Dua Kontroversi Mendorong FIFA Umumkan Aturan Kartu Merah Baru untuk Piala Dunia 2026
Hendra Wijaya June 02, 2026 05:38 AM

Sejumlah peraturan baru akan diperkenalkan pada Piala Dunia 2026, sebagian besar ditujukan untuk mengurangi pemborosan waktu dalam pertandingan. Namun, setelah dua insiden besar yang menimbulkan perdebatan, FIFA juga memutuskan untuk melakukan penyesuaian terhadap regulasi terkait kartu merah.

Dalam sebuah pengarahan bersama media internasional, Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, mengumumkan bahwa mulai sekarang wasit akan mengeluarkan kartu merah kepada pemain yang menutupi mulutnya dengan tangan, kaus, atau benda lain saat berbicara. Namun, Collina menegaskan, “Hanya jika situasinya bersifat konfrontatif. Jika itu percakapan yang bersahabat – misalnya antara dua pemain yang biasanya bermain di klub yang sama namun kini saling berhadapan membela tim nasional mereka – maka tidak akan ada tindakan disipliner.”

Latar belakangnya bermula pada laga leg pertama play-off Liga Champions antara Benfica Lisbon melawan Real Madrid pada bulan Februari. Penyerang Benfica, Gianluca Prestianni, dituduh melakukan pelecehan rasial terhadap Vinicius Junior. Pemain asal Argentina yang tidak dipanggil ke skuad Albiceleste untuk Piala Dunia itu diduga melontarkan kata-kata rasis sambil menutupi mulutnya dengan kaus, sehingga sulit dipastikan apa yang sebenarnya ia katakan kepada pemain asal Brasil tersebut. Meskipun Prestianni kemudian dijatuhi sanksi, ia tetap diizinkan menyelesaikan pertandingan melawan Real Madrid.

Pada pertengahan April, UEFA menjatuhkan hukuman larangan bermain enam pertandingan kepada Prestianni karena “perilaku diskriminatif”. Dua minggu kemudian, FIFA memperluas larangan tersebut ke seluruh kompetisi internasional, yang berarti jika ia dipilih ke skuad nasional, ia akan absen pada dua laga awal fase grup Piala Dunia.

Skandal di final Piala Afrika: FIFA turun tangan

FIFA juga mengambil pelajaran dari insiden lain yang terjadi beberapa minggu sebelum kasus Prestianni. Mulai sekarang, setiap pemain yang meninggalkan lapangan untuk memprotes keputusan wasit akan langsung menerima kartu merah. Hukuman yang sama juga berlaku bagi anggota staf pelatih yang memprovokasi tindakan tersebut.

Pada final Piala Afrika melawan Maroko, tim Senegal yang dipimpin oleh pelatih Pape Thiaw meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap dua keputusan wasit yang dianggap kontroversial dan menolak melanjutkan pertandingan. Senegal akhirnya memenangkan laga tersebut di babak perpanjangan waktu, tetapi dua bulan kemudian Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) memutuskan bahwa Maroko adalah juara yang sah.

Apakah penjaga gawang berpura-pura cedera? FIFA masih mencari solusi.

Perubahan aturan menjelang Piala Dunia juga menargetkan pemborosan waktu, dengan memperkenalkan batas waktu lima detik untuk tendangan gawang, tendangan sudut, dan lemparan ke dalam. Namun, Collina menekankan pentingnya “penilaian wasit” dalam penerapan aturan ini: “Jika, misalnya, seorang pemain dikenal sebagai spesialis lemparan jauh dan membutuhkan jarak untuk mengambil ancang-ancang, maka hitungan lima detik tentu tidak perlu diterapkan secara kaku.”

Tantangan yang lebih besar mungkin datang dari penjaga gawang yang berpura-pura cedera untuk memberi kesempatan pelatih memberikan instruksi taktis dari pinggir lapangan. Berdasarkan aturan medis turnamen, pemain yang mendapat perawatan di lapangan tidak boleh kembali bermain hingga 60 detik berlalu. Masih belum jelas bagaimana aturan ini akan diterapkan pada penjaga gawang. “Kami juga berharap para pemain memahami pentingnya hal ini,” ujar Collina.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.