Oleh Dr M Junaidi Habe, MSi (Akademisi Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi/UIN STS Jambi)
BAGI sebagian orang, Piala Dunia hanyalah sebuah turnamen sepak bola masif yang mempertemukan 22 pria berebut si kulit bundar di atas rumput hijau selama 90 menit. Namun, jika kita mengupas lapisan permukaan yang berisi skor, taktik, dan selebrasi gol, Piala Dunia adalah sebuah panggung teater global.
Piala Dunia merupakan ruang kontestasi budaya, refleksi krisis lingkungan, sekaligus ujian bagi nilai-nilai humanisme modern.
Menggunakan kacamata sosiologi, sejarah, dan teori kritis, mari kita bedah mengapa sepak bola dan Piala Dunia adalah cermin dari peradaban manusia hari ini.
Untuk memahami mengapa Piala Dunia memiliki daya ikat emosional yang begitu magis hari ini, kita harus melacak akarnya.
Sepak bola modern yang kita kenal lahir di Inggris pada abad ke-19 melalui kodifikasi aturan di sekolah-sekolah privat kelas atas (public schools).
Jika dianalisis menggunakan teori Strukturalisme Fungsional, sepak bola pada era awal difungsikan sebagai alat disiplin tubuh dan moral bagi kelas pekerja di masa Revolusi Industri.
Olahraga ini mengajarkan kepatuhan, kerja sama tim, dan regulasi waktu yang linear (selaras dengan ritme kerja pabrik).
Ketika badan sepak bola dunia (FIFA) didirikan pada tahun 1904, dan Piala Dunia pertama kali digelar di Uruguay pada tahun 1930, sepak bola bertransformasi dari sekadar "permainan penjajah" menjadi alat diplomasi dan emansipasi pasca-kolonial.
Sejarah mencatat bagaimana sejarah Piala Dunia selalu berkelindan dengan geopolitik:
Sejarah ini menandai pergeseran dari sepak bola sebagai "identitas sosial" menjadi "komoditas kapitalistik".
Piala Dunia adalah salah satu dari sedikit momen di bumi di mana miliaran orang bisa merasakan ikatan emosional yang kuat dengan orang asing yang belum pernah mereka temui, hanya karena warna jersi yang sama.
Fenomena ini sangat tepat dijelaskan melalui teori "Imagined Communities" (Komunitas Imajiner) yang dicetuskan oleh sosiolog Benedict Anderson.
Dalam Piala Dunia, nasionalisme yang abstrak itu mewujud secara konkret.
Jersi, lagu kebangsaan, dan koreografi suporter di stadion menjadi simbol budaya yang mempertegas identitas bangsa.
Piala Dunia sering kali mereduksi kebudayaan lokal yang kaya menjadi sekadar komoditas pariwisata dan hiburan visual demi keuntungan hak siar dan sponsor korporat.
Budaya lokal dikemas sedemikian rupa agar "ramah" bagi pasar global, terkadang mengaburkan realitas sosial yang sebenarnya terjadi di negara tuan rumah.
Di era krisis iklim, Piala Dunia kini berada di bawah mikroskop lingkungan. Setiap helatan selalu diklaim sebagai "Piala Dunia Paling Ramah Lingkungan" atau Carbon Neutral. Namun, realitas di lapangan sering kali berbicara sebaliknya.
Kita bisa menganalisis hal ini dengan teori Modernisasi Ekologis (Ecological Modernization).
Teori ini berargumen bahwa pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan bisa berjalan beriringan melalui inovasi teknologi (misalnya: stadion bertenaga surya, sistem daur ulang air, transportasi publik rendah emisi).
Meski demikian, para aktivis lingkungan sering mengkritik klaim-klaim ini sebagai bentuk Greenwashing (pencitraan hijau). Mengapa?
Setelah turnamen selesai, stadion-stadion ini tak jarang berubah menjadi "Gajah Putih" (White Elephants) infrastruktur mahal yang terbengkalai dan tidak berguna bagi warga lokal.
Piala Dunia memegang pisau bermata duas dalam narasi humanisme (kemanusiaan).
Di satu sisi, ia adalah perayaan universal yang meruntuhkan batasan ras, agama, dan kelas sosial.
Sepak bola menjadi bahasa universal yang menyatukan umat manusia dalam ruang kegembiraan yang sama. Ini adalah manifestasi dari Humanisme Universal.
Namun di sisi lain, wajah gelap kemanusiaan kerap terekspose di balik megahnya lampu stadion.
Menggunakan analisis Biopolitik dari Michel Foucault, kita bisa melihat bagaimana tubuh para pekerja migran atau kelas bawah sering kali "dikorbankan" dan diregulasi demi ambisi politik ekonomi negara.
Meski begitu, panggung ini juga menjadi ruang resistensi humanis.
Kita melihat para pemain menggunakan ban kapten khusus untuk menyuarakan hak-hak minoritas, suporter yang mengibarkan bendera solidaritas untuk bangsa yang tertindas, hingga aksi mogok/protes politik di atas lapangan.
Piala Dunia memberi mikrofon raksasa bagi mereka yang selama ini tidak terdengar.
Piala Dunia tidak pernah hanya soal bola yang menggelinding ke dalam gawang.
Piala Dunia adalah mikrokosmos dari dunia kita hari ini sebuah produk sejarah panjang kolonialisme yang kini bertransformasi menjadi panggung kapitalisme global.
Piala Dunia merayakan keindahan budaya sekaligus mengeksploitasinya; menawarkan solusi teknologi hijau sekaligus menyisakan jejak karbon yang masif; ia menyatukan umat manusia sekaligus menguji batas-batas moralitas dan kemanusiaan kita.
Menonton Piala Dunia dengan kesadaran sejarah dan kritis, membuat kita tidak hanya menjadi penonton yang bersorak saat gol tercipta, melainkan menjadi saksi yang tajam terhadap bagaimana peradaban manusia sedang bergerak.
Baca juga: Piala Dunia 2026, Candi di Jambi dan Piramida Meksiko, hingga Homo Ludens Sepak Bola
Baca juga: Piala Dunia 2026, Sepak Bola dan Pertarungan Legitimasi Politik Global