SURYA.co.id LAMONGAN - Sebuah inovasi menarik lahir dari lingkungan pendidikan di Kabupaten Lamongan.
SD Negeri Keting, Kecamatan Sekaran, berhasil mengubah lahan tidur yang sebelumnya terbengkalai dan dipenuhi semak belukar menjadi kawasan ketahanan pangan produktif yang mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pemanfaatan lahan seluas sekitar 100 meter persegi tersebut menjadi bukti bahwa lingkungan sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar mengajar, tetapi juga dapat menjadi pusat edukasi sekaligus penggerak ketahanan pangan masyarakat.
Di kawasan yang sebelumnya tidak termanfaatkan itu, kini berdiri berbagai sarana budidaya yang terintegrasi.
Mulai dari kolam budidaya udang vaname, kolam lele berukuran 3 x 6 meter, hingga sistem pertanian tumpangsari yang memadukan budidaya bawang merah dengan ikan nila dan ikan tombro.
Baca juga: Lapas Lamongan Suplai Selada Hidroponik untuk Program Makan Bergizi Gratis
Program tersebut dikembangkan sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menyokong kebutuhan bahan pangan bergizi untuk Program Makan Bergizi Gratis yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
Tak hanya menghasilkan komoditas pangan, kawasan budidaya itu juga dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bagi para siswa. Melalui konsep sekolah alam, peserta didik diajak mengenal secara langsung proses budidaya pertanian dan perikanan sejak usia dini.
Kepala SDN Keting, Siswo Handoko, mengatakan keberhasilan pengembangan kawasan ketahanan pangan tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari Koordinator Wilayah (Korwil) bidang pendidikan, komite sekolah, stakeholder pendidikan, hingga Pemerintah Desa Keting.
Menurutnya, kolaborasi yang terjalin menjadi faktor utama dalam mengubah lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi area yang memberikan manfaat bagi sekolah maupun masyarakat sekitar.
"Kami bersyukur mendapatkan dukungan penuh dari Korwil, stakeholder, komite sekolah, serta Pemerintah Desa Keting. Lewat kolaborasi ini, lahan yang tadinya terbengkalai kini berubah menjadi kawasan produktif yang sangat bermanfaat bagi sekolah dan siswa," ujar Siswo Handoko kepada SURYA.co.id, Selasa (2/6/2026).
Ia menjelaskan, selain mendukung program ketahanan pangan, keberadaan kawasan budidaya tersebut juga memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata kepada siswa.
Anak-anak tidak hanya mempelajari teori di dalam kelas, tetapi juga memahami langsung proses menanam, merawat, hingga memanen hasil pertanian dan perikanan.
Sementara itu, Kepala Desa Keting, Jauhri, mengapresiasi langkah inovatif yang dilakukan SDN Keting.
Menurutnya, pemanfaatan lahan tidur tersebut menjadi contoh positif bagaimana sinergi antara lembaga pendidikan dan pemerintah desa dapat menghasilkan program yang berdampak luas.
"Kami dari pemerintah desa sangat bersyukur karena lahan yang awalnya tandus dan berupa semak belukar kini bisa menjadi sangat produktif, " katanya.
Ke depan, program ketahanan pangan sekolah ini akan dikoneksikan langsung untuk memasok kebutuhan program Makan Bergizi Gratis, khususnya di wilayah Lamongan," kata Jauhri.
Ia menambahkan, pemerintah desa siap memberikan dukungan agar program tersebut dapat berkembang lebih luas dan berkelanjutan.
Hasil budidaya yang dihasilkan nantinya diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan sekolah, tetapi juga berkontribusi terhadap program ketahanan pangan desa.
Keberhasilan SDN Keting mengelola lahan tidak produktif menjadi kawasan budidaya terpadu dinilai sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dari tingkat lokal.
Langkah tersebut juga menunjukkan, sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya sektor pertanian dan perikanan.
Dengan adanya integrasi antara dunia pendidikan, ketahanan pangan, dan pemerintah desa, SDN Keting kini diproyeksikan menjadi percontohan bagi sekolah-sekolah lain di Lamongan maupun Jawa Timur.
Inovasi tersebut diharapkan mampu menginspirasi pemanfaatan lahan-lahan tidur menjadi kawasan produktif yang mendukung kemandirian pangan serta pemenuhan gizi masyarakat menuju terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.