Rekam Jejak Moncer Try Sutrisno dan Ryamizard Ryacudu, 2 Tokoh Militer yang Meninggal pada 2026
Nanda Lusiana Saputri June 02, 2026 07:21 AM

TRIBUNNEWS.COM - Militer Tanah Air kembali diselimuti duka mendalam, kehilangan tokoh penting untuk selama-lamanya pada Minggu, 31 Mei 2026.

Tokoh militer tersebut adalah Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, mantan Menteri Pertahanan (Menhan) sekaligus eks Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Purnawirawan perwira tinggi jenderal bintang 4 ini mengembuskan napas terakhirnya pada usia 76 tahun.

Jenazah Ryamizard Ryacudu telah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta Selatan, pada Senin (1/6/2026).

Makam Menhan berada di tengah-tengah antara makam Jenderal TNI (Purn) H Surono dan Letjen TNI (Purn) H Bustanil Arifin.

Pada Maret 2026, militer Tanah Air juga kehilangan tokoh terbaiknya, yakni Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia (RI).

Try Sutrisno mengembuskan napas terakhirnya pada usia 90 tahun.

Baca juga: Sosok 3 Jenderal TNI yang Nikahi Anak Jenderal, Ryamizard Ryacudu dan Putri Try Sutrisno Termasuk

Try Sutrisno juga merupakan mertua Ryamizard Ryacudu.

Ryamizard menikah dengan putri sulung Try Sutrisno, Nora Tristyana.

Lantas, seperti apakah sosok, profil, dan sepak terjang Try Sutrisno dan Ryamizard Ryacudu? Berikut rekam jejaknya.

Rekam Jejak Moncer Try Sutrisno dan Ryamizard Ryacudu

1. Try Sutrisno

Try Sutrisno adalah seorang purnawirawan jenderal TNI Angkatan Darat (AD).

Ia lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935.

Try adalah lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad), saat ini Akademi Militer (Akmil), pada tahun 1959.

Selama kariernya, Try Sutrisno diketahui pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat pada 1986-1988 dan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia tahun 1988-1993.

Selain itu, ternyata Try Sutrisno juga pernah menjabat sebagai Wakil Presiden ke-6, dari tahun 1993 hingga 1998.

Pengalaman pertama Try Sutrisno di militer adalah pada tahun 1957, ketika berperang melawan Pemberontakan PRRI.

PRRI merupakan kelompok separatis di Sumatera yang ingin membentuk pemerintahan alternatif selain Presiden Soekarno.

Sementara itu, pengalaman awal Try Sutrisno di ABRI adalah menjalankan tugas di Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur. 

Pada tahun 1972, Try Sutrisno dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad). 

Kemudian, tahun 1974, Try Sutrisno terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto. 

Setelahnya, Soeharto mulai menyukai Try Sutrisno dan sejak saat itu, karier militer Try Sutrisno meroket.

Pada tahun 1978, Try Sutrisno diangkat menjadi Kepala Staf di KODAM XVI/Udayana. 

Setahun kemudian, ia menjadi Panglima KODAM IV/Sriwijaya, di mana ia memulai kariernya. 

Sebagai Pangdam, Try Sutrisno pindah untuk menekan tingkat kejahatan serta menghentikan penyelundupan timah. 

Dia bahkan berpartisipasi dalam kampanye lingkungan untuk mengembalikan gajah Sumatera ke habitat alami mereka.

Pada 1982, Try Sutrisno kemudian dipindahkan ke Jakarta dan diangkat menjadi Panglima KODAM V/Jaya.

Masa-masa ketika menjabat Pangdam V/Jaya itu, menjadi salah satu masa kelam dalam hidup Try Sutrisno. 

Dia bersama Panglima ABRI saat itu, Benny Moerdani, adalah tokoh utama dalam tragedi Tanjung Priok 1984.

Sampai saat ini belum ada data pasti terkait jumlah korban dalam tragedi itu. 

Dari pemerintah mengklaim ada 28 orang yang tewas dalam kerusuhan tersebut, tapi dari pihak korban tetap bersikeras bahwa jumlah korban yang tewas ada 700 orang.

Meski demikian, karier Try Sutrisno terus berkembang hingga pada 1985, ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). 

Hanya berselang setahun, pada 1986, ia diangkat sebagai KSAD dan menjabat selama dua tahun.

Setelah lengser, pada 1988, ia kemudian diangkat menjadi Panglima ABRI, di mana jabatan ini merupakan puncak kariernya di militer.

Masa jabatannya sebagai Panglima ABRI akhirnya berakhir pada 1993.

Sebagai Panglima ABRI, Sutrisno menghabiskan banyak waktu untuk menumpas pemberontakan di seluruh Indonesia. 

Pada tahun yang sama, yakni 1993, Try Sutrisno diangkat menjadi wakil presiden mendampingi Soeharto.

Sebagai wakil presiden yang ke-6, Try Sutrisno mendampingi Soeharto sampai 1998, sebelum posisinya digantikan oleh B. J. Habibie menjelang reformasi.

Try Sutrisno memiliki istri yang bernama Tuti Sutiawati.

Pasangan ini dikaruniai 7 orang anak.

2. Ryamizard Ryacudu

Ryamizard Ryacudu juga merupakan purnawirawan perwira tinggi TNI AD dengan pangkat terkahir jenderal.

Jabatan terkahirnya di TNI yakni KSAD.

Ia lahir di Palembang, pada 21 April 1950. 

Ryamizard merupakan anak dari Musannif Ryacudu, seorang perwira TNI AD yang dikenal dekat dengan Presiden pertama RI, Soekarno.

Dalam kehidupan pribadinya, Ryamizard menikah dengan Nora Tristyana, putri mantan Wakil Presiden RI Try Sutrisno.

Ia juga merupakan kakak dari Syamsurya Ryacudu.

Ryamizard merupakan lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri), saat ini Akmil.

Ia telah malang melintang berkarier di kemiliteran tanah air.

Ryamizard pernah mengemban jabatan sebagai Pangdam V/Brawijaya dan Pangdam Jaya.

Saat terjadi ketegangan politik nasional di era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Ryamizard dikenal tegas dalam menjaga keamanan wilayah Jakarta.

Semenjak itu, kariernya terus meroket dan lalu diutus menjabat sebagai Panglima Kostrad.

Setelah itu, Ryamizard diamanahakan untuk mengemban jabatan sebagai Wakil KSAD, hingga akhirnya diangkat menjadi KSAD pada periode 2002–2005.

Ryamizard juga sempat dicalonkan menjadi Panglima TNI pada akhir pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Namun pergantian pemerintahan ke era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuat pencalonannya batal dan posisi Panglima TNI akhirnya diberikan kepada Marsekal Djoko Suyanto.

Di dunia politik, Ryamizard dikenal dekat dengan Megawati Soekarnoputri dan sempat disebut sebagai salah satu tokoh potensial dalam kontestasi nasional.

Pada Pilpres 2014, Ryamizard secara terbuka mendukung pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Setelah Jokowi terpilih menjadi presiden, Ryamizard dipercaya menjabat Menhan RI dalam Kabinet Kerja periode 2014–2019.

Selama kariernya, Ryamizard menerima berbagai tanda kehormatan dari dalam maupun luar negeri atas jasa dan pengabdiannya kepada negara.

Berikut rincian jabatan yang pernah diemban Ryamizard Ryacudu:

  • Komandan Kompi Pelajar
  • Komando Takalar Kalimantan Timur (1976)
  • Komandan Kompi Pelajar
  • Komando Pendidikan (Dodik)
  • Kodam XII/Tanjungpura (1976)
  • Komandan Peleton Kodam XII/Tanjungpura (1976)
  • Komandan Kompi Secaba, Dodik, Kodam XII/Tanjungpura (1977 – 1977)
  • Komandan Batalyon 641 dan 642, Kodam XII/Tanjungpura (1980)
  • Kepala Seksi-2/Operasi Yonif 641 (1982 – 1982)
  • Kepala Seksi Operasi Linud Brigif 17 Kujang (1987)
  • Wakil Danyon 305 Tengkorak Kujang Kostrad (1988 – 1988)
  • Danyon Linud 305 Tengkorak Kujang (1990 - 1990)
  • Kepala Staf Brigif 17 Kujang I Kostrad (1991 – 1991)
  • Komandan Kontingen Garuda XII-B (1992 – 1992)
  • Komandan Sektor 5 Barat, Kamboja (1992 – 1992)
  • Dipercaya oleh Pasukan PBB di Kamboja (UNTAC)
  • Komandan Brigade Infanteri 17 Ku (1994 – 994)
  • Asisten Operasi Kodam VII/Wirabuana (1995 – 1995)
  • Danrem 044 Garuda Dempo Kodam II (1995 – 1995)
  • Kepala Staf Divisi II Kostrad (1996 – 1996)
  • Kepala Staf Kodam II/Sriwijaya (1997 – 1997)
  • Panglima Divisi II Kostrad, Jawa (1998 – 1998)
  • Kepala Staf Kostrad (1998 – 1998)
  • Pangdam V/Brawijaya (1999 – 1999)
  • Pangdam Jaya (1999 – 2000)
  • Pangkostrad (2000 – 2002)
  • KSAD (2002 – 2004)
  • Menteri Pertahanan dan Keamanan (2014 – 2019)

(Tribunnews.com/Rakli/Rifqah/Garudea Prabawati/Ika Wahyuningsih)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.