang mukmin yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Thabrani) 

Hadis ini bukan hanya tentang makanan. Ia berbicara tentang kepekaan sosial, tentang rasa cukup, dan tentang pentingnya berbagi kehidupan dengan sesama. 

Mungkin inilah yang mulai hilang dari kehidupan kita hari ini, yakni merasa cukup atau dalam bahasa agama qonaah. 

Kita hidup di zaman ketika manusia berlomba memiliki segalanya, tetapi lupa menikmati apa yang sudah dimiliki. 

Media sosial dipenuhi pamer kemewahan. Jabatan dipandang sebagai simbol prestise. Serta kesuksesan diukur dari banyaknya harta, bukan dari kebermanfaatan hidup. 

Padahal bangsa ini tidak dibangun oleh orang-orang serakah. Negeri ini berdiri karena pengorbanan dari para pejuang, karena kebersamaan, karena kesediaan untuk mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. 

Karena itu, memperingati Pancasila sesungguhnya bukan hanya menghafal lima sila, tetapi juga bertanya kepada diri kita masing-masing apakah hidup kita sudah cukup adil bagi orang lain? Apakah jabatan kita membawa manfaat? 

Apakah kekayaan kita masih menyisakan kepedulian? 

Apakah ilmu yang kita miliki membuat kita semakin rendah hati atau justru semakin rakus?, dan tentunya hanya hati nurani yang bersihlah yang mampu menjawabnya dengan jujur. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.