Usaha Bata Merah di Wolomarang Kabupaten Sikka, Warisan Keluarga yang Menjadi Harapan Warga
Untung SofaMaulana June 02, 2026 08:42 AM

- Tungku pembakaran bata merah tak pernah padam di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Aroma tanah dan asap pembakaran menjadi tanda geliat perajin bata merah di Wolomarang menjaga denyut ekonomi keluarga tetap berdetak.

Oleh karena itu, Wolomarang dikenal sebagai sentra kerajinan bata merah tradisional di Kabupaten Sikka. Bagi sebagian warga, bata merah bukan sekadar bahan bangunan, melainkan sumber penghidupan.

Di Kelurahan Wolomarang, usaha pembuatan bata merah juga bukan sekadar pekerjaan, tetapi warisan turun-temurun yang menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat.

Bagi sebagian warga yang memiliki lahan dan modal, usaha ini menjadi sumber penghidupan utama. Sementara bagi yang tidak memilikinya, mereka menjadi buruh bata merah.

Pasangan suami-istri, Benediktus Sirilus (27) dan Cindi Marsita Sari (27), adalah salah satu penggerak usaha bata merah di Kelurahan Wolomarang.

Sejak 2020, mereka menekuni usaha warisan turun-temurun dari orang tua Benediktus Sirilus.

“Kami melanjutkan usaha keluarga, karena di sini sebagian besar masyarakat memang bekerja sebagai perajin bata merah,” ujar Cindi saat ditemui di lokasi produksi bata merah, Rabu (3/9/2025) siang.

Cindi mengatakan, usaha bata merah tersebut mempekerjakan sekitar 6 hingga 7 orang. Jumlahnya tidak tetap karena disesuaikan dengan kebutuhan produksi.

Di sini, pembuatan bata merah tidak hanya dikerjakan oleh laki-laki. Para ibu, bahkan anak-anak, ikut membantu.

Para istri pekerja kerap menemani suami di lokasi produksi, membantu mencetak dan menggaruk bata agar target cepat tercapai.

“Biasanya pekerjanya laki-laki, tetapi ibu-ibu juga sering membantu suami. Anak-anak pun kadang ikut menggaruk,” kata Cindi.

Pekerja yang menangani proses pencetakan, penggarukan, hingga pengangkutan bata ke tungku pembakaran mendapat upah Rp150 per bata.

Sementara itu, pekerja yang hanya mencetak dan mengangkut bata ke tempat pembakaran mendapat upah Rp100 per bata.

Satu kali produksi bisa memakan waktu tiga minggu hingga satu bulan. Kapasitas pembakaran pun cukup besar.

Untuk dua pintu atau lubang pembakaran, sekali bakar bisa menghasilkan sekitar 28.000 bata merah. Jika tiga pintu digunakan, jumlahnya bisa mencapai 40.000 bata merah.

Namun, untuk mencapai produksi sebesar itu, bahan baku yang dibutuhkan juga besar. Setiap produksi memerlukan sekitar 13 truk tanah dan 4 mobil pikap kayu.

Harga satu truk tanah berkisar Rp350 ribu, sementara satu mobil pikap kayu mencapai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu.

Di antara proses panjang itu, ada satu tahapan penting yang tidak boleh dilewatkan, yaitu menaburkan dedak kasar di atas susunan bata sebelum pembakaran. Dedak ini berfungsi membentuk warna merah pada bata.

Namun, semua kerja keras ini bisa sia-sia jika cuaca tidak bersahabat. Musim hujan menjadi tantangan terbesar. Terpal bocor dan air yang merembes dapat merusak bata yang telah dikeringkan berhari-hari.

“Kami kesusahan ketika musim hujan tiba. Kadang terpal kami bocor, air hujan merembes masuk dan mengenai bata yang sudah kering. Akhirnya, kami harus bekerja ulang,” ujar Cindi.

Cindi dan suaminya harus bekerja ekstra keras agar air hujan tidak merusak bata yang sudah kering.

“Kalau hujan, kami bisa bekerja ulang. Bata yang sudah hampir siap bisa rusak semua,” ungkap Cindi.

Harga bata merah di Wolomarang pun tidak selalu stabil, berkisar Rp700–Rp900 per bata. Persaingan antarp produsen membuat harga sering mengikuti pasar.

Meski begitu, pasangan Cindi dan suaminya tidak kesulitan menjual hasil produksi mereka. Sejak lama, keluarga Benediktus memiliki pelanggan tetap, termasuk kontraktor yang telah bekerja sama dengan orang tua mereka.

“Dari usaha bata merah ini, saya dan suami bisa memenuhi kebutuhan hidup, bisa menabung, bahkan memenuhi kebutuhan keluarga dan adat. Jadi, usaha ini sangat berarti bagi kami,” ungkapnya.

Di tengah gempuran teknologi, banyak produsen kini beralih ke mesin untuk mempercepat produksi bata merah. Namun, Benediktus dan Cindi memilih mempertahankan cara tradisional karena hasilnya dinilai lebih berkualitas.

Lebih dari sekadar mempertahankan tradisi, pasangan ini ingin usaha bata merah mereka terus bertahan sebagai sumber penghidupan bagi warga sekitar.(*)

Program: Local Experience
Editor: Untung Sofa Maulana

#localexperience #umkm #batamerah #perajin #kabupatensikka #indonesia

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.