Mengapa Reece James Tidak Mencari Nasihat ‘Kemenangan’ dari Sang Adik, Lauren, Saat Tiga Singa Inggris Berusaha Menyamai Kejayaan Lionesses
Rina Kusumawati June 02, 2026 06:54 AM

Menjelang Piala Dunia mendatang, Reece James bersiap memimpin lini pertahanan Inggris dengan tekad kuat untuk akhirnya meninggalkan jejak di panggung dunia setelah kekecewaan karena absen di Qatar 2022. Sementara sang adik, Lauren James, sudah lebih dulu merasakan manisnya sukses internasional bersama Lionesses, kapten Chelsea itu menegaskan bahwa ia memiliki caranya sendiri untuk meraih kemenangan.

Kisah sukses saudara kandung dan rumus kemenangan

Keluarga James kini identik dengan sepak bola elit Inggris, dengan Reece dan Lauren sama-sama memperkuat Chelsea serta tim nasional di level tertinggi. Lauren memainkan peran penting dalam keberhasilan Lionesses, sehingga banyak yang bertanya-tanya apakah Reece pernah meminta saran dari adiknya tentang bagaimana menghadapi tekanan di turnamen besar. Namun, sang kapten Chelsea tetap percaya diri dengan kemampuan dan pengalamannya sendiri.

Saat diwawancarai oleh majalah GQ dan ditanya apakah Lauren pernah memberinya nasihat tentang cara memenangkan final, James menjawab tegas: “Tidak, aku rasa tidak. Mungkin kalau aku belum pernah memenangkan apa pun [dia akan memberi nasihat], tapi aku sudah punya pengalaman menang sebelumnya, aku tahu rasanya dan tahu apa yang dibutuhkan.” Meski tidak ada pertukaran taktik di antara keduanya, kebanggaan Reece terhadap pencapaian sang adik sangat jelas. “Aku selalu tahu bahwa levelnya memang untuk tampil di panggung besar, di pertandingan besar, jadi aku sama sekali tidak terkejut. Aku bangga melihatnya bermain untuk Chelsea dan membela Inggris,” tambahnya.

Bertemu kembali dengan Thomas Tuchel

Penunjukan Thomas Tuchel sebagai penerus Gareth Southgate menjadi dorongan besar bagi James. Keduanya pernah memenangkan Liga Champions bersama di Stamford Bridge dan saling menghormati, hal yang menurut James akan sangat penting bagi peluang Inggris di Amerika Serikat. Pemain berusia 26 tahun itu mengaku senang ketika mantan pelatih klubnya mengambil alih tim nasional di momen penting ini.

“Kami punya hubungan yang sangat baik, jadi aku senang bisa kembali bekerja dengan seseorang yang mengenalku dan tahu bagaimana memaksimalkan kemampuanku,” jelas James. Menjelaskan mengapa pelatih asal Jerman itu sosok yang tepat, ia menambahkan: “Menurutku, dia salah satu manajer terbaik. Dia sudah menang di level tertinggi, melatih banyak tim kelas dunia, dan aku percaya pada dia, gaya mainnya, serta visinya. Dia mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dari setiap individu dan tim.”

Mengatasi rasa sakit karena absen

Kegagalan tampil di Piala Dunia 2022 di Qatar akibat cedera lutut menjadi sumber motivasi besar bagi James. Frustrasi karena hanya bisa menyaksikan dari pinggir lapangan kini menjadi bahan bakar untuk tampil lebih baik di turnamen berikutnya, dan membuktikan bahwa para peragu salah menilainya. Kini, dengan kondisi fisik yang pulih sepenuhnya dan status kapten di Chelsea, James merasa siap berkontribusi untuk musim panas bersejarah bagi sepak bola Inggris.

“Banyak orang meragukan dan menyingkirkanku. Tapi [hal itu] justru memberiku semangat besar untuk kembali lebih kuat,” aku James. “Aku selalu tahu bahwa aku cukup baik dan akan sehat kembali. Sejujurnya, sejak 2022 hal itu terus ada di pikiranku karena aku melewatkan [Piala Dunia Qatar], dan impianku adalah bermain di Piala Dunia, mengangkat trofi, dan membantu negaraku. Sejak saat itu, aku terus fokus pada ajang ini dan melakukan segalanya untuk bersiap menghadapinya.”

Membangun warisan untuk masa depan

Meski sejarah tim nasional Inggris dipenuhi dengan “generasi emas” yang gagal menuntaskan misi mereka, James lebih memilih fokus pada masa kini. Ia menyadari kualitas dalam skuad saat ini, dengan nama-nama seperti Jude Bellingham dan Harry Kane, namun menegaskan bahwa tim ini bermain untuk kejayaan mereka sendiri, bukan untuk menebus kegagalan masa lalu. Komitmennya terhadap Chelsea, setelah menandatangani kontrak jangka panjang, tetap menjadi dasar kariernya.

“Setiap kali mengenakan seragam, kamu hanya ingin mewakili Inggris dengan cara terbaik, dan cara terbaik itu adalah dengan memenangkan trofi,” ujar James. Mengenai perannya sebagai pemimpin, ia mengakui bahwa ban kapten telah membuatnya lebih matang: “Sekarang aku lebih tua, lebih berpengalaman. Hidup dan sepak bola adalah dua hal yang sangat berbeda, tapi [menjadi kapten memberiku] pemahaman lebih baik tentang asal-usul orang lain, budaya mereka. Aku selalu berusaha membuat mereka merasa nyaman karena bermain untuk Chelsea berarti berada di salah satu klub terbesar di dunia, jadi semakin nyaman mereka, semakin baik performa mereka.”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.