TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Langkah ilmiah terus dilakukan berbagai pihak untuk mengungkap fenomena kebakaran berulang secara tiba-tiba di rumah Agus Yani di Mriyan X, Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman.
Tim dari Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Yogyakarta dan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, terjun ke lokasi pada Senin (1/6/2026) untuk riset lanjutan.
Jelang siang, UGM juga menurunkan tim untuk melakukan riset serupa.
Dua tim pertama yang datang terpisah tersebut meneliti kandungan gas di Kali Konteng, tepatnya di utara dan selatan Bendung Selokan Gembung Krusuk.
Sementara itu, tim pakar lintas disiplin ilmu dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) yang melakukan observasi ke lokasi kejadian menyaksikan langsung proses kemunculan api membakar barang di rumah lantai dua tersebut.
Saat kejadian, tim UGM sedang berada di ruang depan rumah, mereka telah selesai mengambil sampel, saat api tiba-tiba menyala dan membakar selembar kaos yang semampir di dalam kamar di ruang tengah.
Para peneliti tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan langsung mengukur parameter gas pemicu kebakaran.
"Ini satu kejadian yang luar biasa, kami bisa melihat langsung, dan ini pada intinya kami mengukur suhu, suhunya naik terus kemudian yang terpantau gas Hidrogen (H2) naik terus, (skala) 11-12 mulai menyala (api). Nah, khusus ruangan tengah di kamar itu, tampaknya yang konsentrasinya (gas) tinggi," kata Ketua Tim Peneliti UGM, Prof. Ir. Alva Edy Tantowi, Senin (1/6/2026).
Secara ilmiah, fenomena api yang bisa menyala sendiri di rumah Agusyani ini disebut auto-ignition atau spontaneous ignition (penyalaan spontan).
Api akan muncul sendiri tanpa pemantik begitu unsur dalam 'segitiga api' mencapai kondisi optimum pada posisi stoikiometri.
Kendati demikian, Alva menegaskan bahwa data-data lapangan ini baru merupakan dugaan awal.
Seluruh sampel yang telah diambil seperti bekas barang terbakar maupun air di seputar rumah akan diuji secara mendalam di laboratorium pada Selasa (2/6/2026).
Alva menjelaskan, sifat gas yang dinamis menjadi alasan mengapa titik kebakaran di rumah Agusyani selalu acak dan berpindah-pindah di dalam rumah.
"Gas itu bisa berkonsentrasi di sana, memenuhi syarat (segitiga api), maka menyala. Nanti pindah lagi, memenuhi syarat, menyala lagi," jelasnya.
Untuk meminimalisasi risiko kebakaran susulan yang lebih besar, Prof. Alva meminta agar ruangan-ruangan dengan konsentrasi gas tinggi segera dikosongkan dari segala benda yang mudah terbakar.
Muftiana, putri Agus Yani sang empunya rumah, bercerita, api kerap muncul secara tiba-tiba saat ruangan kosong tidak ada orang.
Saat ini, meski lelah ia mengaku merasa lebih tenang setelah mendengar langsung penjelasan ilmiah fenomena api ini dari para ahli.
"Sudah lebih cerah, sudah lebih tenang, namun harus tetap waspada karena ini belum berakhir.Hanya memang lebih tenang, oh ini tidak ada kaitannya dengan mistis, tapi memag ada dan bisa dipelajari secara ilmiah. Tinggal menunggu hasil dari peneliti mungkin beberapa hari lagi," ujar dia.
Baca juga: Kasus Teror Api di Seyegan, Peneliti Ungkap Indikasi Rekahan Jalur Gas Alami
Peneliti dari Teknik Geologi UGM, Prof. Agung Harijoko, menjelaskan bahwa dari berbagai gas yang dipantau melalui alat detektor, seperti gas metana (CH4), karbondioksida (CO2), dan hidrogen (H2).
Lonjakan paling ekstrem di titik kebakaran justru ditunjukkan oleh gas hidrogen.
Menurutnya, hidrogen memiliki karakteristik khusus, yakni dapat menyala sendiri pada kondisi khusus, bahkan dalam batasan suhu ruangan.
"Jadi suspek gasnya adalah hidrogen, tapi kemudian yang kami harus berpikir lagi adalah sumbernya," kata dia.
Pencarian sumber gas ini menjadi penting, karena mekanisme api bisa menyala di rumah Agusyani membutuhkan hidrogen, sehingga perlu ditelaah kembali.
Untuk mencari sumbernya, peneliti mengaku telah mengambil sejumlah sampel air di rumah tersebut.
Harapannya sampel air bisa diteliti untuk mengetahui apakah ada barang-barang dari organik yang masuk ke dalam sumur atau tidak.
"Jadi proses pembentukan (gas) hidrogen itu dari proses peluruhan atau dekomposisi pembusukan dari organik. Apakah itu yang menghasilkan hidrogen, itu yang harus kami teliti lagi," kata dia.
Pergeseran temuan awal dari gas metana ke hidrogen ini juga melahirkan hipotesis baru bagi
Tim Teknik Kimia UGM. Peneliti Teknik Kimia, Prof. Sarto, menyatakan sampel air telah diambil dari berbagai titik di sekitar rumah, termasuk sumur, kolam limbah, rawa, hingga area kamar mandi.
Sampel tersebut akan diuji dan diperbandingkan.
"Kalau dugaan kemarin adalah gas metan yang biasanya muncul dari pembusukan, yang ini kok ternyata hidrogen, sehingga kami akan mencari sumber yang sebenarnya apa. Di samping kejadian-kejadian kemarin yang terbakar kita kumpulkan informasinya. Jadi mudah-mudahan sumber yang kita duga dari air, besok kita bisa temukan sedangkan lainnya kami akan cari lagi," ujar Prof. Sarto.
Di sisi lain, proses pengumpulan sampel fisik dari material yang telah hangus terbakar juga terus dilakukan.
Peneliti dari Teknik Mesin UGM, Prof. Deendarlianto, memastikan seluruh sampel benda dan gas yang terperangkap pada objek terbakar akan dianalisis secara simultan di laboratorium pada hari Selasa.
Untuk memastikan tidak ada penyebab lain dari faktor eksternal, Pakar Elektro UGM, Iswandi, turut memeriksa potensi gangguan medan magnet atau jaringan listrik di sekitar pemukiman.
Hasil sementara menunjukkan tidak ada infrastruktur tegangan tinggi maupun menara (tower) pemancar yang besar di seputar rumah Agus Yani.
"Keluhan pemilik rumah mengenai listrik yang tidak stabil saya kira bukan menjadi penyebab kemunculan api. Saya kira selanjutnya, terbakarnya satu gas ada kemungkinan bisa muncul karena tidak perlu pemantik. Kalau disini kelistrikan cenderungnya hanya pemantik saja," terang Iswandi.
Kehadiran tim ilmiah ini diharapkan dapat meredam spekulasi liar yang berkembang di tengah masyarakat.
Dr. Ahmad Agus Setiawan dari Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM menyampaikan bahwa jajaran pakar senior termasuk mantan Rektor UGM dan mantan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menaruh perhatian besar pada kasus yang menyita perhatian publik ini.
"Kemarin kami sudah diskusi intens para pakar, termasuk mantan Rektor dan mantan Kepala BMKG Dwikorita dan ada konsen yang dimunculkan, bagaimana tim ini membawa informasi kebakaran berulang ini bisa lebih ilmiah. Sebab kasus ini sudah mulai dibawa ke ranah yang agak mistis. Semoga dengan informasi yang fiks, bisa menjembatani ini semua," harap Agus. (rif/hdy)