SURYA.CO.ID - kematian A (57), seorang perempuan paruh baya asal Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali masih menjadi misteri.
Sebelum mengembuskan napas terakhirnya usai menyantap sate ayam misterius, korban ternyata sempat diperingatkan oleh sang anak agar tidak memakan kiriman tersebut.
Kecurigaan keluarga bermula saat sebuah paket sate ayam tiba di kediaman korban melalui jasa ojek online.
Pemesanan tersebut mencatut nama Luriyanti, anak kedua korban. Merasa tidak memesan, korban sempat menghubungi anaknya untuk mengonfirmasi kiriman makanan itu.
Kuasa hukum keluarga korban, Wiwik Dwi Habsari SH, mengungkapkan bahwa Luriyanti sudah menaruh curiga karena ia merasa tidak pernah mengirimkan makanan apa pun ke rumah ibunya.
“Awalnya tidak tahu siapa yang mengirim. Bahkan anak korban sempat meminta agar sate itu tidak dimakan karena pengirimnya tidak jelas,” terang Wiwik, Minggu (31/5/2026).
Namun nahas, peringatan itu tampaknya tidak sempat menghalangi korban untuk mencicipi sate tersebut.
Tak lama setelah mengonsumsinya, A dilaporkan meninggal dunia.
Kejanggalan semakin menguat ketika diketahui sejumlah ayam yang memakan sisa sate tersebut juga mati mendadak.
Penyelidikan internal keluarga dan keterangan saksi mulai mengarah pada sosok berinisial P, yang tak lain adalah menantu korban.
Berdasarkan informasi dari pengemudi ojek online, pesanan sate tersebut dibeli di wilayah Pandean sebelum diantarkan ke rumah korban di Dukuh Sindon.
“Proses pembelian sate ayam di Desa Pandean hingga makanan tersebut diantar ke rumah korban diketahui dari cerita driver ojek online yang kemudian mengetahui kabar meninggalnya A dari tayangan di Facebook,” jelas Wiwik.
Wiwik menambahkan, penggunaan nama Luriyanti dalam pesanan tersebut diduga sebagai modus untuk mengelabui korban.
“Setelah ditelusuri, ternyata anak kedua korban yang namanya digunakan dalam pemesanan itu merasa tidak pernah mengirim sate ayam kepada ibunya yang tinggal sendirian di Sindon,” ujarnya.
Widodo (61), kakak kandung korban, membeberkan bahwa hubungan antara korban dan P memang sudah lama tidak harmonis.
Ia menyebut P memiliki rekam jejak yang buruk dalam keluarga, terutama terkait masalah finansial.
“Terduga pelaku P sering meminta uang ke korban dengan cara berbohong. Jadi P ini tidak merasa bersalah, tidak merasa dosa, dan tidak punya malu,” tegas Widodo.
Selain sering berbohong, P juga disebut terjerat masalah utang dan memiliki kebiasaan buruk.
“Track record P ini sudah jelek. Tiap hari cari utang ke teman-temannya dan sering main judi online,” katanya.
Untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban, pihak kepolisian telah melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam A pada Sabtu (30/5/2026) guna proses autopsi.
Keluarga kini menunggu hasil forensik dengan harapan fakta sebenarnya dapat segera terungkap demi keadilan bagi almarhumah.